Badui Tunas Muda, Menyimpan Filosofi Kebersamaan dan Harmoni

Tarian Badui
Penampilan tarian Badui Tunas Muda saat penyambutan tamu di Embung Kaliaji Sangurejo

Sleman, Jogjakeren.com – Sangurejo, sebuah desa asri yang terletak di lereng Gunung Merapi, menyimpan kesenian tarian yang tak pernah lekang oleh waktu. Tarian itu bernama Badui. Berakar dari tradisi religi yang konon dibawa oleh seorang pedagang Arab hingga mengalami adaptasi dan perpaduan dengan budaya lokal.

Salah satu tokoh penggerak berdirinya badui di Sangurejo, Suwatiman menceritakan asal mula berdirimya “Badui Tunas Muda”.

“Pada tahun 2011 saya dan generasi kedua berinisiatif membentuk sebuah kelompok badui, agar memiliki legalitas untuk melakukan pertunjukkan di berbagai kesempatan dan memudahkan mendapat dukungan dana dari pemerintah,” ujarnya.

Read More

Tercetus Badui Tunas Muda, sebuah nama yang sarat sebuah makna dan sejuta harapan. Arti Tunas Muda sendiri yaitu tunas-tunas muda yang ada di Dusun Sangurejo. “Tujuannya agar tunas muda di sini bisa meneruskan estafet dari pengelolaan badui. Khususnya kesenian badui yang dulu pernah ada dan berkembang di Sangurejo hidup kembali,” ungkapnya.

Tidak sampai di situ, untuk mengenal lebih dalam apa itu badui, Dina Eka Setia Wibawa selaku generasi kedua ikut menyampaikan bahwa dengan Badui Tunas Muda bisa menjadi jembatan syiar, bukan sekedar tarian seremonial.

“Sejak awal lagu-lagu yang mengiringi merupakan lantunan sholawat dan puji-pujian kepada tuhan Yang Maha Esa, gema kecil yang mengajak orang kembali pada rasa tunduk dan syukur,” jelas Eko sapaan akrabnya.

Baginya, jejak itu menegaskan bahwa ajaran tidak hanya hidup di ruang mengaji, tetapi juga berdenyut dalam kesenian yang tumbuh dari tanah masyarakat sendiri. Seiring perkembangan zaman, meluas pula fungsi dari badui. Tak hanya sebagai sarana syiar, kini badui turut melengkapi berbagai acara perayaan serta penyambutan tamu di Sangurejo.

“Dahulu simbah-simbah kita itu mempelajari kanuragan, tentunya agar mempunyai sifat yang tegas berwibawa, berkarakter dan tentunya beradab,” tuturnya.

Menurut para sesepuh, ketegasan dan kesiapsiagaan dalam setiap langkah bukan hadir begitu saja. Gerakan itu lahir dari penyamaran pencak silat, jejak bela diri yang dulu menjadi sarana berlindung masyarakat. Pada masa ketika kanuragan ditempa, kekuatan lahir dan batin berdegup bersama, lalu mengalir masuk ke dalam tarian Badui.

Karena itu, setiap hentakan dan putaran tidak sekadar indah dipandang, akan tetapi menyimpan pengetahuan yang pernah disembunyikan demi keselamatan. Setiap langkah yang terangkat, setiap ayunan lengan yang mengikuti alunan, terasa seperti halaman baru dari cerita warisan yang terus dijaga.

Di sana, tubuh menjadi bahasa dan bahasa menjadi jembatan antara masa yang berlalu dengan masa yang masih menunggu. Badui hidup sebagai ruang di mana keyakinan, sejarah, dan kebersamaan menemukan rumahnya sendiri, dihadirkan lewat gerakan yang tetap bernapas sampai hari ini.

Eko mengakui nilai Badui sudah meresap dalam kehidupannya, bukan sekadar menjadi bagian dari panggung. Ia melihat bagaimana setiap pertunjukan selalu menuntut kebersamaan, mulai dari menyiapkan perlengkapan hingga menyelaraskan gerak, semuanya hanya bisa berjalan jika gotong-royong benar-benar hidup.

Bagi Eko, pelajaran itu tidak berhenti di arena latihan, begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat. Orang juga perlu saling merangkul, memastikan setiap langkah bisa ditopang bersama. Baginya, Badui bukan hanya seni yang diwariskan, tetapi pengingat bahwa harmoni hanya tercipta ketika manusia memilih untuk menjaga satu sama lain.

“Juga dengan adab kita harus merunduk. Kita tidak boleh jumawa, kalau kata orang jawa  harus andap asor,” pungkas Eko.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *