Jogjakeren.com – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengeluarkan perintah tegas kepada militer untuk mempercepat pengembangan senjata nuklir. Keputusan ini datang sebagai respons langsung terhadap latihan perang gabungan yang digelar oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan. Kim menilai, latihan militer 11 hari dengan skenario menghadapi Korea Utara tersebut sebagai pemicu ketegangan yang serius.
Menurut laporan dari kantor berita resmi Korut, KCNA, Kim Jong Un menyatakan bahwa intensifikasi hubungan militer AS-Korsel merupakan manifestasi nyata dari keinginan mereka untuk memulai perang. Untuk menghadapi situasi ini, Kim menekankan perlunya “perubahan radikal dan cepat dalam teori dan praktik militer serta percepatan pengembangan nuklir.”
Latihan Militer AS-Korsel dan Respons Korea Utara
Latihan militer gabungan AS-Korsel, yang diberi nama Perisai Kebebasan Ulchi, berfokus pada skenario perang nuklir. Latihan ini juga mengevaluasi strategi dari konflik terkini, seperti Perang Ukraina-Rusia dan serangan Israel ke Iran. Para peserta latihan dilatih untuk mengantisipasi serangan siber, drone, hingga pencegatan sinyal GPS.
Korea Utara, seperti biasanya, menganggap latihan ini sebagai provokasi dan invasi ke Semenanjung Korea. Sebagai tanggapan, Korut biasanya merespons dengan menembakkan rudal. Namun kali ini, responsnya lebih tegas, yaitu dengan mengumumkan percepatan pengembangan senjata nuklir Korea Utara.
Peningkatan Kemampuan Militer Korea Utara
Para pengamat militer menilai, kemampuan militer Korea Utara terus meningkat secara signifikan, salah satunya berkat kerja sama dengan Rusia. Laporan dari media Australia, ABC, menyebutkan bahwa Korut mendapat suplai persenjataan dari Rusia sebagai imbalan atas pengiriman pasukan ke Ukraina.
Peningkatan ini mencakup kapabilitas pertahanan udara, sistem peringatan dini, dan teknologi baru untuk perang elektronik. Bahkan, Korut disebut telah memiliki kemampuan untuk mengembangkan rudal supersonik dan rudal antarbenua yang dapat membawa beberapa hulu ledak nuklir sekaligus. Laporan dari Federasi Ilmuwan Amerika Serikat pada tahun lalu menyebutkan Korut memiliki material untuk membuat hingga 90 hulu ledak nuklir dan telah membuat sekitar 50 di antaranya.
Sebagai bagian dari modernisasi militernya, Korut sedang membangun kapal perusak kelas Choe Hyon yang ketiga, yang direncanakan beroperasi pada Oktober 2026. Kapal ini akan dilengkapi dengan rudal jelajah berhulu ledak nuklir.
Sikap Korea Utara Terhadap Isu Nuklir
Kim Yo Jong, saudari Kim Jong Un, menegaskan bahwa Korut tidak akan melucuti kemampuan nuklirnya dan menolak segala upaya untuk mencegahnya menjadi negara berkekuatan nuklir. Ia menekankan bahwa Amerika Serikat harus menerima realitas baru bahwa Korut adalah kekuatan nuklir yang tidak dapat diabaikan.
Meskipun Korea Selatan menunjukkan niat untuk meredakan ketegangan, seperti yang disampaikan oleh Presiden Lee Jae-myung, langkah proaktif Korea Utara ini menunjukkan bahwa mereka memandang serius setiap ancaman, baik yang nyata maupun yang dianggap provokatif.





