GKR Bendara: Budaya dan Karakter Berawal dari Keluarga

Pendidikan Karakter
GKR Bendara saat menjadi narasumber FGD-2 Pra Muswil VII DPW LDII DIY, Sabtu (31/7/2021)

Jogjakeren – Focus Group Discussion (FGD)-2 menuju Muswil VII dilaksanakan secara daring oleh DPW LDII DIY diikuti DPD LDII Kabupaten/Kota se-Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (31/7/2021).

Kegiatan tersebut dihadiri sekaligus memberikan materi di antaranya Kepala Dinas Dikpora DIY Didik Wardaya, S.E., M.Pd., Pengageng Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Nitya Budaya Kraton Yogyakarta Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Direktur Pascasarjana Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Prof. Dr. Supriyoko, M.Pd., serta Ketua DPP LDII Dr. Drs. Basseng, M.Ed. dan Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan, Thonang Efendi, S.T.P.

Dalam sambutanya, Ketua DPW LDII DIY Dr. Wahyudi, MS menyatakan dalam menyongsong banjirnya generasi emas di tahun 2045 LDII perlu mempersiapkan generasi yang berkarakter berbudi luhur.

Read More

Menurutnya, karakter-karakter yang mendukung terwujudnya tri sukses pembinaan generasi sehingga dapat menjadikan generus alim faqih tentunya faham agama, memiliki akhlaqul karimah dan berbudi pekerti yang luhur.

“Arus globalisasi telah membawa pengaruh semakin menipisnya etika sopan santun dan merosotnya rasa hormat terhadap orang tua, murid kepada gurunya dan masih banyak contoh perubahan karakter generasi pada zaman global ini. Sementara generasi harus memiliki keterampilan untuk bisa hidup mandiri sehingga mendapatkan hasil sebagai modal untuk memperjuangkan hidup dan kehidupanya kelak,” tuturnya.

Budaya dan Karakter Berawal dari Keluarga

Sementara GKR Bendara mengapresiasi kegiatan ini, “Sangat bermanfaat sekali apa lagi sangat erat hubungannya dengan budaya dan karakter generasi muda sekarang ini,” katanya.

Dicontohkan oleh Kanjeng Ratu, budaya berawal dari keluarga yaitu dengan pentingnya budaya lokal. “Budaya itu tidak ada yang kuno hanya saja bungkusnya yang kuno. Contohnya unggah ungguh yang dilakukan oleh anak muda ketika menaiki sepeda tinggi kemudian ada orang tua lewat anak muda turun dari sepeda tinggi dan mengucapkan nderek langkung, itu merupakan suatu karakter atau unggah-ungguh dalam berbudaya pergaulan,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, termasuk dengan bahasa, “Semua daerah mempunyai ragam budaya dan bahasa yang perlu dilestarikan termasuk ritual-ritual kebudayaan,” imbuhnya.

Dicontohkan di Jogja ada tingkatan bahasa terhadap orang tua seperti bahasa jawa kromo, ngoko dan kromo inggil, sedangkan tata krama atau unggah-ungguh dibangun untuk menempatkan seseorang pada posisi dirinya.

GKR Bendara mengungkapkan, untuk mempersiapakan generasi emas di tahun 2045 yang pertama adalah tumbuh kembang anak di seribu hari pertama. “Itu menjadi kewajiban ibu dan bapak sebagai orang tua tidak berat sebelah harus dua-duanya bekerja sama,” ungkapnya.

Sebelum hamil seorang ibu harus terpenuhi vitamin asam folat, “Diibaratkan kalau membuat roti harus terpenuhi dulu unsur yang harus dalam membuat roti agar roti tidak menjadi bantat, begitu juga si ibu hamil harus terpenuhi gizi dan asupan vitaminnya agar anak di dalam kandungan bertumbuh dengan baik tidak tumbuh stunting,” jelasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *