Yogyakarta, Jogjakeren.com – Di tengah masyarakat yang beragam, nilai toleransi beragama terus dijaga sebagai fondasi kehidupan bersama. Hal ini tercermin dari berbagai aktivitas keagamaan yang berlangsung dengan penuh harmoni di Kota Yogyakarta.
PC LDII Gondokusuman dan Umbulharjo menunjukkan contoh nyata bagaimana hubungan antarumat beragama dapat terjalin dengan baik. Melalui pendekatan kebersamaan dan saling menghormati, kegiatan keagamaan dapat berlangsung secara damai di tengah keberagaman.
Salah satu bukti nyata dari nilai toleransi tersebut terlihat dalam pelaksanaan salat Idul Fitri yang digelar di lingkungan SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, Sabtu (21/3). Kegiatan ini menjadi simbol kuat bahwa ruang kebersamaan antarumat beragama tetap terbuka dan terjaga.
Pelaksanaan ibadah berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan, sekaligus mencerminkan semangat saling menghargai antarwarga. Kehadiran berbagai elemen masyarakat juga memperlihatkan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Sekretaris DPW LDII DIY, Gatot Wardoyo. Ia menyampaikan pesan penting tentang penguatan nilai-nilai keimanan sebagai bekal menghadapi tantangan zaman.

Dalam khutbahnya, Gatot mengajak jamaah untuk mensyukuri kemenangan setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan. Ia menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum kembali kepada fitrah dengan meningkatkan kualitas ibadah.
“Ramadan telah kita lalui dengan penuh perjuangan. Hari ini adalah hari kemenangan yang harus kita syukuri dengan memperkuat keimanan dan ketakwaan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya tiga pilar utama dalam kehidupan beragama, yakni Iman, Islam, dan Ihsan. Menurutnya, iman menjadi dasar keyakinan, Islam sebagai wujud ketaatan dalam menjalankan syariat, dan Ihsan sebagai bentuk kualitas ibadah yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan pengawasan Allah.
“Ibadah tidak cukup hanya terlihat baik secara lahiriah, tetapi harus dilandasi keimanan dan dilakukan dengan keikhlasan,” jelasnya.
Dalam konteks kekinian, Gatot juga menyinggung kondisi global yang tengah bergejolak, termasuk konflik geopolitik dunia yang berpotensi berdampak pada krisis energi dan stabilitas sosial. Ia mengingatkan agar umat Islam tetap kuat secara spiritual dalam menghadapi situasi tersebut.
Selain itu, ia juga mengajak jamaah untuk meningkatkan kepedulian sosial, terutama terhadap korban bencana alam di wilayah Sumatera yang mengalami banjir besar pada akhir 2025 hingga awal 2026.
“Kita diajarkan untuk peduli terhadap sesama. Momentum Idul Fitri ini harus menjadi penggerak untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” tuturnya.
Mengakhiri khutbah, Gatot mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan nilai Iman, Islam, dan Ihsan sebagai benteng dalam menghadapi dinamika kehidupan, sekaligus mempererat persaudaraan. Ia pun menutup dengan ucapan, “Taqabbalallahu minna wa minkum, selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin”.
Salat Idul Fitri tahun ini dihadiri ratusan jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga lansia, yang mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh khusyuk.





