Jogjakeren.com – Sejak zaman dahulu, wanita Asia, terutama di Jepang dan Korea, telah memanfaatkan air cucian beras sebagai rahasia kecantikan. Mereka mengklaim bahwa cairan keruh ini dapat membuat kulit lebih cerah, halus, dan bercahaya. Namun, di tengah gempuran produk skincare modern, benarkah air bekas mencuci beras ini masih relevan dan efektif?
Menurut Dr. Arini Astasari, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin, air beras memang mengandung beberapa nutrisi yang berpotensi bermanfaat bagi kulit. “Di dalamnya terkandung inositol, asam ferulat, dan vitamin B kompleks,” jelasnya. Inositol dikenal mampu merangsang pertumbuhan sel kulit baru dan memperbaiki kerusakan, sedangkan asam ferulat berfungsi sebagai antioksidan yang melawan radikal bebas. Vitamin B kompleks, khususnya vitamin B3 (niacinamide), juga dikenal efektif untuk mencerahkan kulit dan meredakan peradangan.
Namun, Dr. Arini menekankan bahwa efeknya tidak seinstan dan seefektif produk skincare yang diformulasikan secara khusus. “Kadar nutrisi dalam air cucian beras sangat rendah dan tidak stabil. Proses fermentasi atau penambahan bahan lain untuk meningkatkan konsentrasi dan stabilitasnya tidak bisa dilakukan sembarangan di rumah,” ujarnya. Penggunaan air beras secara langsung juga berisiko, terutama jika kebersihan beras dan wadah tidak terjamin. “Ada kemungkinan kontaminasi bakteri atau sisa pestisida yang dapat memicu iritasi dan masalah kulit lainnya,” tambahnya.
Meski demikian, banyak testimoni pribadi yang membuktikan manfaatnya. Beberapa pengguna melaporkan kulitnya terasa lebih lembut dan kenyal setelah menggunakan masker atau toner dari air cucian beras yang difermentasi.
Dr. Arini menyarankan agar pengguna berhati-hati dan melakukan tes tempel (patch test) terlebih dahulu di area kecil kulit sebelum mengaplikasikannya ke seluruh wajah. “Jika tidak ada reaksi negatif, boleh saja digunakan sebagai pelengkap, tapi jangan jadikan sebagai satu-satunya andalan. Selalu dahulukan produk yang telah teruji secara klinis dan sesuai dengan jenis kulit Anda,” pesannya.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa perawatan kulit yang paling optimal adalah dengan menjaga gaya hidup sehat. Asupan nutrisi seimbang, hidrasi cukup, tidur berkualitas, dan perlindungan dari sinar matahari jauh lebih fundamental daripada sekadar mengandalkan ramuan alami yang belum teruji secara klinis.




