Cegah Generasi “Home Service” dengan Menanamkan 5 Kebiasaan

  • Whatsapp
5 Kebiasaan Untuk Mencegah Generasi Home Service
5 Kebiasaan Untuk Mencegah Generasi Home Service

jogjakeren.com -Di era kekinian muncul fenomena generasi “home service”. Apa itu generasi home service? apa penyebabnya?, dan bagaimana mencegah tumbuhnya generasi home service?

“Ma, bajuku mana?”
“Kaos kaki ku mana Ma, cariin”
“Makanku mana Ma, ambilin”
Ma, Ma, dan Ma…

Read More

Demikian itu istilah generasi “home service”.

Generasi home service adalah generasi yang selalu minta dilayani. Fenomena ini mulai terjadi pada anak usia dini bahkan usia remaja. Mereka hidupnya selalu minta dilayani oleh orang tua ataupun assisten rumah tangga.

Penyebab generasi home service yaitu orang tua dalam kesehariaanya tidak melibatkan anak dalam mengurus rumah tangga bahkan sampai mengurus dirinya sendiri. Semua itu dilakukan karena orang tuanya merasa mampu mengerjakan sendiri, merasa kasihan pada anak, akhirnya lama kelamaan menjadi ketergantungan, anak menjadi malas dan anak kurang tantangan.

Bagaimana mencegah tumbuhnya generasi “home service”?

Berikut ini 5 kebiasaan yang dapat diterapkan untuk mencegah tumbuhnya generasi home service :

1. Biasakan anak tumbuh dengan tantangan

Carol Dweck, psikolog dari Stanford University, mengatakan, “Hadiah terpenting dan terindah dari orang tua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Tapi beranikah semua orang tua memberikan tantangan seperti itu? Faktanya saat ini orang tua ingin menyelesaikan dan mengambil alih masalah yang dihadapi anak, bukannya memberikan tantangan.

Contoh : keperluan anak selalu dipenuhi tanpa dilatih berusaha sendiri seperti : anak mencari kaos kaki dicarikan, anak lapar diambilkan, anak habis makan dirapikan.

Generasi seperti inilah yang nantinya akan melahirkan orang dewasa yang tidak mandiri. Badannya besar tetapi pikirannya masih anak-anak, karena mereka tidak pernah memutuskan sesuatu yang terbaik untuk dirinya sendiri.

Maka orang tua supaya memberikan kesempatan pada anak agar bisa menyelesaikan masalahnya dengan sendirinya meskipun orang tua tetap memberikan solusi atau pendapat kepada anaknya.

2. Latihlah anak untuk bertanggungjawab

Berikan tanggungjawab pada anak agar mereka bisa mengemban amanah meski masih didampingi. Misalnya : anak habis makan supaya mencuci piringnya, anak bangun tidur supaya membersihkan tempat tidurnya, anak habis mainan supaya membereskannya.

Oleh karena itu, orang tua jangan bosan-bosan dalam membimbing dan mengingatkan anak agar selalu tanggungjawab. Dengan cara inilah anak akan menjadi generasi yang disiplin, tertib dan tanggungjawab.

3. Libatkan anak dalam mengurus pekerjaan rumah

Berdasarkan penelitian, keikutsertaan anak dalam pekerjaan rumah akan berpengaruh positif terhadap anak. Karena jika anak mengerjakan sesuatu bersamaan dengan orang tua mereka akan langsung mencontoh apa yang dilakukannya dan bisa menerapkannya di masa mendatang.

Selain melibatkan anak dalam mengurus pekerjaan rumah, orang tua juga membatasi permintaan anak. Jangan sampai karena mereka sayang langsung menuruti semua permintaan anaknya. Sebab jika orang tua menuruti semua permintaan anak akan menyebabkan anak menjadi manja dan tidak mandiri. Sesekali orang tua boleh menuruti permintaan anak, itu termasuk wujud bentuk cinta orang tua kepada anak.

Mungkin pandangan orang tua membiasakan anak untuk menjadi mandiri dan bertanggungjawab itu terlihat sedikit kejam, padahal itu salah satu cara membentuk anak menjadi pribadi yang tangguh. Maka sebagai orang tua dalam mendidik anak jangan sampai hanya akademiknya saja, tetapi non akademik dan skill juga harus ditanamkan pada anak.

4. Latih kedisiplinan

Orang tua menanamkan kedisiplinan anak sebaiknya sejak dini. Dimulai dari hal-hal sederhana terkait waktu dan tempat.

Contoh : jam berapa waktunya anak bermain, jam berapa waktunya anak belajar. Tas diletakkan dimana, sepatu diletakkan dimana dan sebagainya.

Jika orang tua melatih kedisiplinan sejak dini, saat dewasa anak akan selalu disiplin dengan apa yang mereka kerjakan.

5. Tanamkan kejujuran

Selain kedisiplinan, kejujuran sebaiknya juga ditanamkan anak sejak dini. Semakin dini menanamkan kejujuran akan semakin melekat pada diri anak hingga dewasa.

Kejujuran adalah berani mengatakan sesuai dengan kenyataan. Jika anak-anak yang masih polos dibiasakan berperilaku jujur, dampak ke depan mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang mempunyai hati nurani yang tinggi.

Jujur mengarah pada dua hal yaitu perkataan dan perbuatan. Dalam perkataan berarti tidak bohong seperti mengakui kesalahan, berani menceritakan kejadian sebenarnya dan sebagainya. Sedangkan Jujur dalam perbuatan adalah berbuat yang benar seperti saling mengasihi, berbagi, tolong menolong, tidak melanggar aturan, tidak curang dan sebagainya.

Tanamkan pada anak bahwa kejujuran adalah sikap yang mahal harganya dibandingkan apapun. Sebaliknya, jika kejujuran dirusak oleh kebohongan akan berimbas pada harga diri dan moralnya akan ternodai. Oleh karena itu, orang tua supaya memberikan teladan yang baik pada anaknya tentang kejujuran.

Orang tua adalah jembatan emas untuk anak-anaknya. Maka, orang tua mulailah memberi tantangan dan tangung jawab pada anak, agar si buah hati terhindar dari generasi home service.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments