Jogjakeren.com – Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mempertahankan status siaga karhutla (kebakaran hutan dan lahan) hingga akhir Agustus 2025. Langkah ini diambil menyusul potensi peningkatan kebakaran hutan selama puncak musim kemarau, yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga September, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyatakan bahwa keputusan ini mempertimbangkan prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta peningkatan titik panas di sejumlah daerah. Status ini berlaku khususnya untuk daerah-daerah rawan seperti Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.
Sejauh ini, beberapa provinsi telah menetapkan siaga darurat karhutla dan mulai mengaktifkan sistem pemantauan serta penanggulangan dini. Suharyanto menegaskan bahwa TNI, Polri, serta relawan dan petugas daerah telah disiagakan untuk melakukan pemadaman cepat, terutama di lahan gambut yang mudah terbakar.
Pemerintah pusat juga menyediakan bantuan logistik, teknologi modifikasi cuaca (TMC), serta dukungan operasional lainnya untuk memperkuat upaya penanggulangan. Langkah antisipatif ini diharapkan dapat menghindari dampak buruk terhadap kesehatan, transportasi, hingga sektor ekonomi seperti perkebunan dan pariwisata.
Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan jika melihat asap atau api di kawasan hutan dan lahan.
Dengan diperpanjangnya status siaga karhutla hingga akhir Agustus 2025, pemerintah berharap dapat menjaga kestabilan lingkungan dan keselamatan warga di daerah rawan kebakaran.





