Warga Translok Imogiri Sampaikan Harapan Saat Wamen Transmigrasi Tinjau Kondisi Jalan

Peran Ratu Waskita Jawi di Era Kerajaan Mataram Islam
Warga transmigrasi menerima kunjungan Wamen Transmigrasi.

Jogjakeren.com – Pagi itu, langit Imogiri masih diselimuti kabut tipis ketika rombongan kendaraan dinas berhenti di kawasan warga translok Imogiri. Dikutip tribunjogja.com, warga bergegas menyambut kedatangan Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi.

Di wajah mereka tergambar antusiasme bercampur harapan—sebuah momentum yang mereka tunggu lama: kesempatan untuk menyampaikan langsung persoalan di tanah tempat mereka menata hidup baru.

Kawasan translok Karangtengah merupakan tempat pemukiman bagi warga eks-transmigran dari beberapa daerah konflik seperti Aceh, Sampit, dan Papua. Mereka dipindahkan kembali ke Bantul demi keamanan dan kenyamanan hidup yang lebih baik. Namun, persoalan infrastruktur dasar seperti akses jalan menjadi tantangan yang belum terjawab.

“Kalau musim hujan, jalan ini licin sekali, Pak. Kadang motor saja susah lewat,” ungkap Sulastri (38), salah satu warga yang rumahnya berada di ujung pemukiman. Ia bercerita bahwa warga bergotong-royong menimbun jalan dengan batu kapur seadanya agar tetap bisa dilalui anak-anak sekolah.

Wamen Viva Yoga Mauladi datang meninjau langsung kondisi lapangan sambil berdialog dengan warga. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memantau perkembangan kawasan translok agar menjadi tempat tinggal yang layak dan berkelanjutan. “Kawasan seperti ini harus mendapat perhatian bersama. Negara hadir untuk memastikan warga hidup aman, nyaman, dan sejahtera,” katanya di sela kunjungan.

Beberapa warga menyampaikan aspirasi mereka secara langsung kepada wamen. Selain jalan, mereka berharap ada bantuan untuk pengembangan ekonomi lokal—seperti pelatihan usaha dan akses permodalan.

“Kami sudah mulai menanam sayur, ada juga yang beternak ayam, tapi kalau jalan rusak, susah mengirim hasil panen ke pasar,” ujar Slamet (45), tokoh masyarakat setempat.

Menurut Viva Yoga, perbaikan infrastruktur di kawasan transmigrasi lokal memerlukan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Ia menyebut bahwa hasil kunjungan tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk perencanaan berikutnya. “Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar pembangunan jalan dan fasilitas lainnya bisa segera ditindaklanjuti,” tuturnya.

Sementara itu, suasana di Karangtengah perlahan kembali normal setelah rombongan meninggalkan lokasi. Warga masih berbincang-bincang di teras rumah, sebagian kembali menata kebun sayur di halaman belakang. Meski kunjungan itu singkat, mereka merasa suara mereka akhirnya terdengar.

“Yang penting kami didengarkan dulu,” kata Sulastri sambil tersenyum. “Kalau jalannya diperbaiki, hidup kami pasti lebih mudah,” imbuhnya.

Harapan sederhana itu kini menunggu realisasi—di antara batu, tanah merah, dan jejak langkah yang pagi itu meninggalkan semangat baru bagi warga translok Karangtengah.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *