Jogjakeren.com – Kini daerah di Indonesia sedang mengalami krisis keterbatasan lahan pertanian. Pada tahun 2018 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 15,89 juta petani di Indonesia hanya memiliki luas lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar. Luas lahan baku sawah nasional pada tahun 2009 mencapai 8,07 juta hektar, tapi menyusut seiring berjalannya waktu menjadi 7,46 juta hektar pada tahun 2019.
Hal ini disebabkan peralihan fungsi lahan yang membuat lahan pertanian kian hari makin sempit. Lahan pertanian yang semula ada dialihfungsikan untuk dijadikan pemukiman, industri, jalan raya, dan infrastruktur lainnya. Masalah tersebut menyebabkan banyak petani di Indonesia beralih profesi menjadi pekerja pabrik dan pekerja industri karena masalah peralihan fungsi lahan tersebut yang menjadikan lahan pertanian di Indonesia makin sempit. Beberapa petani yang dahulunya bekerja di lahan pertanian kini enggan untuk meneteskan keringat mereka di atas lahan tersebut, sehingga terjadi pengurangan aktivitas produksi pertanian dan hal tersebut merugikan para petani.
Perlu dilakukan sebuah pergerakan untuk memanfaatkan lahan sempit. Usaha yang dilakukan dengan mengubahnya menjadi lahan yang bermanfaat dan produktif, sehingga aktivitas produksi pertanian di Indonesia tidak berkurang. Lahan sempit tersebut dapat dijadikan lahan pertanian kecil yang produktif dengan menerapkan metode vertikultur.
Vertikultur merupakan metode bercocok tanam yang dibuat secara bertingkat ke atas atau vertikal. Istilah vertikultur ini berasal dari dua kata dalam bahasa inggris, yaitu Vertical yang berarti tegak lurus dari atas ke bawah atau sebaliknya dan Culture yang berarti budaya. Vertikultur bisa juga diartikan sebagai teknik budidaya tanaman secara vertikal yang penanamannya bertingkat.
Sistem budidaya vertikultur ini sangat cocok untuk diterapkan pada lahan yang sempit karena dengan menerapkan metode vertikultur ini dapat menghemat ruang, sehingga metode vertikultur ini dapat memanfaatkan lahan sempit secara efisien. Dengan menerapkan vertikultur, apapun jenis tumbuhan yang ingin ditanam dapat dibudidayakan dalam wadah vertikal.
Tanaman yang Cocok untuk Vertikultur
Tanaman yang dibudidayakan melalui metode vertikultur ini haruslah tanaman yang bernilai ekonomis tinggi. Tanaman yang akan ditanam juga harus diperhatikan dan disesuaikan dengan kebutuhan. Tanaman yang akan ditanam alangkah baiknya disesuaikan terlebih dahulu dengan wadah yang ada serta sesuaikan tanaman dengan kemampuan wadah dalam menyiapkan media untuk kebutuhan tanaman yang mau ditanam.
Tanaman yang biasanya ditanam dengan menggunakan metode vertikultur ini merupakan tanaman yang jenisnya kecil. Adapun jenis tanaman yang berakar pendek cocok untuk metode vertikultur ini, misalnya seperti cabai, tomat, selada, seledri, bayam, kangkung, dan sebagainya. Jenis sayuran apapun yang berakar pendek akan cocok untuk dibudidayakan melalui metode ini. Selain itu, tanaman yang cocok untuk metode ini selain bernilai ekonomis tinggi dan berakar pendek, tanaman yang ingin ditanam sebaiknya tanaman yang berumur pendek.
Wadah untuk Vertikultur

Wadah vertikultur sangatlah beragam mulai dari bahan, ukuran, sampai model dan semua itu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Umumnya berbentuk mirip anak tangga atau bisa juga persegi panjang dengan tempat yang bertingkat-tingkat atau sejumlah rak. Dapat berupa pipa PVC atau paralon dan talang air. Wadah lain yang bisa digunakan vertikultur dan efisien terhadap lahan yang sempit adalah dengan menggunakan wall planter bag atau pot kantong tanaman dinding.
Adapun bahan untuk vertikultur ini berasal dari benda-benda bekas yang terdapat di sekitar, seperti botol plastik bekas. Sebenarnya metode vertikultur ini tidak hanya bertujuan untuk membudidayakan tanaman di lahan sempit dengan menghemat ruang, tapi juga bertujuan untuk mendaur ulang benda bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat, oleh karena itu sebagian bahan yang digunakan dapat berupa benda-benda bekas. Wadah yang dipakai vertikultur haruslah mampu untuk menanam tanaman dengan baik dan lebih baik lagi jika wadah tersebut menunjukkan nilai estetika. Berikut bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menerapkan metode vertikultur.
Paralon atau Pipa PVC

Pipa atau paralon yang digunakan minimal berdiameter 3 inci dan potong pipa atau paralon tersebut sampai panjangnya berukuran 1 meter, 1.5 meter atau bahkan bisa lebih sesuai dengan keinginan. Nanti pada sisi-sisi pipa atau paralon tersebut secara berkala dibuatkan lubang-lubang dan jarak menanam di antara lubang-lubang tersebut harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang dibudidayakan. Lalu di dalam pipa atau paralon tersebut diberikan media tanam yang baik untuk perkembangan tanaman yang dibudidayakan.
Talang Air

Talang air ini juga cocok untuk metode vertikultur karena talang air juga bisa dibuat untuk membudidayakan tanaman secara vertikal. Talang air juga baik untuk digunakan sebagai bahan untuk menanam bermacam jenis sayuran, seperti bayam, sawi, kangkung, dan lain-lain. Membuat talang air ini perlu ada penyangga berupa rak bertingkat atau bisa juga ditempelkan pada dinding pagar maupun dinding lainnya. Lalu talang air tersebut diberikan media tanam yang baik untuk perkembangan tanaman yang dibudidayakan.
Wall Planter Bag

Wall planter bag atau pot kantong tanaman dinding adalah kantong tanam yang dirancang agar dapat menanam tumbuhan dengan cara digantung atau ditempelkan ke dinding atau pagar. Wall planter bag merupakan sebuah terobosan untuk menghemat ruang ketika menanam di lahan yang sempit. Wall planter bag yang digantung atau ditempelkan pada dinding atau pagar nantinya diisi dengan media tanam. Setelah itu diberi lubang tanam untuk memasukan benih yang ingin ditanam. Sesudah itu tinggal dirawat dan dipelihara baik-baik, sehingga tanaman tersebut berkembang dan tumbuh.
Botol Plastik

Sumber: m.kaskus.co.id
Botol yang tidak terpakai lagi digunakan untuk menjadi wadah bercocok tanam. Penggunaan botol bekas ini sebagai salah satu wadah vertikultur merupakan sebuah daur ulang barang bekas menjadi barang yang bermanfaat. Botol kosong tersebut dibuatkan lubang besar dan diisi dengan media tanam. Setelah itu bibit yang ingin ditanam dimasukan ke dalam media tanam, lalu dipelihara dengan baik sampai tanaman tersebut tumbuh.
Wadah-wadah tadi dipilih sesuai dengan keinginan. Wadah-wadah yang tercantum tadi termasuk ke dalam bahan-bahan yang cocok untuk dijadikan tempat bercocok tanam dengan menggunakan metode vertikultur. Wadah tersebut tidak memakan banyak ruang dan praktis, sehingga untuk memulai pertanian menggunakan vertikultur tidaklah sulit.
Kelebihan dan Kekurangan Vertikultur
Kelebihan dari metode ini adalah tidak harus memakan banyak ruang untuk bercocok tanam. Selain itu, penanaman yang dilakukan secara vertikal ini dapat mencegah tumbuhnya gulma. Lalu, jika menggunakan atap dapat mencegah kerusakan pada tanaman yang terjadi karena hujan. Adapun dengan menggunakan metode vertikultur menghemat penyiraman air karena penguapan berkurang dan penggunaan pupuk akan menjadi hemat karena pupuk tidak mudah tercuci.
Kekurangan dari metode ini mengharuskan untuk merawat tanaman secara intensif, sehingga penyiraman dan pemberian pupuk harus dilakukan secara rutin. Lalu, meski mudah untuk dipindahkan hal ini juga dapat menyebabkan tanaman mudah patah atau rusak bila tidak diperlakukan secara benar. Investasi yang harus dikeluarkan cukup besar karena membutuhkan peralatan yang banyak untuk pemasangan vertikultur ini. Sebaiknya budidaya dengan vertikultur ini dilakukan secara kelompok dan bersama-sama agar mengurangi beban-beban yang telah disebutkan. Adapun wadah atau bahan yang digunakan lebih baik barang bekas jika mau menghemat pengeluaran.





