Jogjakeren.com – Kegiatan pramuka merupakan bagian dari pendidikan di sekolah. Namun, tidak menutup kemungkinan kegiatan pramuka mulai diterapkan di dalam pendidikan non-formal atau bahkan di lingkungan keluarga. Satuan Komunitas Pramuka Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) Cabang Sleman mengajak mengadopsi prinsip Knowledge, Skill, Attitude (KSA) ke dalam kegiatan pramuka.
“Melalui kegiatan pramuka, kita dapat membina generasi penerus dengan prinsip KSA (Knowledge, Skill, Attitude),” papar Kak Faqih Arif dalam kegiatan Kursus Orientasi Singkat (KOS), Minggu (22/8/2021) lalu.
Pada prinsip knowledge, pembina pramuka akan membekali generasi penerus (generus) dengan pengetahuan dasar, contohnya tentang hari pramuka, bapak pramuka, sejarah pramuka, dan lainnya. Hal ini ditingkatkan dengan pembekalan kecakapan (skill), misalnya tali-temali, baris-berbaris, memasak, dan mendirikan tenda. Di tingkatan berikutnya, pembina pramuka perlu menerapkan prinsip attitude guna membentuk generus yang berkarakter mulia.
Lalu, bagaimana cara mengadopsi prinsip KSA ke dalam kegiatan pramuka?
Kak Faqih menjelaskan ada beberapa kegiatan yang dapat dipraktikkan, seperti perkemahan, outbound, tracking, dan Achievement Motivation Training (AMT). Outbound merupakan sarana menambah wawasan dan pengetahuan melalui serangkaian pengalaman berpetualangan. Dengan mengikuti outbound, generus tidak hanya dapat menikmati kegiatan yang seru, tetapi juga melatih rasa percaya diri, kemandirian, kreativitas, rasa peduli antar sesama, membiasakan kerja sama, melatih komunikasi, menumbuhkan jiwa kepemimpinan, melatih kedisiplinan dan tanggung jawab, bahkan menghindarkan dari kecanduan gawai.

“Setiap generus diminta untuk membuat evaluasi berupa catatan perkembangan yang dibandingkan dengan hasil capaian sebelumnya, sehingga evaluasi dari satu generus tidak bisa dibandingkan dengan generus lainnya,” imbuhnya.
Nilai-nilai yang telah dibangun selama kegiatan outbond perlu diinternalisasi kepada generus. Selanjutnya, proses kristalisasi yaitu menanamkan nilai-nilai yang sudah diajarkan sehingga dapat tertanam kuat dalam diri generus. Jenis kegiatan Forum Group Discussion (FGD), simulasi, dan pembiasaan dirasa mampu memfasilitasi proses internalisasi dan kristalisasi ini.
Di akhir paparannya, Kak Faqih memberikan tips mendesain dan memilih kegiatan yang cocok untuk pembinaan generus. “Di tahap awal, perlu ada diagnosa permasalahan yang masih menjadi tantangan. Kedua, tentukan nilai yang akan ditanamkan. Berikutnya, desain skenario dan metodenya,” tutupnya.





