Lebaran Nggak Cuma Seru, Yuk Hidupkan Sunnah di Hari Idulfitri

Idul Fitri
Ilustrasi Idul Fitri (Sumber : pngtree)

Jogjakeren.com – Menjelang Lebaran, vibes Jogja selalu beda. Mulai dari jalanan yang makin ramai, pusat oleh-oleh yang padat, sampai obrolan “mudik kapan?” yang berseliweran di mana-mana. Tapi di balik semua keseruan itu, ada hal yang nggak kalah penting: amalan sunnah di hari Idulfitri yang bisa bikin momen ini jadi lebih bermakna.

Biar nggak cuma jadi hari seru-seruan dan foto-foto OOTD, yuk ingat kembali lagi dengan beberapa sunnah Nabi yang bisa kita hidupkan di hari raya ini.

1. Mandi sebelum berangkat salat Id

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
رواه مالك في الموطأ

Read More

Artinya:
Dari Nafi’, sesungguhnya Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat menuju tempat salat. (HR. Malik)

2. Memakai pakaian terbaik

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَلْبَسُ فِي الْعِيدَيْنِ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ
رواه البيهقي

Artinya:
Dari Nafi’, sesungguhnya Ibnu Umar memakai pakaian terbaiknya pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). (HR. Baihaqi)

3. Memakai wewangian

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِيَ لَوْنُهُ، وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِيَ رِيحُهُ
رواه النسائي

Artinya:
Rasulullah SAW bersabda: wangi-wangian laki-laki adalah yang tercium aromanya dan tidak tampak warnanya, sedangkan wangi-wangian perempuan adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium aromanya. (HR. Nasa’i)

4. Makan sebelum berangkat salat Id (khusus Idul Fitri)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ، وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ
رواه الترمذي

Artinya:
Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: Nabi SAW tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga beliau makan terlebih dahulu, dan tidak makan pada hari Idul Adha hingga selesai salat. (HR. Tirmidzi)

5. Mengumandangkan takbir dan tahlil

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْعِيدِ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ
رواه البيهقي

Artinya:
Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah SAW keluar pada hari raya sambil mengeraskan suara dengan tahlil dan takbir. (HR. Baihaqi)

6. Saling mendoakan di hari raya

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Artinya:
Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kalian.”

Ucapan ini sudah jadi tradisi hangat yang bukan sekadar formalitas, tapi doa yang penuh makna.

7. Menyambung silaturahmi

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
رواه البخاري

Artinya:
Rasulullah SAW bersabda: barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi. (HR. Bukhari)

Di Jogja, tradisi ini sebenarnya sudah hidup banget. Mulai dari salat Id di lapangan kampung, halal bihalal, sampai keliling kampung atau sowan ke rumah keluarga—semuanya jadi momen yang hangat dan penuh makna.

Di akhir, Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, dalam salah satu wawancaranya menyampaikan bahwa hari raya bukan hanya soal perayaan, tapi momentum untuk menghidupkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjalankan sunnah di hari Idulfitri, hari raya ini bisa jadi lebih dari sekadar tradisi—tapi juga jadi jalan untuk memperkuat keimanan dan tentunya berpahala.

Jadi, Lebaran tahun ini… kamu mau sekadar merayakan, atau sekalian menghidupkan sunnah?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *