Menantu

Menantu
Ilustrasi menantu dan mertua (Foto: magdalene.co)

Jogjakeren.com – Membaca cerita di medsos tentang mertua yang jahat terhadap menantunya, hati ini gemas rasanya. Bahkan ada yang sampai menguasai kiriman uang belanja anak mantunya sampai si anak mantu jadi pemulung, jadi tukang ojek. Apa ada mertua jahat seperti itu?

Sepertinya cerita itu hanya diadopsi dari negeri seberang yang memang sangat materialistik. Kalau di negeri tercinta ini, kami pikir tidaklah sejahat itu. Entahlah. Yang jelas kami sangat sayang pada anak mantu kami.

Kami mempunyai 3 putra yang semuanya sudah menikah. Ketiganya tidak tinggal bersama kami. Mereka tinggal di rumah mereka sendiri.

Kami memang sudah membuat peraturan, setelah anak menikah, mereka sudah harus ‘keluar’ dari rumah. Kalau belum mampu membeli rumah ya mengontrak rumah.

Mereka sudah memutuskan menikah, sudah seharusnya siap hidup mandiri. Karena menurut kami dengan demikian mereka lebih bebas dan lebih bahagia. Dan satu lagi, agar lebih bisa merasakan suka-duka berumah tangga. Hal ini akan lebih cepat mendewasakan pasangan muda itu.

Kembali lagi ke soal menantu. Kami selalu berusaha agar mantu-mantu kami merasa nyaman dan bahagia mempunyai mertua seperti kami.

Kami perlakukan mereka seperti anak sendiri dan sebagai sahabat yang bisa saling curhat dalam urusan perempuan. Terutama tentang hal yang menyangkut suami mereka, yaitu putra kami. Pokoknya kami berada di garda terdepan dalam membela mereka bila putra kami berbuat sesuatu di luar rel perkawinan.

Alhamdulillah respon yang mereka berikan pada kami dan pada suami juga sangat positif. Ketiganya sangat menghormati dan sayang pada kami.

Jika sedang sibuk, mereka boleh kok menitip anak kepada kami. Kami belum terlalu tua untuk menjaga cucu. Kami bahkan senang kalau mendapat titipan bernyawa yang bernama cucu itu.

Anak yang rumahnya tidak jauh dari kami, sering mengantari buah-buahan, kue atau apa saja yang mereka tau kami suka. Ini terjadi sebab mantu kami perhatian, iya kan?

Sesekali kami berkumpul untuk sekedar makan bersama. Saat berkumpul itulah kami bisa mendeteksi perkawinan putra kami ada masalah atau tidak.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *