Samiri si Pembuat Patung Anak Sapi Emas

Samiri si Pembuat Patung
Ilustrasi Samiri si Pembuat Patung Anak Sapi Emas (sumber gambar: freepik)

Jogjakeren.com – Setelah Allah membelah Laut Merah dan membinasakan Firaun, Nabi Musa bersama kaumnya, Bani Israil, melanjutkan perjalanan. Nabi Musa kemudian pergi ke Gunung Sinai untuk menerima wahyu dari Allah selama 40 hari. Selama kepergian Musa, kaumnya ditinggalkan di bawah pimpinan Nabi Harun, saudara Musa.

Namun, di tengah-tengah Bani Israil, muncul sosok bernama Samiri. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Samiri adalah seorang ahli sihir yang memanfaatkan kelemahan dan ketidaksabaran kaumnya. Ia mengumpulkan perhiasan emas yang dibawa oleh Bani Israil dan melemparkannya ke dalam api. Dengan tipu dayanya, Samiri membuat sebuah patung anak sapi dari emas yang mengeluarkan suara melenguh.

Samiri kemudian berkata kepada Bani Israil, yang dijelaskan dalam Qs. Taha aya 88:

Read More

فَاَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهٗ خُوَارٌ فَقَالُوْا هٰذَآ اِلٰهُكُمْ وَاِلٰهُ مُوْسٰى ەۙ فَنَسِيَۗ ۝٨٨

(Dari perapian itu) kemudian dia (Samiri) mengeluarkan untuk mereka patung berwujud anak sapi yang bersuara. Mereka lalu berkata, “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa (bahwa Tuhannya di sini).”

Sebagian besar dari mereka pun dengan mudah tertipu. Mereka menyembah patung anak sapi itu, padahal mereka baru saja menyaksikan mukjizat besar dari Allah dan diselamatkan dari kekejaman Firaun.

Ketika Nabi Musa kembali, ia sangat marah melihat kaumnya kembali menyembah berhala. Musa menghancurkan patung anak sapi itu dan menyebarkan debunya ke laut. Ia kemudian menanyakan kepada Samiri alasan perbuatannya. Samiri menjawab bahwa ia mengambil segenggam jejak Rasul (Jibril) dan melemparkannya ke dalam patung itu, sehingga patung itu hidup dan mengeluarkan suara.

Sebagai hukuman, Samiri diisolasi dari masyarakat. Al-Qur’an menyebutkan bahwa ia tidak boleh menyentuh atau disentuh oleh siapa pun. Ia hidup dalam kesendirian hingga akhir hayatnya. Kisah Samiri menjadi pelajaran berharga tentang bahaya mengikuti hawa nafsu dan bisikan setan.

Cerita ini juga menunjukkan betapa rentannya keimanan seseorang jika tidak didasari oleh pemahaman yang kuat, serta bagaimana tipu daya bisa menipu banyak orang dalam sekejap. terlebih dizaman sekarang kemaksiatan tersebar luas dimana-mana, jika kita tidak membentengi diri, maka dengan mudahnya kita akan terpengaruh pada berbuatan maksiat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *