Hadirkan Tokutei Ginou, Siswa IMBS Antusias Gali Pengalaman Kerja di Jepang

SMA IMBS
SMA IMBS Yogyakarta mengundang seorang Tokutei Ginou, Thohir Ajad Sudrajat untuk memberikan wawasan para siswa tentang bekerja di Jepang.

Sleman, Jogjakeren.com – Belajar bahasa Jepang di SMA Insan Mulia Boarding School  Yogyakarta tak hanya belajar keterampilan bahasa yang meliputi menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Namun juga belajar mengenal budaya Jepang termasuk budaya kerja di Jepang.

Oleh karena itu seorang pekerja Tokutei Ginou (TG) yang masih aktif, Thohir Ajad Sudrajat dihadirkan di kelas bahasa Jepang pada Jumat (12/9). Tokutei ginou adalah program pemerintah Jepang yang menawarkan status kependudukan dan hak kerja bagi tenaga kerja asing yang memiliki keterampilan khusus di berbagai bidang industri, seperti pertanian, peternakan, konstruksi, perawatan lansia, dan lain-lain.

Program ini bertujuan untuk mengisi kekurangan tenaga kerja di Jepang dan memberikan kesempatan kepada pekerja asing untuk tinggal dan bekerja di Jepang dengan hak yang setara dengan pekerja lokal. 

Read More

“Saya memulai karir dengan menjadi Kenshusei yakni pekerja asing yang magang di perusahaan Jepang. Setelah menuntaskan kenshuseinya selama 3 tahun, saya memilih melanjutkan dengan mendaftar jalur TG,” ujar Thohir yang tengah menikmati liburan tenggat waktu ini.

Ia menambahkan, dibandingkan Kenshusei, TG memiliki keunggulan yakni lama tinggal bisa sampai 5 tahun dan gajinya lebih besar.  Alumni SMK Negeri 9 Surakarta ini termotivasi bekerja di Jepang karena ingin mendapatkan pengalaman kerja dan mewujudkan cita-citanya menjadi aghnia. Dia juga ingin menabung yang banyak dalam waktu dekat.

SMA IMBS
Siswa XA Belajar dengan seorang pekerja Tokutei Ginou Jepang

“Jika ingin bekerja di Jepang, ada dua jalur yakni jalur IM Japan kerjasama dengan kemenaker RI  dan jalur swasta. Adapun prosesnya meliputi pendaftaran berbagai tahapan seleksi seperti tes fisik, wawancara, dan kesehatan, lalu pembekalan dan pelatihan di Indonesia, sebelum akhirnya diberangkatkan ke Jepang untuk pemagangan,” jelasnya. 

Pada sesi tanya jawab, Febrian Angling Kusuma menanyakan pekerjaan apa yang dilakukan di Jepang. Thohir menjawab dulu ketika masih menjadi kenshusei ia bekerja di manufaktur industri perakitan mesin kapal boat. Namun setelah naik kelas menjadi TG ia sudah memiliki skill bahasa yang jauh lebih tinggi yakni selevel N2 sehingga ia bisa memilih mau bekerja di mana saja.

“Saya akhirnya memilih bekerja di industri pengolahan makanan yang memproduksi bento, soba, pasta, udon, dll. Di sini pekerjaannya lebih ringan dan gaji lebih besar. Saat menjadi kenshusei hanya mampu saving 5 juta per bulannya sedangkan saat TG mencapai  10 juta,” ujarnya. 

Sementara M. Izza Excel Al Firdaus penasaran dengan biaya hidup di Jepang? “Apakah  biaya hidup di Jepang  mahal? tanyanya. Thohir menggambarkan, saat ini harga beras kemasan 10 kg 8.500 yen atau sekitar 850.000 rupiah.

“Padahal dulu tahun 2015 kisaran 3.500 yen. Kenaikan sangat tajam. Pajak penghasilan juga tinggi mencapai 7-10 persen,” katanya.

Menurut Thohir, jika ingin hemat maka harus rajin memasak. Dengan memasak sendiri, bisa lebih terjamin kehalalan dan lebih irit. “Bayangkan harga 1 piring nasi ayam di luar 1.500 yen setara dengan 150.000 rupiah sekali makan,” cerita Thohir. 

SMA IMBS
Thohir Ajad Sudrajat menjelaskan tentang seluk beluk kerja di Jepang

Sedangkan Arkan Rasyid Aditya menanyakan tentang visa issued. “Jika sudah habis masa kontraknya lalu bagaimana?” Thohir mengatakan, untuk kenshusei wajib pulang. Namun TG ada dua pilihan bisa langsung pulang atau memperpanjang. Bisa memperpanjang lima tahun bahkan sampai 10 tahun. 

Selanjutnya Thohir pun memberi wawasan selain bekerja juga sangat mungkin untuk belajar di Jepang. Pilihan awal adalah belajar di Nihon go gakko selama 1-2 tahun lalu lanjut kuliah dengan memilih senmon atau jurusan kuliah yang diinginkan.

Disebutkan juga bahwa ada satu profesi istimewa yang bisa memperoleh visa tinggal di Jepang selamanya (permanent resident ) yaitu profesi perawat. Tentunya jika lulus ujian sertifikasi perawat atau dikenal dengan istilah kaigo fukushi.

Kaigo Fukushi adalah sebutan untuk perawat lansia bersertifikasi negara di Jepang, sebuah profesi yang diakui secara resmi setelah lulus ujian nasional. Profesi ini memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mendalam untuk mendukung kehidupan lansia sehari-hari, menjaga martabat, dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Pekerjaan ini sangat dihormati di Jepang karena budaya masyarakat yang menghargai orang tua. 

Mengakhiri berbagi pengalamannya, Thohir menekankan bahwa masih banyak peluang untuk bekerja maupun belajar di Jepang. Penguasaan bahasa Jepang mampu meningkatkan level seorang pekerja maupun pelajar.  Selain itu kesempatan untuk syiar agama Islam masih terbuka lebar dan bisa mewujudkan diri  menjadi mubaligh yang aghnia. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *