MUI-KLHK Apresiasi LDII-WCDI dalam Lestarikan Bumi

LDII
Santriwati Pondok Pesantren Mahasiswa Ar Royan Baitul Hamdi reresik lingkungan di Sidobali Yogyakarta, memilah sampah dan mengolahnya.

Jogjakeren.com – Menyukseskan World Cleanup Day (WCD) 2021, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DIY menggelar kampanye door to door “Pilah Sampah dari Rumah”, 19-24 September 2021. Edukasi dan aksi ini menyasar setiap warga agar dapat memilah sampah rumah tangga dan musala/masjid untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan global.

Ketua Lembaga Pemulihan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH SDA MUI), Dr. Ir. H. Hayu S. Prabowo mengapresiasi LDII sebagai ormas Islam yang peduli dengan persoalan lingkungan hidup, Minggu (19/9/2021). Selain memiliki perhatian besar terhadap lingkungan hidup, menurut Hayu LDII selalu berkomitmen dan istiqomah dengan agenda pelaksanaannya.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2020 mencatat 54 persen sampah plastik masih terbuang di lingkungan, termasuk mencemari air. Hayu pun menyayangkan perilaku warga yang membuang sampah sembarangan, lebih-lebih di tempat berair, baik selokan, sungai, maupun laut. Menurutnya, dosa apabila membuang sampah di air.

Read More

“Ada hadist Rasulullah SAW yang menyatakan ‘Takutlah pada tiga tempat yang dilaknat. Membuang kotoran pada sumber air yang mengalir, di jalan dan di tempat berteduh.’ Kita lihat bagaimana sampah-sampah kita di sungai. Itu adalah dosa yang nanti bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Hayu.

LDII
Santriwati Pondok Pesantren Mahasiswa Ar Royan Baitul Hamdi Yogyakarta saat menjalankan piket bersih-bersih lingkungan, lalu memilah dan mengolah sampah.

LPLH SDA MUI memandang beban TPS saat ini sudah sangat berat, sehingga pengelolaan sampah di Indonesia memerlukan paradigma baru. Indonesia seharusnya mengubah kebiasaan warga dengan memulai memilah sampah dari rumah. Hal ini sudah sesuai dengan fatwa MUI Nomor 47 tahun 2014 mengenai pengelolaan sampah untuk mencegah kerusakan lingkungan. Salah satu isinya, setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, menghindari perbuatan tabzir dan isrof, serta memanfaatkan barang yang masih dapat digunakan demi kemaslahatan umat.

“Muara daripada sampah adalah perilaku kehidupan kita semuanya. Perilaku sebagai sumber sampah. Jadi bagaimana kita mengurangi tumpukan sampah, lalu memilahnya agar sampah yang masih bisa digunakan kita manfaatkan kembali,” pintanya.

Adapun pengertian ‘tabzir’ dan ‘isrof’ acap kali telah disampaikan kepada warga LDII dalam pengajian alquran dan alhadits, serta nasehat. Tabzir merupakan perilaku menyia-nyiakan barang atau harta yang masih bisa dimanfaatkan berdasarkan aturan syariat atau kebiasaan umum di dalam masyarakat. Sedangkan ‘isrof’ adalah berlebih-lebihan saat menggunakan barang atau harta, sehingga menjadi sumber dari timbulnya permasalahan sampah.

Gerakan World Cleanup Day Indonesia (WCDI) 2021 bersama Warga LDII dihadiri pula Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dr. Ir. Novrizal Tahar, IPM. dan Ketua WCDI, Agustina Iskandar. Mereka pun sangat menghargai langkah LDII mendorong warganya memilah sampah dari rumah.

Novrizal selaku perwakilan KLHK menyampaikan tanggapan positif terkait kegiatan LDII dalam menyadarkan masyarakat. Sebagai sebuah ormas, LDII membangun jaringannya dari pusat hingga ke daerah-daerah. Potensinya tentu sangat besar dalam mendorong perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat.

“Apa yang telah dilakukan oleh LDII dalam konteks WCDI telah menjadi bagian dari komponen Bangsa Indonesia yang ikut mencerahkan, membangun peradaban baru dan membangun perilaku berwawasan lingkungan dalam pengelolaan sampah di Indonesia,” jelas Novrizal.

Sementara itu, Agustina mengapresiasi warga LDII yang memanfaatkan besek sebagai wadah pada saat pembagian daging kurban. Gerakan inipun dalam tempo singkat terkoordinasi hingga daerah-daerah, bahkan mengajak pondok pesantren ikut aksi bersih-bersih dan pilah sampah.

“Tentunya dengan momentum bersama ini, Indonesia bukan tidak mungkin bersih dari sampah pada 2025 nanti. Kami bangga LDII bisa mengajak aksi ini dari level daerah hingga tingkat kecamatan,” kata Agustina.

Masalahnya Ada di Hulu

LDII
LDII DIY mengikuti secara daring launching LDII – World Cleanup Day Indonesia 2021. Selain Ketum DPP LDII, hadir pula Ketua Lembaga Pemulihan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia, Dr. Ir. H. Hayu S. Prabowo; Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Novrizal Tahar, IPM. dan Ketua WCDI, Agustina Iskandar, 19/9/2021

Pada saat pembukaan “Gerakan World Cleanup Day Indonesia (WCDI) 2021 Bersama Warga LDII”, Ketua Umum DPP LDII KH. Chriswanto Santoso merasa prihatin akibat volume plastik sampah di Indonesia mencapai 6,8 juta ton dan terus bertambah lima persen setiap tahun (data dari National Plastic Action Partnership, 2020). Bandingannya data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2019 yang mencatat sampah organik 57 persen, sampah plastik 15 persen, kertas 11 persen, dan lain-lain 17 persen. Total timbunan sampah mencapai 67,8 juta ton per tahun.

“Persoalan sampah itu seharusnya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, karena sampah itu berawal dari kita masyarakat, dan kita yang berada di ujung itu harus melakukan pemilahan secara bijak. Tentu kita ingin menjaga lingkungan ini jauh lebih baik,” kata KH. Chriswanto.

Menurut alumni Newcastle University Inggris ini, untuk mengakselerasi gerakan peduli lingkungan LDII, Kader Gemilang (Generasi Muda Indonesia Bela Lingkungan) telah dibentuk oleh DPP LDII dan diikuti hingga daerah-daerah pelosok. Mereka adalah pemuda yang peduli lingkungan hidup. LDII juga mendorong pondok pesantren melestarikan lingkungan dengan mengolah dan memilah sampah dengan sebaik mungkin dan mengonservasi lingkungan.

Sementara itu, Ketua DPP LDII Koordinator Bidang Departemen Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam dan Lingkungan (LISDAL) Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.Sc. mengungkapkan bahwa sampah akan selalu dihasilkan. Saat sampah tersebut sudah tidak berada di rumahnya, sampah itu tidaklah menghilang, namun berujung dan berakhir di suatu tempat.

“Bayangkan kalau satu keluarga menghasilkan sampah organik rata-rata setengah kilogram dan sampah anorganik satu ons per hari. Satu kampung yang terdiri atas 1.000 anggota keluarga akan menghasilkan setengah ton sampah organik dan satu kwintal sampah anorganik per hari. Jika dikalikan 365 hari dalam setahun, bayangkan berapa timbulan sampah yang dihasilkan?” pungkas Prof. Darsono.

Untuk itu, LDII menganggap rumah tangga mempunyai peran sangat strategis guna penanganan sampah dari hulunya. Apabila setiap rumah tangga bisa mengelola sampah organiknya sendiri, sehingga tidak harus berakhir di TPA, maka sebagian besar permasalah sampah sudah teratasi. Kita hanya memiliki bumi yang satu, tempat seluruh umat manusia tinggal, beribadah, bekerja, berkeluarga, dan membangun peradaban. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia haruslah ikut andil mengelola sampahnya masing-masing dan turut peduli lingkungan demi bumi yang lestari.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *