Ramuan Barokah 354, Empon-empon Penghasil Lele Tak Amis

Lele Tak Amis
Ketua Kelompok Budidaya Ikan Mina Rukun, Aminto sedang menunjukkan fermentasi empon-empon sebagai bahan campur pakan ikan di rumahnya (Foto: harianjogja.com)

Gunungkidul, Jogjakeren.com – Aminto memiliki cara unik dalam mengelola peternakan lele yang hasilnya tak berbau amis, bahkan air kolamnya pun tak menimbulkan bau. Rahasianya terletak pada ramuan khusus yang ia kembangkan, menggunakan bahan-bahan alami seperti empon-empon, yang ia sebut sebagai Ramuan Barokah 354 Aminto.

Berlokasi di Padukuhan Gelaran II, Bejiharjo, Karangmojo, rumah Aminto berdekatan dengan Gua Pindul. Seperti diberitakan harianjogja.com, saat itu, Rabu petang (24/7/2024), terlihat tumpukan kulit kacang hijau kering dan bulir jagung di teras rumahnya. Di depan rumahnya terdapat papan yang menunjukkan keberadaan Kelompok Budidaya Ikan Mina Rukun. Kelompok budidaya tersebut telah berdiri sejak 19 April 2008 dan kini berstatus madya.

Rumah Aminto terdiri dari empat ruang, salah satunya digunakan untuk menjamu tamu. Ruangan ini dihiasi dengan berbagai dokumen dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang tergantung di dinding.

Saat berbincang, Aminto menjelaskan bahwa ia baru saja memanen jeruk yang ia sirami dengan air kolam lele yang mengandung ramuannya. Ia bercerita dengan penuh semangat, meskipun baru pulang dari pekerjaannya di Solo dan masih harus mengelola Kelompok Budidaya Ikan Mina Rukun yang dipimpinnya.

Sejak dulu, Aminto memang gemar membudidayakan ikan. Bersama 54 anggota kelompok dari empat RT, ia berupaya melestarikan berbagai jenis ikan, menjaga ekosistem, dan mempertahankan kualitas air. Caranya dengan menghindari praktik meracun ikan yang sempat marak pada awal 2000-an, sebelum kelompok Mina Rukun didirikan.

Aminto menunjukkan kolam-kolam ikan miliknya yang tidak mengeluarkan bau menyengat, berkat Ramuan Barokah 354. Ramuan ini dibuat dari jahe, temulawak, kunir putih, gula jawa, dan bekatul, yang difermentasi bersama belimbing dan susu murni. Proses fermentasi memakan waktu satu bulan dan campurannya digunakan untuk membibis pakan ikan. Ramuan ini terbukti menurunkan angka kematian ikan dan meningkatkan nilai jualnya.

Aminto meramu Ramuan Barokah 354 berdasarkan pengalamannya menggunakan empon-empon untuk pengobatan pada manusia. Hasil karyanya menarik perhatian banyak pihak, termasuk akademisi dan pejabat, bahkan sedang diteliti oleh mahasiswa magister dari Universitas Gajah Mada (UGM).

Sebelum mendirikan Kelompok Budidaya Ikan Mina Rukun, Aminto sudah mengelola kelompok usaha tani yang mengembangkan berbagai komoditas, seperti kakao dan sayuran. Kemudian, setelah mendapat informasi tentang bantuan pengadaan kolam ikan dari pemerintah kabupaten, ia membentuk kelompok budidaya ikan. Saat ini kelompok tersebut berada di bawah naungan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul.

Kelompok Budidaya Ikan Mina Rukun bekerja sama dengan Kelompok Tani Lestari untuk mengembangkan sistem pangan berkelanjutan yang mengintegrasikan peternakan, perikanan, dan pertanian. Aminto juga memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk lahan pertanian di sekitar rumahnya.

Kelompok ini juga menjalankan usaha ternak sapi dengan sistem bagi hasil antarpetani. Aminto menegaskan bahwa ia terbuka untuk berbagi ilmu tentang Ramuan Barokah 354. Ia juga menganggap bahwa ilmu tidak seharusnya dirahasiakan atau dijadikan komoditas industri. Baginya, ilmu yang dibagikan adalah amal jariyah yang akan terus bermanfaat bagi banyak orang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *