Sleman, jogjakeren.com – Warga masyarakat Kalurahan Wonokerto menggelar tradisi “Merti Bumi” Guyub Rukun Mbangun Desa. Kegiatan tersebut berlangsung dari Sabtu, 26 Agustus hingga Jumat, 1 September 2023 di kompleks Kantor Kalurahan Wonokerto, Turi, Sleman.
Merti Bumi dalam Bahasa Indonesia berarti memelihara bumi atau aksi peduli lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan di bulan Sapar dalam perhitungan Tahun Jawa dan umumnya dilaksanakan sebelum masa panen.
Merti bumi merupakan kegiatan tahunan yang digelar oleh Kalurahan Wonokerto. Pada tahun ini, merti bumi dilaksanakan sebagai salah satu ciri Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, sebagai sarana mengungkapkan rasa syukur terhadap limpahan rahmat dan hasil bumi dari Tuhan YME. Maka mujahadah pengajian bagi umat Islam dan missa bagi umat Kristen juga turut menyertai rangkaian merti bumi ini.
Adapun prosesi puncak merti bumi terlaksana pada Jumat (1/9/2023) ditandai dengan prosesi arak-arakan 4 penjuru, umbul dongo, sabdo tomo, rayahan uluwetu, andrawinan dan penampilan tari golek ayun-ayun serta tari sekar wono.
Tradisi tahunan ini juga menampilkan potensi budaya dan potensi usaha yang ada di wilayah Wonokerto. Potensi budaya yang turut memeriahkan adalah seni pertunjukan dari masing-masing padukuhan di Wonokerto di antaranya pertunjukan seni kubro siswo, jathilan, congdut dan badui.
Sedangkan potensi usaha diramaikan oleh berbagai Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM), Kelompok Siaga Bencana (KSB) dan organisasi masyarakat lainnya. Selain itu, 22 satuan pendidikan di lingkup Wonokerto juga menunjukkan kemampuan seninya dalam pentas potensi sekolah.

Salah satu organisaasi masyarakat yang berpartisipasi aktif adalah LDII. LDII turut memeriahkan kegiatan merti bumi dengan mendirikan stand Bazar Shodaqoh Jariyah. Agus Kurniawan selalu Koordinator Stand Bazar LDII mengungkapkan harapannya dengan ikut memeriahkan kegiatan merti bumi.
“Termasuk harapan LDII mengikuti kegiatan tersebut adalah untuk membuat masyarakat luas bisa mengenal lebih dekat dengan keberadaan LDII sebagai organisasi keagamaan yang peduli lingkungan dan mengutamakan budi pekerti luhur,” ujarnya.
Stand bazar ini sepenuhnya merupakan hasil gotong royong dan kerja sama warga LDII dengan menjual pakaian layak pakai. Animo dan minat masyarakat sangat baik, terlihat bahwa stand tersebut ramai dikunjungi masyarakat. Harga yang ditawarkan juga super murah mulai Rp5.000 saja.
Agus Kurniawan juga melaporkan hasil pendapatan yang diperoleh yaitu sebanyak 7 juta rupiah. “Alhamdulillah banyak pihak yang turut membantu dengan suka rela, termasuk semua panitia semangat beramal sholih dalam acara ini,” ujarnya. Seluruh hasil penjualan yang didapatkan tersebut nantinya akan diperuntukkan sebagai amal jariyah masjid.





