Sanggar ECSA, Dukung Proklim Melalui Ecoprint Ramah Lingkungan

Ecoprint ECSA
Peserta sanggar ECSA meletakkan daun ke atas kain dalam proses ecoprint.

Jogjakeren.comSanggar Ecoprint dan Craft Sangurejo (ECSA) merupakan sanggar pemberdayaan masyarakat yang bergerak dalam kegiatan pelatihan ecoprint dan kerajinan. Sanggar ECSA ini berlokasi di Desa Wisata Sangurejo, Wonokerto, Turi, Sleman.

Berdirinya sanggar ECSA, bermula karena perintisan Program Kampung Iklim (Proklim) di Dusun Sangurejo. Dimana Program Kampung Iklim diarahkan untuk mendukung kebijakan pembangunan menuju rendah karbon dan berketahanan iklim. Untuk itu, dalam mensukseskan Proklim Dusun Sangurejo maka digalakkanlah kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan ecoprint dengan bahan dasar ramah lingkungan.

Dalam pelatihan ecoprint, Sanggar ECSA menggandeng langsung Ira Fatmawati selaku Pengurus Asosiasi Eco-printer Indonesia (AEPI) sekaligus pendiri Omah Fatma. Pelatihan ecoprint sudah dimulai sejak bulan Februari yang mana saat itu sebagai program pencanangan kampung Proklim.

Read More

Ira Fatma manyampaikan kontribusi ecoprint dalam Proklim dengan cara mendukung program lingkungan hijau dengan kampanyenya ecoprint yaitu kerajinan yang berbasis ramah lingkungan. “Ecoprint itu mencetak di atas kain, kertas, atau keramik dari bahan yang ramah lingkungan. Dimulai dari cara memilih tanaman, memetik tanaman, hingga bahan penggunaan ecoprint,” terangnya.

Ira Fatma juga menyampaikan proses paling riskan dalam ecoprint ada di proses mordan. Proses dimana memasukan bahan kimia ke dalam kain agar kain tersebut bisa mengikat warna yang dihasilkan dari tanaman. “Yang diperhatikan agar ketika proses mordan aman dari lingkungan yaitu dengan menakar bahan kimia hingga kadar kimia yang dihasilkan rendah. Hal tersebut agar aman ketika air yang dibuang tidak membawa racun untuk lingkungan,” jelasnya.

Pencanangan Proklim yang awal mula hanya sekedar menanam pohon untuk penghijauan, ternyata proses menata kampung iklim juga dapat dijadikan sebagai kebutuhan pangan dan sandang. Karena bahan dari lingkungan bahkan limbah pun bisa dimanfaatkan salah satunya sebagai bahan ecoprint.

Untuk itu, sebagai tindak lanjut persiapan evaluasi Proklim Dusun Sangurejo yang akan dilakukan pada 20 Juni mendatang, sejak akhir bulan Mei sampai pertengahan bulan Juni sanggar ECSA sangat intensif  mengadakan pelatihan ecoprint dengan berbahan dasar asli tanaman yang berasal dari lingkungan Dusun Sangurejo.

Bahan yang digunakan mulai dari daun jambu, daun mangga, daun kenikir, daun jarak kepyar, daun singkong china, daun kelor, daun kayu putih, daun jati, daun cemara, hingga kulit manggis dan kulit salak.

Perlu anda ketahui, yang menjadi ciri khas Ecorprint Sangurejo dengan yang lain yaitu pada proses pengembangan dan pewarnaan yang berbahan dasar limbah kulit salak. Limbah kulit salak tersebut diproses sebagai bahan pewarna kain yang mana menghasilkan warna kalem pada kainnya.

Sanggar ECSA
Hasil ecoprint dengan cara teknik kukus.

Adapun output yang telah dihasilkan sanggar ECSA di antaranya ada kain panjang sebagai bahan baju, sprei, gorden, sarung bantal, sarung kursi, tumbler minum, mukena, totebag, dll.

Nuraini selaku ketua sanggar ECSA berharap dengan didirikannya sanggar ecoprint selain untuk mendapat ilmu dan keterampilan tetapi bisa meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat terlebih di Desa Wisata Sangurejo. “Pengembangan untuk sanggar ke depan, semoga dengan didukung adanya Desa Wisata yang berbasis Kampung Pramuka dan Proklim, ecoprint bisa menjadi nilai jual, cendera mata dan daya tarik wisatawan untuk belajar ecoprint,” ujarnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *