Jogjakeren.com – Isu mengenai lingkungan sampai saat ini masih menjadi sorotan, terutama mengenai permasalahan sampah. Mengatasi hal tersebut, Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya warga Kota Yogyakarta diimbau dan harapanya mau melakukan penataan pola hidup di lingkungan, memilah sampah di rumah tangga masing-masing melalui gerakan zero sampah anorganik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Yogyakarta Dr. Ir. Kuncoro Cahyo Aji, M.Si. menjelaskan ketika melakukan diskusi di Kantor DPRD DIY beberapa waktu lalu mengatakan bahwa sampah itu akan menjadi sampah apabila dibuang, “Supaya tidak menjadi sampah maka harus dipilah diusahakan dan disesuaikan dengan kelompoknya. Ini bisa dilakukan di rumah masing-masing, karena saat ini yang terjadi di masyarakat kebanyakan hanya memindah sampah bukan memilah sampah,” jelasnya.
Menurutnya, nilai penting yang perlu diperhatikan dalam gerakan zero sampah anorganik adalah perubahan mindset masyarakat mengenai pemilahan sampah, sehingga diharapkan masyarakat dapat terbiasa untuk memilah sampah dengan mandiri. “Berdasarkan data DLH Kota Yogyakarta, dengan berjalannya gerakan pilah sampah mandiri jumlah sampah di depo mampu turun sebanyak 18 ton/hari, sedangkan berdasarkan data DLHK DIY jumlah sampah yang masuk di TPA Piyungan pada bulan Desember 2022 sebanyak 309 ton, setelah ada pemilahan turun menjadi 267/ton,” ungkapnya.
Selain itu, Kuncoro menjelaskan bahwa mayoritas sampah yang masuk adalah sampah sisa makanan, baik itu food loss ataupun food waste dapat diatasi dengan food recovery hierarchy. “Pengelolaan sampah makanan harus dibarengi dengan sikap mindfull eating, namun apabila kita sudah terlanjur membeli bahan makanan, untuk menghindari food loss maka kita bisa menggunakan metode FIFO atau first in first out,” jelas Kuncoro.
Dalam diskusi, Kuncoro berharap supaya masyarakat harus lebih sadar untuk memilah sampah, karena tindakan pilah sampah merupakan salah satu bagian dari kecerdasan ekologi.
Sementara itu Ketua DPRD DIY Nuryadi menambahkan, “Sampah itu diproduksi setiap warga negara, sehingga warga harus bisa memilih dan memilah,” ujarnya.





