Budaya Maritim Nusantara: Lebih dari Sekadar (Satu) Hari Laut Sedunia

Budaya Maritim
Budaya maritim di Indonesia telah berkembang dari zaman kerajaan-kerajaan hingga saat ini. Kini budaya maritim dibuktikan dengan kegiatan nelayan, usaha pariwisata bahari, pengangukutan dan penyebrangan antarpulau, serta perdagangan. (Foto: BeritaSatu.com)

Jogjakeren.comHari Laut Sedunia (World Oceans Day) diperingati setiap 8 Juni yang ditetapkan oleh PBB sejak 2008. Penetapan ini didahului dengan deklarasi di Rio de Janeiro (1992), kampanye global (2002), dan peluncuran situs resmi (2003).

Hari Laut Sedunia 2023 memiliki tema Planet Ocean: Tides Are Changing. Planet Ocean yang dimaksud tentunya adalah lautan di planet bumi, sedangkan Tides Are Changing berarti bahwa pasang surut berubah (mengalami perubahan).

Perubahan yang terjadi pada pasang surut merupakan bagian dari proses alam dan/atau non-alam. Sebagai bagian dari proses alam, misalnya, dikenal pasang purnama dan perbani yang berdampak pada variasi pasang surut air laut. Sebagai bagian dari proses non-alam, pemanasan global yang dipicu oleh aktivitas manusia berkontribusi dalam meningkatkan muka air laut rata-rata dan berpotensi mengubah jejak pasang surut.

Read More

Definisi Laut dan Lautan

Selain memperingati Hari Laut Sedunia, perlu diketahui perbedaan antara laut dengan lautan. Laut (sea) adalah kumpulan air asin di permukaan bumi yang menghubungkan antarbenua, antarpulau, atau antara benua dengan pulau. Lantai atau dasar dari laut adalah kerak benua, umumnya didominasi mineral dari Si dan Al. Lautan atau samudra (ocean) adalah kumpulan air asin di permukaan bumi yang menutupi cekungan atau dasar berupa kerak samudra, umumnya didominasi mineral dari Mg dan Fe. Pembatas antara laut dengan lautan adalah palung (trench).

Alih-alih menggunakan ‘sea’, World Ocean Day menggunakan istilah ‘ocean’. ‘Ocean’ yang dimaksud dalam hal ini adalah laut secara umum, tidak terbatas pada lautan.

Indonesia, Negara dengan Budaya Maritim

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki luas perairan (laut) lebih dari 3 juta km2 dengan panjang garis pantai lebih dari 80.000 km. Wilayah laut Indonesia tersebut hampir mencapai 2/3 dari luas keseluruhan NKRI.

Lokasi Indonesia yang strategis di khatulistiwa sekaligus beriklim tropis memberikan sumberdaya laut yang melimpah, seperti terumbu karang, mangrove, dan rumput laut. Lagu anak ‘Nenek Moyangku’ ciptaan Ibu Sud pun turut menggambarkan bahwa bangsa Indonesia sejak dahulu memiliki pengetahuan dan kemampuan melaut yang andal untuk memanfaatkan sumbderdaya laut.

Budaya Maritim
Sebaran terumbu karang, mangrove, dan rumput laut. (Sumber: https://www.grida.no/resources/7766).

Budaya maritim di Indonesia telah berkembang sejak zaman dahulu, di antaranya adalah kerajaan-kerajaan maritim Sriwijaya, Darmawangsa, Mataram Kuno, dan Tarumanegara. Ekspansi kekuasaan kerajaan-kerajaan tersebut dilakukan melalui jalur laut, yaitu dengan pelayaran dan perdagangan.

Kini, budaya maritim dibuktikan dengan penduduk pesisir yang bermata pencaharian terkait dengan laut. Nelayan, usaha pariwisata bahari, pengangkutan dan penyeberangan antarpulau, serta pedagang perantara hasil tangkapan nelayan merupakan contoh mata pencaharian yang dimaksud.

Pada level pemerintahan daerah, ibukota provinsi di Indonesia pun tidak jarang berlokasi di dataran rendah atau tidak jauh dari pesisir. Aksesibilitas pesisir ke laut ditunjang dengan pelabuhan pada ibukota provinsi memungkinkan pertumbuhan ekonomi yang positif untuk daerah.

Budaya Maritim
Kota Pesisir di Indonesia (Sumber: https://media.neliti.com/media/publications/101928-ID-none.pdf)

Di tengah hiruk-pikuk perkotaan dan zaman modern, masih terdapat sekelompok masyarakat yang berdiam, bertempat tinggal, dan melakukan berbagai aktivitas sehari-hari di atas sebuah kapal atau perahu, yang dinamakan suku maritim. Mereka memiliki kemampuan menyelam serta tangguh dalam mengadapi keganasan laut lepas dan cuaca ekstrem. Contoh suku maritim di Indonesia adalah Bajau, Orang Laut, dan Ameng Sewang.

Jaga Laut

Peringatan Hari Laut Sedunia seyogianya mengajak masyarakat internasional untuk lebih peduli pada lingkungan laut, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan ke-14 (life below water). Untuk menjaga laut, prinsip yang perlu dipegang adalah pengelolaan sumberdaya dan pengendalian kerusakan. Pemanfaatan sumberdaya laut harus dikelola secara terkendali agar sumberdaya laut tetap lestari. Untuk mencegah kerusakan laut, misalnya, tidak membuang sampah ke laut atau ke sungai yang menuju laut agar laut layak berperan sebagai habitat sumberdaya laut yang melimpah.

Jadi, sudahkah Anda menjaga laut? ^_^

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *