Upaya Melestarikan Batik

Sumber gambar : aktual.co

Jogjakeren.com – UNESCO yang merupakan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan (Bahasa Inggris : United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menyatakan bahwa batik merupakan hasil kebudayaan tak benda yang dimiliki Indonesia. Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa sejarah batik tidak lepas dari perkembangan kebudayaan kerajaan-kerajaan Jawa. Pada waktu itu, membatik merupakan kegiatan yang dilakukan oleh kerabat di dalam keraton. Dengan berjalannya waktu, secara perlahan batik mulai meluas dikerjakan oleh warga karena banyaknya abdi dalem yang tinggal diluar keraton. Kaum perempuan saat itu menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencahariannya. Akhirnya batik mulai dikenal oleh masyarakat dan berkembang sampai sekarang seperti yang terlihat saat ini.

Sebagai penghargaan kepada para perajin batik ini, banyak kantor pemerintah/swasta mewajibkan penggunaan baju batik pada hari-hari tertentu bagi karyawan/stafnya. Bahkan di sekolah-sekolah, siswa juga diwajibkan mengenakan baju batik pada hari tertentu. Langkah ini bertujuan agar batik tetap dapat dipertahankan di masyarakat dan lestari sampai generasi mendatang.

Read More

Memang kebijakan di atas patut diapresiasi, namun yang lebih penting lagi dapat menanamkan cinta batik kepada masyarakat. Untuk menanamkan rasa cinta terhadap nilai budaya termasuk batik tidak dapat dilakukan dengan cara instan, tetapi membutuhkan waktu yang panjang.

Sayangnya, berdasarkan kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa yang tertarik dengan batik adalah para orangtua dan hanya sebagian kecil generasi muda. Perlu dicarikan solusi tepat untuk melestarikannya.

Salah satu solusi yang dapat ditempuh untuk mengatasi  faktor ini adalah mengenalkan batik kepada anak-anak usia sekolah, mulai TK, SD/MI, SMP/MTs sampai SMA/SMK/MA. Karena ancaman globalisasi yang paling mendasar adalah globalisasi budaya yang berdampingan dengan globalisasi ekonomi. Sehingga strategi yang harus diutamakan adalah strategi budaya yang berbasis penguatan pendidikan. Sumber daya manusia yang peka terhadap identitas budaya serta berdaya saing tinggi juga berwawasan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi dibangun melalui institusi pendidikan.

Hal ini dapat dilakukan pemerintah melalui dinas terkait untuk membuat kurikulum tentang pembelajaran keterampilan membatik. Disamping sekolah membuat kurikulum, juga dibutuhkan dorongan orangtua. Apabila orangtua sudah menyukai batik dalam kegiatan sehari-hari, maka anak juga akan melakukan hal serupa. Orangtua harus mempunyai kebanggaan untuk memakai batik, baik pada acara formal maupun suasana santai, sehingga anak juga akan mengikutinya.

Sudah dipahami bersama bahwa anak usia sekolah saat ini merupakan generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. Agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak melupakan budaya batik, semua pihak mulai dari orangtua, sekolah dan pemerintah bertanggung jawab untuk menanamkan rasa cinta terhadap batik sedini mungkin.

Apabila sejak usia sekolah sudah memiliki rasa cinta terhadap batik, diharapkan akan terbawa terus sampai dewasa. Sehingga predikat Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia yang diberikan olaeh Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council/WCC)  pada bulan Oktober 2014 tetap dapat dipertahankan dan dinikmati oleh generasi-generasi yang akan datang. Semua lapisan masyarakat bertanggung jawab untuk mewujudkannya, mulai dari orang tua di rumah, guru di sekolah dan pemerintah sebagai pemangku kebijakan.

Seperti yang telah dilakukan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DIY beberapa tahun terakhir ini bisa diambil contoh. Melalui Biro Pemperdayaan Perempuan dan Keluarga, LDII DIY melakukan berbagai pelatihan terkait batik di beberapa wilayah seputar DIY.

Selamat Hari Batik Nasional 2024.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *