Jogjakeren.com – Umat Islam sebagai umat terbanyak di Indonesia mempunyai posisi strategis dalam pembangunan nasional. Lingkungan strategis juga menuntut ormas Islam harus lebih kontributif. Atas dasar itu, Partai Golkar kembali mendorong aktivitas dakwah Majelis Dakwah Islamiyah (MDI).
“Tantangan bangsa kian besar dalam menghadapi ideologi transnasional. Sementara di dalam negeri masalah ekonomi juga menjadi tantangan umat Islam,” ujar politisi Golkar Singgih Januratmoko.
Ia melihat MDI memiliki peran besar dalam dakwah pada masa Orde Baru dan mampu melewati era Reformasi. Kebangkitan MDI diharapkan mampu menjawab tantangan yang dihadapi bangsa dalam bidang ekonomi dan penguatan karakter bangsa.
Setelah beberapa tahun vakum, MDI melaksanakan Muktamar Luar Biasa pada 26-27 Maret di Hotel Grandhika Kebayoran Jakarta. Menurut Singgih, kebangkitan MDI merupakan program Ketua Umum DPP Golkar. “Setelah beberapa organisasi sayap vakum, Ketua Umum Erlangga Hartarto, menghidupkan kembali untuk lebih dekat dan memahami problematika masyarakat,” ujar Singgih.
MDI diharapkan dapat menjaga serta membangun Indonesia ke depan. Terutama masalah kebangsaan, yang kini menghadapi radikalisme dan nasionalisme sempit, yang mementingkan kelompok atau golongan, “MDI harus bisa tampil dalam menjaga Pancasila dan UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI tetap lestari,” imbuhnya.
Muktamar Luar Biasa MDI mengagendakan pengesahan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta pemilihan ketua umum, diikuti oleh 70 peserta yang terdiri dari 34 utusan Majelis Pimpinan Wilayah seluruh Indonesia, peninjau serta pengurus pusat.
Dengan mengusung tema, ‘Revitalisasi Peran MDI Dalam Peningkatan Kualitas Dakwah dan Pemberdayaan Ekonomi Umat,’ Muktamar Luar Biasa MDI dibuka oleh Sekjen Partai Golkar, Lodewijk F Paulus mewakili ketua umum Erlangga Hartarto.
Dalam sambutannya, Lodewijk F Paulus berharap, dengan diaktifkannya lagi MDI ini, akan menjadi mesin suara bagi Partai Golkar, karena untuk tahun politik 2024 nanti, Golkar menargetkan 115 kursi anggota legislatif, dan 60 persen Pimpinan Daerah.
“MDI salah satu organisasi yang dibentuk oleh Golkar, jika MDI bisa eksis tentu ini harapan yang bagus di samping bisa berdakwah,” ujarnya. Ia berharap MDI juga bisa sebagai pengkaderan, untuk memenuhi target Ketua Umum Golkar, yang menargetkan 115 kursi anggota legislatif bisa terpenuhi, dan memenangi 60 persen Pilkada.
Pembukaan Muktamar Luar Biasa MDI diikuti oleh perwakilan 34 provinsi. Usai pembukaan, Muktamar Luar Biasa MDI dilanjutkan dengan persidangan-persidangan untuk membahas agenda utama, yakni pengesahan perubahan AD ART dan pemilihan ketua umum.
Pada sesi pemilihan ketua umum, KH. Chaerul Anam Plt. Ketua Umum MDI, akhirnya terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum MDI untuk periode kepengurusan 2022-2027. Dengan demikian maka MDI yang setelah 6 tahun vakum, kini bangkit kembali.
Sementara itu, KH. Chaerul Anam, Plt Ketua Umum MDI yang terpilih menjadi Ketua Umum MDI pada Muktamar Luar Biasa tersebut dalam pidato perdananya berjanji akan membawa MDI sebagaimana khitahnya, yakni berdakwah.
“Pada era modernisasi globalisasi, dakwah sudah harus bisa mengikuti perkembangan, MDI ke depan akan menjadi ormas yang bisa menciptakan dai-dai pembangunan dan moderasi di setiap daerah,” imbuhnya.
Ia menargetkan, minimal akan ada satu dai di setiap kampungnya, dengan menargetkan dakwah terutama para generasi milenial, “Sehingga mereka akan mengenal MDI. Di era digitalisasi ini, dakwah yang akan kami lakukan juga dengan memanfaatkan media yang ada,” harapnya.





