Cara Menyusun Karya Ilmiah Ala Mahasiswa Korsel dan Belanda

Menyusun Karya Ilmiah
Narasumber Pelatihan Jurnalistik #6 Chairul Umar Sin, S.S., B.B.A., lulusan S1 Logistics Management, Hogeschool van Arnhem en Nijmegen (HAN) (atas), Ryan Febriansyah Amd.T., S.T., mahasiswa S2 IT Convergence, Kumoh National Institute of Technology, Korea Selatan (tengah), dan Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., dosen UGM yang pernah mengenyam Pendidikan S2-S3 Ehime University, Jepang (bawah).

Jogjakeren.com – Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis karya ilmiah. Pasalnya, menulis karya ilmiah tidak bisa sembarangan, karena memerlukan latar belakang permasalahan, metode pengumpulan data yang valid, hasil dan pembahasan, serta penyimpulan yang sesuai dengan tujuan.

Sebenarnya banyak hal lain yang acap kali diulik lebih detail, seperti: cara memilih judul dan hal-hal yang harus dihindari. Semua persoalan ini terungkap dalam pelatihan jurnalistik #6 “Cara Menyusun Karya Ilmiah/Skripsi”.

Acara yang diselenggarakan secara daring oleh LDII News Networks (LINES) Kalasan, Sleman ini menghadirkan tiga narasumber dari Korea Selatan, Belanda, dan Indonesia, Sabtu (18/9/2021). Mereka adalah Ryan Febriansyah Amd.T., S.T., mahasiswa S2 IT Convergence, Kumoh National Institute of Technology, Korea Selatan.

Read More

Lalu Chairul Umar Sin, S.S., B.B.A., lulusan S1 Logistics Management, Hogeschool van Arnhem en Nijmegen (HAN), Belanda, dan Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., dosen UGM yang pernah mengenyam Pendidikan S2-S3 Ehime University, Jepang. Acara ini bahkan menjadi kelas khusus skripsi bagi mahasiswa Kampus Karakter “Idea Karakter Indonesia” STAI Yamisa Soreang Bandung.

Karya Ilmiah Ala Mahasiswa Luar Negeri

Ryan membagikan pengalamannya selama menyelesaikan kuliah S1 di Telkom University dan menjalani kuliah S2 di Korea Selatan. Aktif terlibat dalam banyak projek serta lomba karya ilmiah dalam dan luar negeri menjadikan Ryan mudah menemukan judul yang sesuai minat dan bakatnya.

Menyusun Karya Ilmiah
Drone kumbang quadcopter yang diciptakan Ryan sebagai syarat kelulusan menempuh D3 di Telkom University

Pencipta drone kumbang quadcopter inipun merasakan kemudahan saat menuliskan penemuannya dalam bentuk skripsi. Dengan berbekal paten dan berbagai penghargaan (award) tersebut mengantarkan Ryan berhasil memperoleh beasiswa S2 dari Korean Global Scholarship Program (Global Korea Scholarship) di Kumoh National Institute of Technology.

Lain lagi proses skripsi di Belanda, sejak awal mahasiswa sudah dilatih menyusun karya tulis, seperti: rencana projek, rencana bisnis, esai, dll. Pada tahun pertama S1, Umar Sin diminta menyusun rencana bisnis suatu produk kreatif, lalu melakukan pendalaman teorinya pada tahun kedua. Tujuannya untuk mempersiapkan mahasiswa menyusun skripsi.

Menyusun Karya Ilmiah
Umar Sin saat melaksanakan magang pertamanya pada semester kedua di Business Administration, Xiamen University, Tiongkok

Umar Sin juga disyaratkan 2x magang sebelum diperbolehkan mengerjakan skripsi. Mubaligh yang saat ini bekerja di Hitachi-LG Amsterdam ini bisa memulai magang pertamanya pada semester kedua di Business Administration, Xiamen University, Tiongkok, lalu di Bayer Medical Care Belanda pada tahun ketiga sebagai magang kedua.

Umar yang pernah menyelesaikan S1 UNNES Semarang menekankan pula keharusan penggunaan kata-kata yang efesien selama 15 menit presentasi ujian pendadaran. Untuk itu, persiapan matang dan latihan presentasi berkali-kali sangat dibutuhkan. “Pertanyaannya kritis-kritis. Orang Belanda terbiasa kritis sejak kecil,” ungkap Umar Sin.

Sementara itu, menurut Atus selaku dosen Fakultas Kehutanan UGM, pendahuluan atau latar belakang suatu karya ilmiah haruslah disusun berdasarkan informasi yang valid, sehingga diperlukan sitasi dari banyak publikasi sebelumnya. Jurnal merupakan sumber informasi terbaik untuk disitasi, karena telah melewati serangkaian ulasan (review). Sedangkan coretan di dalam blog belumlah pantas untuk dijadikan acuan akibat relatif tingginya tingkat subyektifitas penulis blog. Untuk itu, saat menulis sebuah karya ilmiah diperlukan ketrampilan untuk banyak membaca.

“Saat S2-S3 di Jepang, seminar mahasiswa mingguan selalu diadakan oleh laboratorium. Profesorpun sering bertanya berapa jurnal yang telah kamu baca? Harus lebih dari 100, walaupun kita aktivis,” jelas Atus yang pernah aktif selaku Presidium Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jepang.

Adapun hal-hal utama yang harus dihindari ketika menyelesaikan karya ilmiah, dikatakan Atus bagaikan dosa besar mahasiswa skripsi. Tidak menjalani mata kuliah skripsi dengan benar adalah kesalahan pertama. Skripsi sebagaimana mata kuliah lainnya, memiliki pula besaran Satuan Kredit Semester (SKS), sehingga penting untuk mengikutnya sesuai besaran SKS yang ada.

“Mencicil skripsi sedikit demi sedikit itu bagaikan mengikuti kuliah setiap minggu. Jika mahasiswa menunda, progres skripsi itu tidak sama dengan diam di tempat. Melainkan mahasiswa akan bisa terkena mental down akibat terus menerus menunda mengerjakan skripsi. Tidak sama dengan nol, bahkan minus karena mentalnya terus terkikis, semakin berat untuk memulai menulis kembali,” urai Atus.

Kesalahan berikutnya, tidak memanfaatkan Dosen Pembimbing Skripsi (DPS) dan/atau Dosen Pembimbing Akademik (DPA) sebagai mentor skripsi. Padahal DPS/DPA sudah berpengalaman membimbing banyak mahasiswa. Yang ketiga, mahasiswa melakukan plagiarisme. Tata Bahasa dan pilihan kata dalam karya ilmiah haruslah sesuai dengan KBBI. Bahasanya baku dan isinya dapat dipertanggungjawabkan, termasuk metode yang diuraikan bisa diulangi oleh peneliti lainnnya.

“Jangan pernah melakukan copy paste saat mengerjakan karya ilmiah. Cobalah sekuat tenaga untuk melakukan paraphrase. Ini karena setiap mahasiswa memiliki rasa bahasanya. Saat menjliplak orang lain, maka rasa bahasanya dapat ditebak bahwa itu bukan miliknya,” ungkap Atus.

Saat ditanya mengenai cara memilih judul yang menarik, alih-alih menjelaskan, Atus malah mempertanyakan penting manakah judul yang menarik ataukah judul skripsi yang paling mudah diselesaikan, murah dan cepat.

“Sebagai reviewer LPDP, saya tidak pernah bertanya mengenai judul skripsi. Bahkan, di dalam skripsi juga tidak mencantumkan judul skripsi. Tapi ya, silahkan itu hak mahasiswa untuk mengerjakan skripsi dengan judul yang menarik, seperti saat ini berkaitan dengan pandemi Covid-19, namun jangan sampai malah menyulitkan diri sendiri,” jawab dosen yang aktif sebagai Task Force Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat UGM.

Walaupun penulisan karya ilmiah tidak bisa sembarangan, namun bukan berarti tidak dapat diselesaikan tepat waktu. Perencanaan yang baik, proses mentoring secara rutin, serta senantiasa berkonsultasi jika menemui kendala dapat ditempuh oleh setiap mahasiswa.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *