Generus Mandiri#3 Bekali Siswa SMA Menjadi Mubalig dan Sarjana

  • Whatsapp
Mubalig Sarjana
Para pemateri Generus Mandiri#3 yang mengulas tentang menjadi mubalig dan menjadi sarjana, Minggu (21/3/2021)

Jogjakeren – Pelajar usai lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) banyak yang mengalami kebingungan karena dihadapkan beberapa pilihan, seperti melanjutkan studi, bekerja, belajar ilmu agama di pesantren, memulai usaha atau bahkan menikah.

Forum Kemahasiswaan Penggerak Pembina Generus (PPG) Al Karima Yogyakarta merespon hal tersebut dengan memberikan motivasi dan gambaran pada siswa kelas XI dan kelas XII SMA/SLTA sederajat melalui kegiatan Generus Mandiri#3 dengan tema “Pejuang Agama”, Minggu (21/3/2021).

Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui zoom meeting yang diikuti sekitar 184 peserta. Pada kegiatan Generus Mandiri#3 ini para siswa diberikan bekal dan gambaran menjadi mubalig atau penyampai agama dan menjadi sarjana.

Menghadirkan pemateri yang ahli di bidangnya yakni Ustaz Yasir yang memberikan gambaran tentang mubalig dan Deby Zulkarnain Rahadian Syah, S.Kep., Ns., MMR., memberikan gambaran menjadi sarjana.

“Kunci menjadi seorang mubalig adalah niat karena Allah, tanpa adanya niat usahamu akan sia-sia,” ungkap Ust. Yasir memulai materinya.

Setiap manusia diberi kecerdasan, maka harus diimbangi dengan doa agar Allah memberikan kemudahan. Selain itu, untuk bisa menjadi mubalig pasti melalui proses yang panjang, maka harus sabar dalam menghadapinya. Taat dan hormat dalam setiap proses akan menumbuhkan jiwa juang untuk menjadi mubalig.

“Hadirkan singa di dalam dirimu. Singa itu berani, pantang menyerah dan tak kenal takut walaupun dia bukan yang terbaik,” tandasnya.

Menurut Ust. Yasir, menjadi sarjana ataupun mubalig itu sama saja yang terpenting adalah jadikan pilihanmu untuk tetap tidak meninggalkan ibadah kepada Allah. “Akan lebih baik jika kamu menjadi sarjana yang mubalig,” pungkasnya.

Sementara itu, Deby Zulkarnain yang juga dosen Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani) mengatakan, pedoman mahasiswa itu bukan untuk mencari uang saja tetapi gunakan sarjana mu untuk tetap taat dalam agama.

“Tak perlu memikirkan finansial, saat ini sudah banyak beasiswa masuk perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri. Terpenting adalah tekad dan kemauan yang tinggi untuk menggapai apa yang kita inginkan. Akan tetapi jangan pernah melupakan doa, sejatinya doa adalah senjata kita dalam perjuangan,” urainya.

Saat ini, lanjut Deby, banyak Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) yang didirikan untuk menunjang mahasiswa yang tertarik menjadi sarjana mubalig, “Diharapkan ketika telah lulus dari perguruan tinggi menyandang gelar sarjana sekaligus menjadi mubalig,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *