jogjakeren.com – Tradisi Saparan Bekakak di Bantul merupakan salah satu upacara adat yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Yogyakarta, khususnya di wilayah Gamping dan Ambarketawang.
Tradisi ini dilakukan setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa, biasanya bertepatan dengan bulan kedua dalam kalender Hijriyah. Perayaan ini tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga menyuguhkan nuansa budaya dan kuliner khas yang menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.

Tradisi Saparan Bekakak di Bantul sebagai Wujud Rasa Syukur Masyarakat
Tradisi Saparan Bekakak di Bantul pada awalnya merupakan bentuk penghormatan masyarakat kepada pendiri Desa Ambarketawang, yaitu Ki Ageng Wonolelo.
Upacara ini disertai dengan penyembelihan dan penyajian “bekakak”, yaitu sepasang boneka manusia dari tepung ketan atau kadang hewan ternak seperti kambing, yang dipersembahkan sebagai simbol pengorbanan. Ritual ini menggambarkan doa dan rasa syukur masyarakat atas rezeki, keselamatan, dan hasil bumi yang mereka dapatkan setiap tahun.
Tradisi Saparan Bekakak di Bantul Menarik Perhatian Wisatawan
Tradisi Saparan Bekakak di Bantul tidak hanya menjadi acara adat bagi masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian wisatawan. Setiap tahunnya, ribuan orang memadati area Ambarketawang untuk menyaksikan prosesi ritual, arak-arakan, hingga suguhan hiburan rakyat.
Selain itu, di sekitar lokasi acara banyak pedagang kuliner tradisional yang menjual makanan khas Bantul, seperti geplak, jenang, sate klathak, hingga wedang uwuh. Hal inilah yang membuat tradisi ini tidak sekadar upacara budaya, melainkan juga pesta rakyat yang penuh kehangatan.
Rangkaian Acara dalam Saparan Bekakak
Perayaan Saparan Bekakak biasanya diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan boneka bekakak yang akan “disembelih” sebagai simbol pengorbanan. Acara ini berlangsung meriah, diiringi kesenian tradisional seperti gamelan, wayang, dan tari-tarian.
Masyarakat sekitar juga berbondong-bondong membawa sesaji hasil bumi untuk didoakan bersama. Ritual puncaknya adalah penyembelihan bekakak di area tertentu yang dipercaya memiliki nilai spiritual tinggi.
Makna Filosofis Saparan Bekakak
Di balik kemeriahannya, tradisi ini menyimpan makna filosofi yang dalam. Boneka bekakak yang disembelih melambangkan pengorbanan, kesederhanaan, dan rasa ikhlas.
Masyarakat percaya bahwa dengan melaksanakan tradisi ini, mereka akan mendapatkan keberkahan, keselamatan, serta dijauhkan dari mara bahaya. Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga sekaligus menjaga kearifan lokal.
Kuliner Khas dalam Perayaan Saparan Bekakak
Tidak bisa dipisahkan dari suasana tradisi, kuliner khas Bantul selalu hadir dalam perayaan ini. Para pengunjung bisa menikmati:
- Geplak Bantul – manisan kelapa dengan rasa manis legit.
- Jenang Gempol – makanan berbahan dasar tepung beras dan santan.
- Sate Klathak – sate kambing khas Bantul yang hanya dibumbui garam sederhana.
- Wedang Uwuh – minuman rempah hangat khas Imogiri.
Hidangan ini membuat suasana tradisi semakin meriah, sekaligus memperkenalkan kuliner khas Jogja kepada wisatawan.
Warisan Budaya yang Patut Dilestarikan
Sebagai salah satu upacara adat yang masih bertahan hingga kini, Tradisi Bekakak di Bantul adalah warisan budaya yang bukan hanya layak untuk disaksikan, tetapi juga patut dilestarikan.
Kehadirannya menjadi pengingat akan pentingnya rasa syukur, solidaritas, dan penghormatan terhadap leluhur. Bagi wisatawan, tradisi ini adalah pengalaman unik yang menggabungkan budaya, spiritualitas, dan kuliner khas Jogja dalam satu momen berkesan.





