Hardiknas 2023: Tinjau Terobosan Nadiem dalam Sistem Kurikulum Merdeka Belajar

kurikulum merdeka belajar
Terobosan Nadiem yang dituangkan dalam sistem Kurikulum Merdeka Belajar. (Foto: metro.aspirasiku.id)

Jogjakeren.com Apa saja sih inovasi-inovasi Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dalam memajukan pendidikan di Indonesia? Apa keunggulan dari Kurikulum Merdeka Belajar? Apa saja yang perlu dievaluasi dari kurikulum terbaru ini?

Sejak penetapan pada tanggal 16 Desember 1959, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei sekaligus mengenang Ki Hajar Dewantara. Pada tahun ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) mengangkat tema “Bergerak Bersama Semarakan Merdeka Belajar”.

Seperti yang kita tahu, kini Kemendikbudristek di bawah kepemimpinan Nadiem Anwar Makarim menjalankan Kurikulum Merdeka Belajar. Hingga saat ini masih banyak pro kontra mengenai Kurikulum Merdeka Belajar dan belum semua sekolah menerapkan sistem kurikulum ini.

Read More

Mengapa seperti itu dan apa saja terobosan baru dari Kurikulum Merdeka Belajar? Yuk simak penjelasan berikut.

Terobosan Nadiem di Bidang Pendidikan Indonesia

Beberapa inovasi-inovasi yang sudah dilakukan Kemdikbudristek dilansir dari situs Kemdikbudristek dan dikaji juga oleh Koran TEMPO antara lain:

  1. Penghapusan Ujian Nasional (UN) diganti menjadi Asesmen Nasional (AN)

Asesmen

Asesmen ini sebagai pengganti Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) mulai tahun depan. Ujian ini dapat dilakukan secara tertulis atau bentuk penilaian lain yang lebih komprehensif, seperti tugas kelompok dan karya tulis. Dengan begitu, guru dan sekolah lebih bebas menilai hasil belajar siswa.

Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter

Sejak 2021, Asesmen Kompetensi Minimum ini menjadi pengganti Ujian Nasional. Ujian diberikan kepada siswa di pertengahan jenjang sekolah, seperti kelas IV, VIII, dan XI.

Terdapat tiga kemampuan yang dinilai, antara lain:

  • literasi, yaitu kemampuan nalar dan penggunaan bahasa;
  • numerasi, yaitu kemampuan matematika; dan
  • karakter, yaitu gotong-royong, kebinekaan, serta moral.

Namun, asesmen ini tidak menjadi basis seleksi siswa untuk melajutkan ke jenjang selanjutnya. Ujian ini mengacu pada standard internasional, seperti Program for International Student Assesment (PISA).

  1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Dalam hal ini, guru bebas memilih, membuat, menggunakan, dan mengembangkan format RPP. Konsep ini memuat tiga komponen inti, yaitu tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asesmen. Gaya penulisan juga dilakukan secara efisien dan efektif.

  1. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi

Membuat kebijakan PPDB lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas pendidikan. Komposisinya adalah jalur zonasi minimal 50%, jalur afirmasi minimal 15%, jalur perpindahan maksimal 5%, dan jalur prestasi 0%-30% yang disesuaikan dengan kondisi daerah.

Pemerintah daerah berwenang menentukan proporsi final dan menetapkan wilayah zonasi. Pemerintah daerah perlu mendukung pemerataan akses dan kualitas pendidikan, misalnya lewat redistribusi guru.

Kelemahan Kurikulum Merdeka Belajar

Kurikulum Merdeka Belajar lebih memfokuskan pada pengetahuan esensial dan pengembangan peserta didik berdasarkan tahapan dan prosesnya. Kurikulum ini lebih sederhana dan pembelajaran yang lebih bermakna, tidak tergesa-gesa atau terkesan menuntaskan materi, serta pembelajaran lebih terasa menyenangkan.

Peserta didik lebih merdeka, contohnya pada siswa SMA tidak ada lagi program peminatan. Peserta didik boleh menentukan mata pelajaran yang diminati sesuai bakat dan aspirasinya. Sedangkan bagi guru ialah guru dapat melaksanakan pengajaran sesuai penilaian terhadap jenjang capaian dan perkembangan peserta didik.

Namun, dibalik keunggulan Kurikulum Merdeka Belajar di atas, terdapat kelemahan yang perlu dievaluasi sebagai berikut.

  1. Dari segi implementasinya Kurikulum Merdeka masih kurang matang.
  2. Sistem pendidikan dan pengajaran yang dirancang belum terealisasi dengan baik.
  3. Kurangnya sumber daya manusia (SDM), serta sistem yang belum terstruktur.

Itulah inovasi-inovasi Nadiem yang dituangkan dalam sistem Kurikulum Merdeka Belajar dengan keunggulannya dan kelemahan yang menjadi evaluasi. Dengan begitu, pendidikan di Indonesia semakin maju dengan adanya Kurikulum Merdeka Belajar.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *