Sleman, Jogjakeren.com – Sebanyak 15 mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan kunjungan ke desa wisata Sangurejo di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (15/2/2025). Kunjungan tersebut didampingi Dosen Pembimbing Lapangan, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU. dengan maksud mengajak mahasiswa mengenal lebih dalam mengenai apa saja yang menjadi fokus utama pada pembangunan Program Kampung Iklim (ProKlim) Sangurejo hingga berhasil mendapat penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.
“ProKlim tercipta dari salah satu program kerja yang dimiliki oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kala itu dalam mengatasi isu pemanasan global atau global warming. Pemanasan global merupakan istilah yang menggambarkan terjadinya rata-rata kenaikan suhu di atmosfer, lautan dan daratan bumi,” jelas Atus yang saat ini aktif mengajar di Fakultas Kehutanan UGM.
Dalam upaya membangun ProKlim di Dusun Sangurejo, Atus menjelaskan setidaknya terdapat 8 topik utama yang menjadi fokus kegiatan dalam ProKlim. Delapan topik utama tersebut di antaranya tutupan hijau, konservasi tanah dan air, pengelolaan sampah, energi terbaru dan terbarukan, optimalisasi pekarangan, pemanenan air, olahraga masyarakat, serta kesehatan masyarakat.
“Dusun Sangurejo yang awalnya berupa padukuhan kumuh, miskin, dan padat dengan adanya ProKlim membuat Dusun Sangurejo saat ini menjadi dusun maju dan berkembang. Hal tersebut dapat dilihat dari tutupan hijau seperti pohon-pohonan yang tumbuh rindang di sekitar Embung Kaliaji yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke lokasi tersebut,” ujar Atus yang juga salah satu penggerak ProKlim Sangurejo.
Topik utama ProKlim Sangurejo selanjutnya adalah teknik konservasi tanah dan air yang dilakukan dengan pembuatan rorak yaitu lubang-lubang yang dibuat dengan ukuran tertentu dan dibuat pada bidang yang sejajar dengan kontur. “Rorak dibuat untuk menampung sampah organik hasil dari pemangkasan pohon dan air hujan yang dapat membantu optimalisasi penyerapan air dalam tanah,” ujar Atus.
Fokus ProKlim selanjutnya yakni pengelolaan sampah hasil rumah tangga yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Dusun Sangurejo yaitu dengan membuat jugangan di belakang atau samping rumah. “Sampah organik yang dihasilkan dimasukkan ke dalam jugangan, sedangkan sampah anorganik dikumpulkan lalu dipilah yang nantinya akan dijual,” ujarnya.

Dusun Sangurejo, lanjutnya telah menerapkan energi terbaru dan terbarukan dengan sedikitnya terdapat 4 panel sel surya yang terdapat di sekitar Embung Kaliaji dan tempat instalasi pemanenan air hujan. Selain itu, hal lain yang dapat dilakukan untuk menghemat energi adalah rumah yang menggunakan kaca sebagai media penerangan alami dengan memanfaatkan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah.
“Hal tersebut setidaknya dapat menghemat energi listrik yang digunakan pada saat siang hari yang nantinya juga dapat menghemat pembayaran listrik masyarakat sekitar,” kata Atus menjelaskan fokus ProKlim keempat Dusun Sangurejo.
Adapun fokus ProKlim Sangurejo selanjutnya adalah optimalisasi pekarangan yang dilakukan masyarakat Dusun Sangurejo dari adanya ProKlim yaitu menanam sayur-sayuran, buah-buahan serta empon-empon. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya dalam memanfaatkan lahan pekarangan warga agar lebih optimal.
Contoh tanaman yang banyak ditanam oleh warga yaitu pohon salak, manggis, pepaya, daun bawang dan jenis tanaman lainnya. “Hal tersebut juga mendukung warga Dusun Sangurejo agar mengonsumsi makan-makanan yang bergizi dari hasil panen tanaman yang mereka tanam sendiri,” kata Atus.
Topik utama ProKlim Sangurejo lainnya, warga Dusun Sangurejo berhasil memanfaatkan air hujan menjadi air yang dapat langsung dikonsumsi. Air hujan dipanen kemudian dialirkan melalui paralon yang telah terpasang filter lalu ditampung menggunakan tandon air atau toren air.
“Air tersebut diyakini warga sekitar memiliki banyak manfaat salah satunya yaitu dapat menyembuhkan penyakit. Manfaat lainnya yaitu warga Dusun Sangurejo dapat menghemat biaya untuk membeli galon air,” ujar Atus.
Selain itu, terdapat biopori yang digunakan untuk menyimpan air agar mencegah terjadinya banjir dan adanya genangan yang diakibatkan oleh hujan. Genangan air dapat membuka peluang terjadinya penyakit seperti malaria, DBD, leptospirosis dan penyakit lainnya yang disebabkan oleh gigitan nyamuk ataupun kehadiran tikus.

Atus menyebut, biopori juga bermanfaat sebagai tempat pembuangan sampah organik yang nantinya dimanfaatkan sebagai kompos. “Pemanenan air yang dilakukan juga sebagai upaya dalam menyadarkan masyarakat untuk penggunaan air secara bijak,” imbuhnya.
Olahraga dan kesehatan masyarakat juga menjadi topik utama yang menjadi fokus ketujuh dan kedelapan ProKlim yang ada di Dusun Sangurejo. Untuk mengubah citra dusun menjadi bersih, sejahtera, dan lingkungan yang berkelanjutan, maka masyarakatnya juga harus produktif yaitu salah satunya dengan melakukan olahraga rutin yang diadakan minimal 1 minggu sekali.
“Dengan begitu, diharapkan masyarakat dapat lebih peduli dan sadar akan pentingnya kesehatan jasmani dan rohani,” pungkas Atus.
Upaya ProKlim yang dilakukan di Dusun Sangurejo ini diharapkan dapat mengubah citra dusun menjadi lebih baik dengan menjadikan desa wisata yang dapat menarik perhatian setiap pengunjung yang datang ke lokasi tersebut.





