Upacara Adat Jawa yang Masih Lestari Tradisi Turun-Temurun yang Tak Lekang oleh Zaman

Upacara Adat Jawa
Upacara Adat Jawa

jogjakeren.com – Upacara adat Jawa yang masih lestari menjadi bukti nyata bahwa budaya Jawa bukan sekadar sejarah, melainkan warisan hidup yang terus dijaga dan dijalankan hingga hari ini. Di tengah derasnya modernisasi dan pengaruh budaya luar, masyarakat Jawa tetap menjaga ritual-ritual sakral yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan filosofis yang dalam.

Upacara adat Jawa yang masih lestari tidak hanya dilaksanakan di lingkungan keraton atau komunitas adat saja, tetapi juga menyatu dalam kehidupan masyarakat pedesaan hingga kota. Upacara-upacara tersebut bukan sekadar peristiwa simbolis, melainkan bentuk ungkapan syukur, doa keselamatan, dan penghormatan terhadap leluhur dan alam semesta.

Upacara Adat Jawa
Upacara Adat Jawa

Upacara adat Jawa yang masih lestari memiliki peran penting dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Banyak dari upacara ini yang dilakukan berdasarkan hitungan kalender Jawa, menggunakan bahasa dan busana tradisional, serta melibatkan perangkat adat seperti gamelan, sesajen, dan tarian.

Read More

1. Sekaten: Merayakan Kelahiran Nabi dengan Nuansa Keraton

Salah satu upacara adat paling terkenal di Yogyakarta dan Surakarta adalah Sekaten, yang dilaksanakan setiap bulan Maulud (Rabiul Awal) untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sekaten merupakan perpaduan antara dakwah Islam dan budaya Jawa, yang dimulai sejak zaman Wali Songo.

Ciri khas dari upacara ini adalah ditampilkannya dua perangkat gamelan pusaka: Gamelan Sekaten. Rangkaian upacara juga mencakup pasar malam rakyat dan puncaknya adalah Grebeg Maulud, yaitu kirab gunungan hasil bumi dari keraton menuju Masjid Agung yang kemudian diperebutkan oleh masyarakat sebagai simbol berkah.

2. Nyadran: Wujud Rasa Syukur dan Penghormatan Leluhur

Nyadran adalah tradisi ziarah kubur yang dilaksanakan menjelang bulan Ramadan. Masyarakat akan membersihkan makam leluhur, membawa makanan, dan berdoa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada arwah keluarga. Tradisi ini dilengkapi dengan makan bersama atau kenduri di lokasi pemakaman.

Meski terkesan sederhana, Nyadran memiliki makna spiritual yang dalam. Ia mengajarkan nilai nguri-uri kabudayan (melestarikan budaya), gotong royong, dan rasa hormat terhadap leluhur. Hingga kini, Nyadran masih dijalankan secara turun-temurun di berbagai daerah Jawa seperti Magelang, Klaten, dan Gunungkidul.

3. Labuhan: Mengirim Persembahan ke Laut dan Gunung

Upacara adat Jawa yang masih lestari juga tampak dalam tradisi Labuhan, yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Labuhan merupakan prosesi persembahan kepada penguasa alam seperti laut (Kanjeng Ratu Kidul) dan gunung (Kyai Sapu Jagad) sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keseimbangan semesta.

Upacara ini biasa dilakukan di beberapa titik sakral seperti Gunung Merapi, Gunung Lawu, Pantai Parangkusumo, dan Pantai Selatan lainnya. Abdi Dalem akan membawa sesajen khusus yang berisi berbagai benda simbolik, lalu dihanyutkan atau dikuburkan sesuai lokasi. Masyarakat sekitar pun turut menyaksikan dengan khidmat, menjadikan Labuhan sebagai peristiwa spiritual sekaligus atraksi budaya.

4. Mitoni dan Tedhak Siten: Tradisi Kehidupan Sejak Dini

Budaya Jawa memiliki serangkaian upacara yang mengiringi siklus hidup manusia. Mitoni (tingkeban) dilakukan saat kehamilan usia tujuh bulan untuk mendoakan keselamatan ibu dan bayi. Sedangkan Tedhak Siten adalah upacara saat bayi pertama kali menginjak tanah, sebagai simbol kesiapan anak menapaki dunia.

Dalam Mitoni, akan ada siraman air bunga, pemecahan kelapa, dan pembacaan doa. Sementara dalam Tedhak Siten, anak akan berjalan di atas tangga dari tebu wulung, menginjak tanah, dan masuk ke dalam kurungan ayam yang berisi berbagai benda pilihan—sebagai lambang potensi masa depan.

5. Bersih Desa: Doa Kolektif untuk Keselamatan Kampung

Bersih Desa atau Ruwahan adalah upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat desa untuk membersihkan secara spiritual kampung halaman mereka. Ritual ini melibatkan kirab pusaka, sesaji, dan pertunjukan kesenian tradisional seperti wayang kulit atau kuda lumping.

Inti dari upacara ini adalah ungkapan rasa syukur atas hasil panen, permohonan keselamatan, dan harmonisasi antarwarga. Biasanya dilakukan di balai desa atau tempat yang dianggap keramat seperti sendang, punden, atau pohon tua.

6. Upacara Adat sebagai Penjaga Identitas Budaya

Melestarikan upacara adat Jawa yang masih lestari berarti menjaga jati diri budaya yang telah diwariskan sejak zaman kerajaan. Di era modern ini, banyak upacara yang mulai dikemas secara lebih terbuka dan inklusif, tanpa kehilangan esensi aslinya. Beberapa komunitas bahkan mulai mendokumentasikan ritual-ritual tersebut secara digital agar dapat diakses generasi mendatang.

Peran pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat sangat penting dalam memastikan bahwa upacara-upacara ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi tetap menjadi tuntunan nilai kehidupan yang relevan.

7. Tradisi yang Hidup di Tengah Zaman yang Bergerak Cepat

Meski zaman terus berubah, upacara adat Jawa yang masih lestari menunjukkan bahwa budaya dapat beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Justru di tengah dunia yang serba cepat dan instan, upacara adat menjadi penyeimbang spiritual dan sosial yang mengingatkan manusia pada akar dan nilai-nilai luhur.

Melalui pelestarian upacara adat, kita tidak hanya menjaga simbol, tapi juga menanamkan rasa cinta terhadap budaya sendiri kepada generasi muda—agar tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *