Hati-Hati Salaman Saat Lebaran, Kenali Lagi Siapa Mahrammu

Memaafkan
Ilustrasi bersalaman untuk saling memaafkan (Foto: halalmui.org)

Jogjakeren.com – Lebaran di Jogja itu selalu hangat. Mulai dari salat Id di lapangan, lanjut silaturahmi ke rumah keluarga, sampai keliling kampung sambil nyicip opor dan ketupat. Di momen seperti ini, satu hal yang hampir nggak pernah ketinggalan adalah salaman.

Ketemu saudara, tetangga, teman lama—refleks langsung jabat tangan sambil bilang, “mohon maaf lahir batin.” Rasanya tulus, hangat, dan sudah jadi tradisi.

Tapi di balik kebiasaan itu, ada satu hal yang kadang tanpa sadar terlewat: batasan mahram dalam Islam.

Read More
Siapa Saja Mahram Itu?

Secara sederhana, mahram adalah orang yang haram dinikahi. Mereka ini biasanya berasal dari hubungan keluarga dekat, seperti ibu, anak perempuan, saudara perempuan, bibi, hingga keponakan. Termasuk juga hubungan karena pernikahan, seperti ibu mertua, anak tiri, menantu, dan ibu tiri. Selain itu, ada juga mahram karena persusuan, misalnya ibu susu atau saudara sepersusuan.

Allah SWT berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ…

Artinya:
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara perempuanmu, bibi, keponakan, ibu susuan, dan seterusnya. (QS. An-Nisaa’: 23)

Yang Sering “Kejebak” Saat Lebaran

Dari ayat ini, kita bisa memahami bahwa mahram itu terbatas pada orang-orang tertentu. Selain mereka, berarti masuk kategori non-mahram, yang dalam interaksinya tetap harus dijaga.

Yang sering terjadi, justru kita merasa “sudah seperti keluarga”, padahal secara syariat bukan mahram. Misalnya sepupu yang sejak kecil akrab, teman sekolah yang sudah lama kenal, tetangga dekat yang tiap hari ketemu, atau bahkan ipar dalam keluarga.

Karena suasana Lebaran cair dan penuh keakraban, batas ini sering jadi kabur. Akhirnya salaman jadi hal yang dianggap wajar, padahal sebenarnya tetap perlu dijaga.

Di sinilah pentingnya memahami batas. Bukan untuk membatasi silaturahmi, tapi justru untuk menjaganya tetap sesuai dengan nilai yang diajarkan dalam Islam.

Apalagi di momen Lebaran, di mana interaksi terjadi lebih intens dari biasanya. Banyak orang berkumpul, suasana penuh kehangatan, dan semuanya serba spontan. Tanpa sadar, kebiasaan salaman dengan lawan jenis yang bukan mahram jadi hal yang dianggap biasa.

Padahal menjaga diri dari yang bukan mahram adalah bagian dari adab yang diajarkan dalam agama.

Silaturahmi Tanpa Sentuhan Fisik

Bukan berarti Lebaran harus jadi kaku atau kehilangan kehangatannya. Silaturahmi tetap bisa berjalan seperti biasa. Kita tetap bisa menyapa, tersenyum, tangkupkan kedua tangan di depan dada, dan saling mendoakan.

Ucapan sederhana seperti “taqabbalallahu minna wa minkum” tetap bisa disampaikan dengan penuh makna, tanpa harus bersentuhan.

Justru di situlah letak esensinya. Bahwa yang utama bukan jabat tangan secara fisik, tapi ketulusan hati dalam meminta dan memberi maaf.

Di Jogja, nilai-nilai seperti ini sebenarnya sangat dekat. Budaya unggah-ungguh, tata krama, dan rasa hormat sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menjaga batas dengan cara yang santun justru sejalan dengan itu.

Tidak perlu merasa canggung, apalagi menghakimi orang lain. Cukup mulai dari diri sendiri, pelan-pelan. Dengan cara yang halus, tapi tetap konsisten.

Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya soal kembali ke rumah, tapi juga kembali ke fitrah. Termasuk dalam hal menjaga diri dan menjalankan apa yang sudah menjadi tuntunan.

Jadi, saat silaturahmi nanti tetaplah hangat seperti biasanya. Tetap senyum, tetap saling memaafkan. Tapi ingat satu hal sederhana ini: kalau bukan mahram, berarti tidak perlu salaman.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *