Kenali Faktor Risiko Alergi dan Pencegahannya

  • Whatsapp
Risiko alergi
Ilsutrasi alergi

Jogjakeren – Alergi adalah suatu reaksi abnormal yang muncul dari sistem kekebalan tubuh kita sendiri karena bereaksi terhadap zat – zat yang ada disekitar kita, yang biasa disebut alergen. Pada saat tubuh mengalami alergi, atau orang yang mempunyai bakat alergi terpapar oleh alergen, sistem kekebalan tubuh akan menganggap alergen sebagai benda atau organisme yang berbahaya dan sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan.

Faktor Risiko Alergi

Alergi terbagi menjadi dua tipe yaitu alergi yang dipengaruhi oleh antibodi dan alergi yang diperantarai oleh sel – sel sistem imun. Alergi yang diperantarai oleh antibodi dibagi menjadi tipe alergi yang diperantarai Imunoglobulin -E dan non Imunoglobulin – E. Alergi yang diperantarai oleh Imunoglobulin – E dibagi lagi menjadi dua tipe yaitu Atopi dan non Atopi.

Non – Atopi meliputi reaksi alergi terhadap serangga, parasit dan obat – obatan. Sedangkan Atopi, sifatnya lebih kompleks karena berkaitan dengan kondisi genetik individu dan keluarga, yang membentuk Imunoglobulin – E sebagai suatu respon dari paparan suatu alergen dosis rendah.

Atopi atau bakat alergi pada seseorang akan muncul selain adanya faktor genetik, juga adanya faktor lingkungan yang mendukung. Faktor genetik berupa adanya kelainan pada  kromosom – kromosom tertentu. Faktor lingkungan meliputi adanya sensasi alergen memiliki saudara kandung sedikit, kebersihan berlebihan, mendapat antibiotic pada dua tahun awal masa kehidupan, dan tidak mendapat vaksin untuk pencegahan penyakit. Atopi dapat berubah menjadi alergi apabila terdapat gangguan pada organ target seperti sel dinding suara nafas, saluran cerna, atau kulit.

Jika kedua orangtua dan saudara kandung tidak memiliki alergi maka anak tersebut memiliki resiko alergi 5 – 15 %, jika dalam suatu keluarga salah satu saudara kandung positif alergi maka risiko alergi anak tersebut 25 – 30 %, Jika salah satu orangtua memiliki penyakit alergi maka risiko alergi yang diturunkan kepada anaknya sebesar 20 – 40 %, dan jika kedua orangtuanya memiliki riwayat alergi, maka risiko yang diturunkan kepada anaknya sebesar 40 – 60 %. Namun, risiko tersebut dapat meningkat menjadi 80 % apabila kedua orangtuanya memiliki penyakit alergi yang sama.

Strategi Pencegahan Alergi

Pencegahan yang dapat kita lakukan untuk mengurangi terjadinya alergi meliputi :

  1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer dilakukan sebelum terjadi sensitisasi (pembentukan zat imun atau antibodi yang disebut Imunoglobuli – E terhadap suatu rangsangan tertentu). Pencegahan primer meliputi :

  • Pemberian ASI
  • Pemberian susu formula jenis hidrolisat (bagi bayi yang tidak mendapat ASI)

Pencegahan primer dapat dilakukan dengan mengidentifikasi anak – anak yang berisiko memiliki alergi atau bakat alergi dengan melihat riwayat genetik keluarga. Faktor lingkungan yang mempengaruhi kehamilan maupun pasca melahirkan. Dan pembatasan diet pada ibu hamil dan menyusui tidak direkomendasikan.

  1. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder dilakukan apabila sensitisasi telah terjadi namun manifestasi penyakit alergi belum muncul.

  1. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier dilakukan apabila telah terjadi manifestasi klinis yang disebut juga sebagai pengobatan, yaitu tata laksana kegawatan sesuai dengan penyakit alergi yang muncul.

Dalam pencegahan alergi dikenal istilah window period dimana pada usia tertentu dapat dilakukan induksi toleransi. Induksi toleransi dilakukan pada usia 3 – 7 bulan yang bertujuan agar terhindar dari munculnya penyakit alergi dikemudian hari. Intervensi yang dapat dilakukan meliputi :

  • Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan
  • Pengoptimalan koalisi kuman dan pematangan usus
  • Paparan alergen
  • Pemberian asam lemak dan vitamin D
  • Penghindaran paparan asap rokok

 

Sumber : Prof. DR. Dr. Budi Setiabudiawan, Sp. A ( K ), M. Kes.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *