Jika Ingin Bebas Keuangan di Hari Tua, Yuk Asah Kecerdasan Finansial

  • Whatsapp
Kecerdasan Finansial
ilustrasi kecerdasan finansial (foto: kabarnesia.com)

Jogjakeren – Semakin tinggi seseorang mampu memenuhi standar/gaya hidupnya tanpa harus menukarkan waktu dan tenaganya dengan bekerja secara fisik (passive income) maka semakin tinggi pula tingkat kecerdasan finansialnya. Tujuan dari kecerdasan finansial yaitu menghasilkan passive income yang bisa memenuhi kebutuhan bahkan gaya hidupnya tanpa harus bekerja secara fisik (kebebasan finansial).

Di kawasan Asia, perbedaan kekayaan Indonesia berada di urutan ketiga setelah Thailand dan India. Menurut Global Wealth Report 2018, 1% orang terkaya menguasai hampir 46,65 total kekayaan penduduk dewasa di tanah air. Sementara 10% orang terkaya menguasai 75,3% total kekayaan penduduk Indonesia. Sedangkan, di Negeri Matahari Terbit, 1% orang terkaya hanya menguasai 18% total kekayaan penduduk dewasa. Ini mengidentifikasikan meratanya kekayaan penduduk di Jepang.

Kecerdasan finansial bukanlah fokus di aset atau kekayaan, tetapi sesungguhnya berfokus pada manusia. Manusianya dulu yang harus ditata pola pikirnya dengan memfokuskan pada sebuah tujuan hidup yang jelas. Salah satu contoh cita-cita yang baik untuk membangun kecerdasan yaitu ingin bebas secara finansial, bisa memenuhi kebutuhan anak hidup normal atau bahkan berlebih tanpa harus bekerja secara fisik atau mempunyai passive income yang mencukupi.

Metode dalam Belajar Kecerdasan Finansial

Kecerdasan finansial bukanlah sebuah bakat, siapa pun selama dia berkehendak, mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk meningkatkan kecerdasan finansialnya. Ada pendapat yang menyatakan bahwa sistem pendidikan sekolah kita saat ini tidak mengajari kita cerdas dalam masalah finansial. Secara sekilas sistem sekolah kita masih lebih fokus mengajari kita bekerja untuk mencari uang, bukan menghasilkan uang atau mengembangkan uang kita sendiri. Namun ilmu/pengetahuan mengenai kecerdasan finansial bisa dipelajari kapan saja dan tidak ada kata terlambat. Berikut metode dalam belajar kecerdasan finansial:

  1. Belajar dari pengalaman diri sendiri

Para pemilik bisnis dari berbagai pengusaha yang arus kasnya positif, pemilik properti yang disewakan, pemilik mobil atau barang-barang lain yang disewakan mungkin saja merupakan orang-orang yang mempelajari kecerdasan finansial dari tindakan nyata mereka sehari-hari, mereka bertransaksi, menjual, membeli, dan melakukan dealing setiap saat. Kadang-kadang rugi, itu biasa. Asalkan saja secara keseluruhan kasnya masih positif, mereka pun akhirnya mampu mengompensasi kerugian di suatu transaksi dengan keuntungan pada transaksi lain.

Mereka menggunakan trial and eror, learning by doing, untuk membangun kecerdasan finansial mereka. Nilai plusnya, mereka benar-benar bisa merasakan dan menghayati proses yang sedang dilakukan. Negatifnya, tentu saja harus menanggung biaya belajar yang sangat mahal.

  1. Belajar dari mentor

Secara konseptual, para mentor sudah memahami prinsip-prinsip kecerdasan finasial. Mereka suadah mempunyai contoh dan pengalaman baik dari diri sendiri maupun orang lain. Ada yang memberikan petunjuk-petunjuk berdasarkan teori ataupun pengalaman. Belajar mentor ini tetap tidak boleh ditelan mentah-mentah mengikuti teori dan pengalaman sang mentor. Maka memilih tentor harus tetap berhati-hati, memilih mereka yang benar-benar berpengalaman, tetapi juga tidak melanggar etika dan kaidah dalam berbisnis dan dalam agama.

  1. Belajar dari narasumber melalui seminar dan pelatihan

Kita bisa mengikuti kursus singkat, training atau seminar mengenai bagaimana meningkatkan kecerdasan finansial dan meraih kebebasan finansial dalam waktu relatif singkat. Kita bisa berinteraksi langsung dengan sang pembicara, yang mungki saja seorang motivator terkenal atau pakar di bidang ilmu meneganai kecerdasan finansial yang di era sekarang ini sudah relatif mudah untuk didapatkan.

Namun, pembicara tidak fokus pada diri kita. Ada puluhan bahkan sampai ratusan peserta seminar lainnya. Pembicara hanya mecoba merumuskan resep yang bersifat generik. Padahal, penerapan berbagai strategi finansial harus mmpertimbangkan karakter khusus masing-masing orang dan jenis usahanya.

  1. Belajar dari buku dan video

Para penulis dan pemateri menyajikan berbagai resep, rumus, dan kiat praktis dengan gaya bahasa simpel dan mudah dicerna, sampai kalimat-kalimat akademik yang sulit dimengerti. Penulis juga menyajikan kosakata sehari-hari yang mudah ditelaah bahkan rumus-rumus dan angka yang rumit sekalipun.

Metode boleh dilakukan dari berbagai macam pendekatan seperti yang disampaikan di atas, tinggal mencari mana yang bisa kita lakukan, mencari mana yang cocok untuk kita. Jangan menunda-nunda untuk mempelajarinya, semakin awal mempelajari ilmu kecerdasan finansial ini maka akan semakin baik untuk masa depan kita.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *