Budaya Tilik Bayi Terus Dijaga di Desa Kadirojo: Perkuat Ikatan Sosial dan Nilai Luhur

Tilik Bayi
Tradisi Tilik Bayi di kediaman keluarga Supriyadi di Desa Kadirojo 2 Purwomartani Kapanewon Kalasan Sleman.

Sleman, Jogjakeren.com – Tradisi Jawa selamatan bayi atau yang sering dikenal dengan tilik bayi masih lestari hingga kini. Hal ini terlihat dari acara selamatan bayi yang digelar oleh pasangan Supriyadi dan Fitri Nur Hidayah. Terletak di Desa Kadirojo 2 Purwomartani Kapanewon Kalasan Sleman. Acara yang berlangsung dari pukul 20.00 hingga 21.00 WIB. Diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran buah hati mereka pada Senin (5/5/2025).

Acara dihadiri oleh jamaah ibu-ibu Masjid Al-Fattah Kadirojo 2 yang datang menjenguk langsung ke rumah Supriyadi. Hadir pula Ustadzah Hj. Watiknem yang dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan tilik bayi ini sudah menjadi rutinitas warga yang penting untuk mempererat tali silaturahmi. “Ini adalah rutinitas jenguk bayi. Rutinitas ini menambah kepedulian, kerukunan, dan kekompakan warga desa Kadirojo 2,” ujar Hj. Watiknem.

Tilik Bayi
Supriyadi pemilik Pijat dan Bekam 354 tampak sedang menggendong buah hatinya yang telah lahir di kediamannya saat melangsungkan acara Tilik Bayi.

Dalam wawancara bersama tim kami, Supriyadi menceritakan bahwa kelahiran putra keduanya ini adalah anugerah besar bagi keluarganya. “Ini adalah wujud kesabaran kami menantikan putra. Putra kami yang pertama kami nantikan selama 7 tahun, sedangkan putra kami yang baru saja lahir ini jarak lahirnya 17 bulan,” ungkap Supriyadi pemilik usaha Pijat dan Bekam 354 itu. Ia pun meminta doa dari seluruh warga agar sang buah hati kelak menjadi anak yang sholeh dan bermanfaat bagi umat.

Read More

Tradisi selamatan bayi dalam masyarakat Jawa sendiri memiliki nilai yang sangat mendalam. Mengutip jurnal Arif Budiman dkk (2022) dalam SASDAYA: Gadjah Mada Journal of Humanities. Disebutkan bahwa selamatan bayi merupakan ritual tradisional orang Jawa sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kelahiran dan keselamatan ibu serta bayi. Tradisi ini juga menjadi bentuk doa agar bayi tumbuh selamat, bahagia, dan mendapat keberkahan dunia-akhirat.

Selamatan bayi terdiri dari berbagai tahapan berdasarkan usia bayi, mulai dari hari pertama kelahiran (brokohan), hari kelima (sepasaran), 35 hari (selapanan), tiga bulan (telonan), tujuh bulan (pitonan), hingga satu tahun (setahunan), termasuk pelaksanaan aqiqah bagi bayi Muslim. Kegiatan ini mencerminkan kearifan lokal Jawa yang memandang kelahiran sebagai peristiwa penting, tidak hanya secara biologis tetapi juga spiritual dan sosial.

Melalui pelestarian tradisi seperti ini, masyarakat Desa Kadirojo 2 menunjukkan bahwa budaya lokal bukan hanya warisan, tetapi juga sarana memperkuat ikatan sosial dan menanamkan nilai-nilai luhur di tengah perkembangan zaman.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *