Jogjakeren – Agrowisata kelengkeng yang terletak di Dusun Sanggrahan, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden kini telah dikembangkan budidaya lebah klanceng yang terkenal akan sejuta manfaatnya. Madu Klanceng merupakan jenis madu yang dihasilkan oleh lebah yang berjenis genus Trigona.
Budidaya lebah klanceng termasuk usaha yang prospektif seiring dengan berkembangnya kepedulian terhadap kesehatan tubuh untuk dikonsumsi sehari-hari. Terlebih di masa pandemi seperti ini, madu sangat dibutuhkan untuk menjaga imun dan daya tahan tubuh manusia.
Tepatnya di halaman belakang area agrowisata, terdapat ratusan stup yang berisi ratu, koloni dan telur lebah klanceng. Budidaya lebah jenis ini memerlukan lingkungan yang mendukung yakni ketersediaan bunga di sekitar sarang sebagai sumber pakannya.
Menurut salah satu pembudidaya lebah klanceng, Sunarto, lebah klanceng yang terdapat di Agrowisata Kelengkeng sudah berusia puluhan tahun dan tetap produktif hingga sekarang. Sunarto juga menuturkan bahwa madu klanceng yang diproduksi oleh Agrowisata Kelengkeng berbeda dengan madu jenis lain yang kebanyakan memiliki rasa manis, Madu Klanceng cenderung memiliki rasa yang sedikit asam bahkan ada yang sedikit pahit. Selain itu, madu jenis ini juga lebih encer dibandingkan dengan jenis madu yang banyak terdapat di toko-toko maupun petani madu pada umumnya.

Madu klanceng dapat dipanen setelah tiga hingga empat bulan lebah menghuni sarangnya. Pemanenan dilakukan secara manual dengan memeras dan menyaring kantung madu yang telah dikumpulkan koloni lebah tanpa mengganggu telur, tawon pekerja dan ratu. Dari segi harga, madu klanceng lebih mahal dibanding madu murni pada umumnya karena hasil produksi dari lebah Trigona ini tidak berlimpah, “Satu botol madu klanceng murni ukuran 100 ml dijual dengan harga Rp80.000,” kata Sunarto.





