Penilaian Akhir Semester: Model Pembinaan Generasi Penerus yang Berorientasi pada Peningkatan Kualitas

Penilaian Akhir Semester
Dari usia dini hingga usia dewasa, santri TPA Al Manshurin mengikuti Penilaian Akhir Semester Genap pada Minggu (16/7/2023).

Jogjakeren.com – Sekitar sebulan lagi, Indonesia akan berusia 78 tahun, usia yang cukup matang bagi suatu negara. Sebelum mencapai usia tersebut pada 17 Agustus 2023, terdapat kejadian penting yang menjadi refleksi bagi pembangunan bangsa.

Bermula dari awal 2023, Indonesia dihebohkan dengan berita kehamilan remaja di luar nikah di Ponorogo dengan total ratusan kasus. Alih-alih mempermasalahkan yang telanjur terjadi, salah satu ormas Islam, LDII telah dan terus melakukan tindakan preventif melalui pembinaan generasi penerus (generus) serta mendorong keterlibatan masyarakat untuk mendidik dan membangun karakter anak.

Pembinaan generus merupakan langkah awal yang akan memberikan dampak signifikan pada masa mendatang. Mencermati piramida penduduk Indonesia 2022 yang berbentuk ekspansif, terlihat bahwa usia produktif mendominasi. Sementara kelompok usia tersebut sebagian besar telah berada pada tahap berkarya atau lebih banyak praktik daripada kemungkinan untuk dilakukan pembinaan karakter.

Read More

Terkait dengan piramida penduduk ekspansif, perlu dilakukan investasi pada kelompok usia yang belum produktif untuk menghadapi Indonesia emas 2045 dan menyongsong puncak bonus demografi 2050. Indonesia dalam 22-27 tahun ke depan tergantung pada bagaimana pembinaan generus sekarang yang akan memberikan pengaruh besar nantinya. Pengaruh ini dari kelompok usia anak masa kini dan penduduk yang akan berkeluarga atau memiliki keturunan berusia produktif pada periode 22-27 tahun ke depan.

Investasi melalui pembinaan generus salah satunya dimulai dari pendidikan agama di masjid atau Taman Pendidikan Alquran (TPA). Perencanaan, pelaksanaan (kerja-kontrol), dan evaluasi pembelajaran merupakan tahapan standar yang diterapkan dalam pembinaan generus LDII. Ketiga tahapan tersebut kini dapat dioptimalkan secara langsung, sehubungan dengan pencabutan status pandemi Covid-19 di Indonesia oleh Presiden Ir. Joko Widodo sejak 21 Juni 2023.

Evaluasi pembelajaran tidak terlewatkan dalam pembinaan generus LDII. Dari jenjang usia dini (PAUD/TK/sederajat), anak (SD/sederajat), remaja awal (SMP/sederajat), remaja (SMA/sederajat), hingga remaja mandiri (sekolah tinggi/bekerja) yang belum berkeluarga, santri atau generus diwajibkan mengikuti Penilaian Akhir Semester (PAS) seperti halnya evaluasi per semester di sekolah formal. Evaluasi berupa bacaan Alquran, cara bersuci, praktik ibadah, praktik menyampaikan kembali materi, dan hafalan disesuaikan dengan jenjang generus.

Telah dilakukan PAS genap 2022/2023 di TPA naungan LDII, salah satunya di TPA Al Manshurin yang berada di bawah PAC LDII Bumijo, Jetis, Kota Yogyakarta. PAS dilaksanakan pada Minggu (16/7/2023) pukul 16.00-selesai dengan peserta sejumlah 30 orang, 24 orang panitia (termasuk penguji), dan 2 orang peninjau dari PC LDII Mlati dan DPD LDII Sleman.

“Evaluasi pembelajaran kali ini berbeda dari sebelumnya, yaitu ada perubahan istilah dari munaqosyah menjadi PAS,” terang H. Sudarmono, S.T., selaku dewan pembina PAC LDII Bumijo.

Perubahan istilah ini merupakan bentuk penyesuaian terhadap kondisi terkini meskipun pada dasarnya, substansi keduanya sama. “Diharapkan ada peningkatan dari sebelumnya, yaitu generus menjadi lebih baik dan lebih paham,” tambah Sudarmono. Dengan begitu, generus siap memasuki kelas berikutnya dengan standar materi yang lebih tinggi pada tahun baru Islam 1445 H mendatang.

“Secara umum, PAS di TPA Al Manshurin berjalan dengan baik, terlihat dari kesiapan ruang, daftar hadir, formulir penilaian, panitia, dan perangkat pendukung lainnya,” ungkap H. Fatkhur Rozi selaku peninjau. Pada tingkat individu, generus yang mampu melalui PAS dengan baik umumnya menunjukkan sikap tertib sehingga berpotensi memiliki karakter yang baik pula.

Dengan demikian, PAS dapat menjadi salah satu bagian dari model pembinaan generus yang tidak sulit diterapkan dan dapat dipertanggungjawabkan. Model ini berorientasi pada peningkatan, dalam hal ini pendidikan, yang berkontribusi bagi peningkatan indeks pembangunan manusia (human development index) guna mendukung kemajuan bangsa.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment