UMKM Yogyakarta Diminta Seimbangkan Inovasi Penjualan Digital dan Konvensional

UMKM Yogyakarta
UMKM Yogyakarta

jogjakeren.com – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diimbau menyeimbangkan inovasi penjualan melalui platform digital dan metode konvensional.

Imbauan ini disampaikan oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY, Senin (20/9/2025), saat acara peningkatan kapasitas usaha, sebagai strategi kunci untuk memaksimalkan jangkauan pasar.

Pentingnya Adaptasi Digital Tanpa Melupakan Fisik

Dinas Koperasi dan UKM DIY menekankan pentingnya adaptasi digital bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar tanpa harus melupakan penjualan fisik (offline) yang masih memiliki peran vital.

Read More
UMKM Yogyakarta
UMKM Yogyakarta

Kepala Bidang Usaha Mikro DInkop UKM DIY, Tatik Ratnawati, menjelaskan bahwa era saat ini, pelaku UMKM tidak lagi bisa mengandalkan hanya satu saluran penjualan untuk menjamin stabilitas pendapatan bisnis mereka.

Penjualan secara online terbukti mampu memberikan jaringan yang lebih luas dan menjangkau pasar yang lebih jauh lebih merambah, bahkan hingga potensi ekspor global.

Tatik secara tegas menyatakan bahwa pemasaran ganda ini akan melindungi UMKM dari risiko kegagalan satu platform dan membuka peluang pelanggan baru dari segmen yang berbeda.

Namun, Tatik mengingatkan bahwa interaksi offline, seperti pameran dan took fisik, tetap krusial untuk membangun kepercayaan merek, mempertahankan loyalitas pelanggan, dan memanfaatkan karakteristik Yogyakarta sebagai destinasi wisata budaya dan kuliner yang padat. Oleh karena itu, keseimbangan strategis menjadi kunci keberhasilan.

Peningkatan Kapasitas dan Kolaborasi Lintas Platform

Untuk mewujudkan keseimbangan tersebut, pemerintah daerah aktif memberikan kegiatan pelatihan upgrade skill serta mendorong kolaborasi kuat dengan berbagai platform e-commerce dan pihak ketiga.

Dinkop UKM DIY telah menyelenggarakan program pelatihan yang fokus pada optimasi performa e-commerce, strategi memperluas penjualan lewat media sosial yang efektif, hingga cara cerdas mengatur cashflow digital secara profesional. Pelatihan ini juga menyentuh aspek penting lain, yaitu standarisasi produk agar mampu bersaing baik di loka pasar digital maupun pameran internasional.

Melalui sinergi bersama platform besar, seperti yang pernah dilakukan dengan Tokopedia dan TikTok, pelaku UMKM dibekali pengetahuan dan keterampilan baru yang sangat dibutuhkan di era persaingan ketat.

Upaya ini bukan hanya sekedar mengikuti tren sesaat, melainkan sebuah strategi fundamental untuk memastikan UMKM lokal dapat naik kelas  dan stabil menghadapi gejolak ekonomi, dengan memanfaatkan saluran distribusi yang lebih ringan dari segi biaya operasional.

Tantangan SDM dan Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Meskipun digitalisasi menawarkan peluang besar, tantangan utama yang dihadapi UMKM di DIY adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan kurangnya inovasi berkelanjutan dalam promosi produk.

Tatik Ratnawati mengakui bahwa masih banyak pelaku usaha yang belum sepenuhnya menguasai literasi digital, bahkan ada kesulitan dalam berinvestasi di infrastruktur seperti pegawai dan akses internet yang stabil.

Kondisi ini seringkali menghambat laju pertumbuhan mereka, pemerintah daerah berjanji akan terus memberikan subsidi dan pendampingan khusus untuk mengatasi masalah akses permodalan dan infrastruktur digital yang masih menjadi kendala besar.

Namun, dengan adanya inovasi program digital dari pemerintah daerah “Sibakul Jogja” dan dukungan pameran offline  yang massif, potensi ekonomi daerah diproyeksikan akan meningkat secara signifikan serta menarik lebih banyak investor dan perhatian media.

Pemerintah Daerah DIY optimistis bahwa dengan strategi bauran pemasaran yang tepat, UMKM lokal akan semakin merambah pasar regional, nasional, dan bahkan internasional di masa depan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *