Hewan Kurban Beli Pakai Sampah, Gak Bahaya Ta?

Sleman, Jogjakeren.com – “Kurban Pakai Sampah” berhasil diluncurkan setelah sebelumnya program “Bantuan Tangki Air Pakai Sampah” dan “Periksa Kesehatan Pakai Sampah” sukses diwujudkan. Terobosan ini diungkap oleh Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU. Keberhasilan “Kurban Pakai Sampah”, menurut dosen UGM ini berkait erat dengan keberadaan Kelompok Sedekah Sampah Berbasis Masjid.

Kelompok ini bersama Kyai Peduli Sampah terus menerus mengedukasi jamaah masjid agar mampu memilah dan memilih sampah sesuai kategori sampah.

“Mereka rutin beramal saleh gotong royong mengumpulkan barang bekas sampah minimal sebulan sekali, lalu mencari pembeli dengan harga tertinggi di sekitar masjid. Uang yang diperoleh terus ditabung dan dipakai untuk membeli kambing dan sapi,” ungkap Atus yang memulai gerakan amal saleh Kyai Peduli Sampah.

Bacaan Lainnya

“Sangat terbantu, alhamdulillaah, karena dengan adanya pengelolaan barang bekas/rosok kami mempunyai tabungan untuk kurban 1 ekor kambing dan tidak terlalu membebani muda-mudi,” jelas Mansur, salah satu pengurus Kelompok Sedekah Sampah Berbasis Masjid LDII di Turi, Sleman. Sementara itu, remaja Masjid Ummu Dani Salamah Sambisari berhasil patungan sapi berkat pengelolaan sampah.

“Kami bangga. Hasil tabungan ini terbesar yang kami peroleh selama ini berkat sampah,” ujar Mas’ud selaku ketua Kelompok Sedekah Sampah.

Tahun lalu sebanyak 313 Kelompok Sedekah Sampah Berbasis Masjid resmi diluncurkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup & Kehutanan (LHK) DIY, Kusno Wibowo, S.T. M.Si., dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) LDII DIY. Kelompok ini berisikan remaja masjid sebagai tulang punggung pengurangan sampah (reduce) dari rumah tangga warga LDII se-DIY, termasuk mengupayakan sampah organik dapat habis di jugangan rumahnya masing-masing.

Melalui ibadah kurban, seorang muslim diperintahkan agar peduli dan berbagi sesama kepada orang yang minta atau orang yang tidak meminta. Sikap peduli dan berbagi inilah menjadi budi pekerti luhur yang diperintahkan oleh Allah SWT. Hari Raya Idul Adha juga menjadi momen untuk mengoptimalkan ketakwaan seorang muslim melalui kegiatan peduli dan berbagi.

Hal ini senada dengan Ketua Umum DPP LDII KH. Chriswanto Santoso yang mengajak umat Islam menata niatnya dalam berkurban. Ketakwaan kepada Allah dan keikhlasan harus menjadi landasan dalam berkurban, yang mendorong kesalehan sosial dan individu.

“Kurban bisa dilaksanakan oleh siapa saja, tidak hanya orang kaya. Mereka yang tidak mampu bisa melaksanakan kurban. Maka, kuncinya adalah ketakwaan kepada Allah. Dari rasa takwa tersebut, seseorang bisa menggerakkan diri untuk beribadah, termasuk berkurban,” ujar KH Chriswanto.

LDII mengajak warganya untuk mempraktekkan kurban sesuai dengan kemampuannya. Ketakwaan menjadi pendorong, sehingga dalam posisi strata sosial apapun, warga LDII siap untuk berkurban. “Di majelis-majelis taklim tingkat kelurahan atau PAC LDII, mereka yang tidak mampu diarahkan untuk menabung lalu patungan membeli hewan kurban bersama,” imbuh KH Chriswanto.

Di majelis-majelis taklim tersebut diajarkan ayat dan hadits mengenai keutamaan kurban, mulai dari pahala dan manfaatnya, “Amalan yang mengalahkan jihad dan paling dicintai Allah pada 10 Zulhijah atau Idul Adha adalah menyembelih kurban karena takwa,” imbuh KH Chriswanto.

DPP LDII pada 17 Juni 2024 atau 10 Zulhijah 1445 menyiapkan lebih dari 3.700 lokasi salat Idul Adha di seluruh Indonesia. Dari ribuan tempat itu, berdasarkan data tahun 2023 lalu, jumlah hewan kurban terkumpul sebanyak 47.341 ternak, dengan rincian 25.154 ekor sapi, 18 ekor kerbau, dan 22.169 ekor kambing. Menurut catatan media massa, diperkirakan kurban yang dilakukan warga LDII pada tahun 2023 memutar ekonomi sebesar Rp 652 miliar. Adapun LDII DIY hingga malam takbiran berhasil mendata hewan kurban sebanyak 639 sapi dan 777 kambing.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *