Direktur Pasca Sarjana UST: Keberanian dan Budi Pekerti Ki Hajar Dewantara

budi pekerti
Pemaparan materi oleh Prof. Dr. Ki Supriyoko, M.Pd. tentang Ki Hajar Dewantara, Sabtu (31/7/2021)

Jogjakeren – Direktur Pasca Sarjana Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Prof. Dr. Ki Supriyoko, M.pd. menjadi narasumber dalam Focus Group Discussuion (FGD)-2 Pra Muswil VII DPW LDII DIY secara daring, Sabtu (31/7/2021).

FGD-2 yang mengangkat tema “Penguatan Pendidikan Karakter untuk Menyongsong Generasi Emas 2045” ini Prof. Ki Supriyoko menceritakan sosok Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara merupakan pakualaman yang sejak muda dititipkan di salah satu pesantren di Kalasan. Kiainya bernama Sulaiman Jaenudin.Ia termasuk santri yang cerdas sehingga ia dijuluki “Jemblug Trunogati”. “Secara fisik Ki Hajar orangnya biasa saja, tetapi beliau mempunyai kecerdasan yang luar biasa,” ujar Prof. Ki Supriyoko.

Read More

Saat itu, penjajah Belanda ingin memperingati kemerderkaan Belanda dari penjajahan Prancis. Penjajah Belanda memperingatinya di Indonesia dengan biaya dari rakyat Indonesia.

Selanjutnya, pada tanggal 13 Juni 1913 ia menulis di majalah De Expres dengan judul Als Ik Eend Nederland Was (Seandainya Aku Seorang Belanda). “Maka dengan segala keberaniannya, Ki Hajar Dewantara menulis artikel yang akhirnya terkenal di seluruh dunia,” kata Prof. Ki Supriyoko.

Dengan artikel yang beredar tersebut, Ki Hajar Dewantara dengan dua temannya yaitu Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ernest Douwes Dekker akhirnya diasingkan. Awalnya Ki Hajar Dewantara akan dibuang di Bangka, Tjipto Mangoenkoesoemo di Banda Neira, dan Ernest Douwes Dekker di Kupang. Namun, akhirnya ketiganya dibuang di Belanda.

Ki Hajar Dewantara menngedepankan budi pekerti sesuai dengan perintah dan larangan di dalam Alquran. “Alquran itu kalau diperas, maka salah satu perasannya itu budi pekerti,” tutur Prof. Ki Supriyoko.

Ki Hajar Dewantara tidak mengharuskan karakter berada di Tri Sentra Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah atau perguruan, dan masyarakat. Sementara Prof. Ki Supriyoko menegaskan bahwa karakter itu bukan teori, melainkan praktik.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *