Oleh dr. Muhammad Fathi Banna Al-Faruqi, AIFO-K
Petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKPPJH) Sektor 1 Daerah Kerja Bandara
Jogjakeren.com – Aktivitas di Tanah Suci selama musim haji dikenal sangat padat dan menguras energi. Baik jemaah maupun petugas dihadapkan pada jadwal yang ketat, mobilitas tinggi, serta waktu istirahat yang terbatas. Dalam kondisi seperti ini, jaga stamina bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan utama agar tetap prima hingga puncak ibadah haji.
Dokter RS Islam Yogyakarta sekaligus dosen FK UII Yogyakarta, Muhammad Fathi Banna Al-Faruqi, menjelaskan beberapa strategi bagi jemaah maupun petugas agar disiplin dalam mengelola tenaga.
Kelelahan yang dibiarkan menumpuk dapat menurunkan daya tahan tubuh secara signifikan. Dampaknya tidak sepele, mulai dari tubuh yang mudah terserang penyakit, kesulitan berkonsentrasi, hingga munculnya disorientasi atau kebingungan. Bahkan, kondisi emosional pun bisa terganggu, ditandai dengan mudah marah atau tidak stabil.
Untuk itu, diperlukan strategi sederhana namun disiplin dalam mengelola energi. Salah satu cara efektif adalah memanfaatkan waktu istirahat singkat atau qailulah. Tidur selama 15–30 menit, terutama sebelum atau setelah dzuhur, terbukti mampu memulihkan energi lebih baik dibandingkan tidur lama yang tidak berkualitas.
Selain itu, konsumsi kopi dan teh perlu dibatasi. Kedua minuman ini bersifat diuretik yang dapat mempercepat keluarnya cairan tubuh, sehingga berisiko menyebabkan dehidrasi. Jika tetap dikonsumsi, sebaiknya diimbangi dengan air putih dalam jumlah lebih banyak, minimal tiga kali lipat.
Asupan nutrisi juga tidak boleh diabaikan. Makan tepat waktu saat makanan tersedia menjadi kunci untuk menjaga “bahan bakar” tubuh. Menunda makan atau terlalu memilih jenis makanan justru bisa berdampak pada penurunan energi.
Pengaturan ritme aktivitas juga penting. Jemaah disarankan menghindari aktivitas berat di siang hari, seperti ziarah atau belanja. Sementara itu, petugas diimbau mengurangi gerakan yang tidak perlu di bawah terik matahari. Berjalan dengan kecepatan stabil dan tidak tergesa-gesa dapat membantu menghemat energi.
Tak kalah penting, setiap individu harus peka terhadap sinyal tubuh. Rasa lelah berlebih, sulit fokus, atau emosi yang mulai tidak stabil merupakan tanda bahwa tubuh membutuhkan istirahat. Segera cari tempat teduh, minum air, dan beri waktu sejenak untuk memulihkan diri.
Pada akhirnya, energi harus disimpan untuk menghadapi fase terpenting dalam ibadah haji, yaitu di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Mengurangi aktivitas yang tidak mendesak menjadi langkah bijak agar kondisi fisik tetap optimal dan jaga stamina.
Haji adalah ibadah yang menuntut kesiapan fisik dan mental. Istirahat yang cukup bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari ikhtiar. Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, juga turut mengemban amanah sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 H ini. Atus mengungkapkan bahwa dengan pengelolaan energi yang baik, jemaah dan petugas dapat menjalankan tugas dan ibadah secara maksimal hingga akhir.





