Sleman – Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu masyarakat Yogyakarta kian tergerus perkembangan zaman. Di tengah derasnya arus digital dan budaya global, generasi muda dituntut untuk tetap menjaga akar budayanya. Salah satu upaya itu hadir melalui pelatihan Master of Ceremony (MC) Basa Jawa yang digelar di Aula Masjid Darul Hikmah, Sambilegi Kidul, Maguwoharjo, Depok, Sleman, pada 23–24 September 2025.
Pelatihan yang diikuti 63 peserta ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang pelestarian. Anak-anak muda diajak untuk berani tampil sebagai pembawa acara dalam bahasa Jawa yang santun. Mulai dari cara menyapa audiens, menyusun kalimat pembuka, hingga menyampaikan doa penutup dengan tutur bahasa yang halus.
“Bahasa Jawa jangan sampai hilang karena perkembangan zaman. Justru di era digital ini, anak-anak muda harus percaya diri menggunakan bahasa ibu. Dengan begitu, budaya lokal tidak sekadar dikenang, tapi juga terus dipraktikkan,” ujar anggota DPRD Sleman, Guntur Yoga Purnawan, yang hadir memberi dukungan.
Para peserta tampak antusias. Mereka berlatih langsung membawakan acara, berdiskusi, serta mencoba gaya bahasa yang sesuai dengan konteks. Banyak di antara mereka merasa lebih percaya diri untuk tampil di depan umum.
Pelatihan ini menjadi pengingat bahwa menjaga budaya lokal tidak harus dengan cara yang rumit. Melalui acara-acara sederhana, generasi muda bisa belajar mencintai bahasa ibu. Lebih dari itu, kegiatan seperti ini membuka ruang bagi anak-anak muda untuk menjadikan bahasa Jawa tetap relevan, bahkan di era serba digital.
Menurut penyelenggara, pelatihan ini bukan sekadar memberi keterampilan berbicara, melainkan juga menanamkan rasa bangga terhadap warisan leluhur. “Alhamdulillah, peserta sangat antusias. Dengan pelatihan ini, kami berharap lahir MC-MC muda yang mampu membawakan acara dengan bahasa Jawa yang santun, baik di lingkungan masyarakat maupun di kegiatan formal,” ungkap Ketua PC LDII Depok H. Suyadi.





