Pengajian Disabilitas Tuli Perdana di Jogja–Jateng: Upaya Menguatkan Akses Ibadah bagi Komunitas Tuli

Pengajian Disabilitas Tuli
Pengajian Disabilitas Tuli se-Jogja dan Jawa Tengah untuk pertama kalinya digelar secara offline pada Minggu (30/11/2025) di Masjid As-Sakinah, Pogung Kidul, Sinduadi, Mlati, Sleman.

Sleman, Jogjakeren.com – Pengajian Disabilitas Tuli se-Jogja dan Jawa Tengah untuk pertama kalinya digelar secara offline pada Minggu (30/11/2025) di Masjid As-Sakinah, Pogung Kidul, Sinduadi, Mlati, Sleman. Kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas Generus Tuli se-Indonesia ini dihadiri oleh peserta dari berbagai wilayah, seperti Bantul, Wonosari, hingga Wonogiri. Meski memiliki keterbatasan pendengaran, semangat mereka untuk mengikuti kajian keagamaan tampak sangat kuat.

Selama ini, kegiatan pengajian yang benar-benar ramah bagi penyandang disabilitas tuli masih jarang ditemui. Banyak peserta mengaku kesulitan memahami kajian karena tidak adanya pendamping bahasa isyarat, minimnya pengajar yang memahami kebutuhan komunikasi mereka, atau lingkungan pengajian yang tidak menyediakan fasilitas visual yang memadai.

Kegiatan pengajian kali ini menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut. Bahasa isyarat digunakan sebagai media utama penyampaian materi, sehingga peserta dapat memahami isi kajian secara optimal. Para pengajar yang terlibat juga memiliki latar belakang Pendidikan Luar Biasa serta pernah mengikuti diklat mubaligh dan mubalighot di Ponpes Wali Barokah Kediri dan Ponpes Al Ubaidah Kertosono.

Read More

“Dengan kompetensi tersebut, kami berharap penyampaian materi Al Quran dan Al Hadist dapat diterima dengan baik oleh jamaah tuli,” ujar Anang, salah satu koordinator kegiatan.

Materi kajian yang dibahas mencakup pemahaman ayat Al Quran serta adab-adab dasar dalam Islam, seperti tata krama makan, minum, dan bersalaman. Bagi penyandang disabilitas tuli, proses memahami satu ayat Al Quran membutuhkan konsentrasi dan ketelitian yang tinggi. Sebab setiap konsep dan istilah harus diterjemahkan kembali dalam bahasa isyarat.

Namun, tantangan tersebut tidak mengurangi antusiasme peserta. Mereka mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian, mencatat gerakan isyarat baru, dan aktif bertanya melalui pendamping. Dedikasi itu mencerminkan keinginan kuat untuk memperoleh pemahaman agama yang utuh meski terdapat keterbatasan.

Kegiatan ini juga mendapat respons positif dari orang tua peserta. Banyak di antara mereka mengaku merasa lega melihat anak-anak mereka akhirnya memiliki wadah belajar agama yang sesuai kebutuhan komunikasi mereka.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara rutin agar pemahaman agama mereka tetap berkembang,” ujar salah satu orang tua.

Kutipan ini menggambarkan betapa pentingnya ruang ibadah inklusif bagi komunitas tuli. Selama ini, keterbatasan fasilitas dan minimnya kegiatan yang dapat diikuti dengan nyaman membuat sebagian penyandang tuli tertinggal dalam akses pendidikan agama.

Selain sebagai tempat belajar, pengajian ini juga menjadi ruang berkumpul bagi komunitas tuli lintas daerah. Peserta dapat saling bertukar pengalaman, memperluas jaringan pertemanan, dan memperkuat rasa kebersamaan dalam lingkungan yang memahami kebutuhan mereka.

Kegiatan ditutup dengan makan bersama di halaman masjid. Momen sederhana tersebut menjadi wadah interaksi sosial yang memperkuat nilai kekeluargaan dan memberikan pengalaman positif bagi seluruh peserta.

Penyelenggaraan Pengajian Disabilitas Tuli perdana ini menunjukkan bahwa akses ibadah yang inklusif bukan hanya memungkinkan, tetapi juga sangat dibutuhkan. Semangat para peserta dan dukungan orang tua menjadi pengingat bahwa pemenuhan hak beragama harus menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan pendengaran.

Inisiatif seperti ini diharapkan dapat terus berkembang di masa mendatang, sehingga semakin banyak penyandang disabilitas tuli yang dapat memperoleh ilmu agama secara layak dan setara.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *