Liga Forum Sepak Bola Generasi Indonesia (FORSGI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menggelar kegiatan liga FORSGI. Jika pada sebelumnya liga FORSGI DIY dilaksanakan di Kabupaten Gunungkidul pada bulan Oktober, maka pada tahun yang sama pada hari Sabtu (14/12) liga FORSGI DIY dilaksanakan di Stadion Cangkring, Kulon Progo. Kompetisi persahabatan ini diikuti oleh 12 tim yang berasal dari seluruh kabupaten/kota se-DIY dengan kelompok usia 10 dan 12 tahun (KU-10 dan KU-12). Ini merupakan pekan akhir dari liga FORSGI DIY yang dimulai pada bulan Maret lalu dan berakhir pada bulan Desember di Kulon Progo.
Pekan akhir liga FORSGI DIY ini dihadiri oleh Pembina FORSGI DIY, seluruh pengurus dari berbagai daerah di DIY, serta Polres Kulon Progo. Ketua FORSGI DIY, Dr. Drs. H. Yulianto Hadi, S.E, M.M membuka acara. Dalam sambutannya, Hadi berpesan supaya semua peserta bermain secara sportif. Ia juga menambahkan bahwa kompetisi ini juga digelar sebagai ajang pembentukan karakter yang tidak hanya hebat secara kemampuan (hard skill) tetapi juga sikap dan perilaku (attitude) yang baik di lapangan maupun di luar lapangan. Selain itu, tujuan diadakannya liga FORSGI DIY ini juga menjadi ajang mengembangkan potensi sepak bola generasi muda di Yogyakarta.
Hujan sempat mengguyur stadion Cangkring sedari pagi, akan tetapi tidak menyurutkan para penonton dan para peserta tim untuk bertanding. Rasa semangat dan kegigihan terlihat dari bagaimana ekspresi fight dari para pemain yang ditampilkan saat bertanding. Alih-alih menjadi hambatan bagi para pemain, guyuran hujan justru menjadi penyulut semangat juang peserta dalam mengikuti kompetisi.
Seperti yang dikatakan Sulthon selaku Pembina FORSGI DIY, saat melaksanakan liga FORSGI di Bantul, “Gelaran liga FORSGI DIY ini menjadi wadah penyaringan atau talent scouting dari berbagai daerah di kabupaten/kota di DIY untuk meracik komposisi pemain terbaik sebagai perwakilan FORSGI DIY nantinya”.
Rofik selaku pelatih FORSGI Kulon Progo ikut menyampaikan harapan besarnya terhadap kompetisi ini. “Tujuan jangka panjangnya tentu tidak hanya soal mengasah kemampuan bermain bola, tapi juga sebagai ajang pembentukkan 29 karakter luhur agar setiap pemain tidak hanya handal dalam bermain bola, akan tetapi juga terbentuk mental dan karakter yang baik”, ujar Rofik.
Pada akhir kegiatan terdapat penyerahan piala sebagai apresiasi kepada pemain dan tim yang telah gigih bertanding selama 8 bulan. Tim dari Sleman berhasil menjadi juara liga FORSGI DIY pada KU-10 sekaligus juara KU-12. Raut wajah kebahagiaan terpancar kepada seluruh pemain dan official tim.
Reporter: Hendra





