Lomba Melamun di Jogja Tarik Minat Ratusan Peserta dari Berbagai Daerah

lomba melamun di jogja
lomba melamun di jogja

Jogjakeren.com – Sebuah acara unik di Kotagede, Yogyakarta, berhasil menarik perhatian banyak orang. Ratusan peserta berbondong-bondong datang ke sebuah lapangan untuk mengikuti lomba melamun di Jogja. Ajang ini bukan hanya sekadar perlombaan, melainkan sebuah ruang untuk jeda dari hiruk pikuk kehidupan.

Para peserta datang dengan berbagai alasan. Ada yang sekadar penasaran, namun tak sedikit juga yang datang untuk mencari waktu istirahat bagi pikiran mereka. Salah satu peserta dari Jakarta, Alfina Tri Agustin (25), mengaku mengikuti lomba ini karena merasa cocok dengan kondisinya yang sedang mengalami quarter life crisis.

 

Read More

Melamun sebagai Terapi di Tengah Kesibukan Hidup

Alfina, seorang konten kreator, merasa bahwa semakin dewasa, semakin banyak pula pikiran yang harus dihadapi. Lomba ini menjadi momen langka baginya untuk melamun tanpa gangguan. Ia merasa lelah dengan ritme hidup yang terlalu cepat di Jakarta, dan lomba melamun di Jogja ini memberinya kesempatan untuk “melambat”.

Lain halnya dengan Ibnu Wahyu Nugroho dari Kulonprogo. Ia datang hanya karena rasa penasaran. Namun, ia justru tersadar bahwa melamun tidak semudah yang dibayangkan, terutama ketika dilakukan secara berkelompok.

“Ternyata melamun itu kalau enggak terbiasa ya susah, loh. Apalagi bareng-bareng gini,” katanya, yang akhirnya terdiskualifikasi karena bingung harus melamunkan apa. Ibnu mengaku hidupnya terlalu nyaman, sehingga tidak ada yang perlu dipikirkan secara mendalam.

 

Ide Unik dan Sistem Penilaian

Ide unik lomba melamun di Jogja ini dicetuskan oleh Tamasya Karsa, sebuah gerakan yang berfokus pada kegiatan di Kotagede. Salah satu kolaborator, Muhammad Primas Trijati, terinspirasi dari lomba serupa di Jepang.

Berbeda dengan di Jepang yang menggunakan detektor jantung, sistem penilaian di Jogja dilakukan secara manual oleh para juri. Juri yang terdiri dari psikolog dan pegiat slow living bertugas memantau ekspresi dan ketahanan peserta. Jika ada peserta yang kedapatan tidak melamun atau kehilangan konsentrasi, juri akan meniup peluit sebagai tanda diskualifikasi.

Perlombaan ini terdiri dari babak penyisihan dengan durasi 60 menit. Setelah itu, 20 peserta terbaik akan maju ke babak final. Pemenang akan dipilih berdasarkan kategori peserta paling ekspresif, melamun paling lama, dan kostum terbaik.

Acara ini juga diramaikan dengan berbagai distraksi, seperti lagu-lagu yang sengaja diputar untuk menguji konsentrasi para peserta.

Primas Trijati mengatakan, “Di masa sekarang, semua serba cepat. Kita pengen coba bikin ruang untuk melambat. Lewat lomba melamun di Jogja ini, orang bisa sadar dan sengaja mengambil waktu untuk diam, bengong, atau sekadar membiarkan pikiran melayang.”

Awalnya panitia hanya menargetkan 20 peserta, namun peminatnya membludak hingga mencapai 120 orang. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Jogja, Solo, bahkan Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang, terutama anak muda, membutuhkan ruang untuk jeda dan merenung di tengah tuntutan hidup yang serba cepat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *