Berani Mengakui Kesalahan

Kesalahan
Ilustrasi (Foto: mojok.co)

Jogjakeren – Allah SWT menciptakan sesuatu di dunia ini dalam keadaan berpasangan, antara lain ada benar ada salah. Termasuk pula tindakan setiap manusia dalam menjalankan kegiatan sehari-hari pasti ada yang benar dan salah. Dalam hal tindakan benar, semua manusia pasti mau mengakui bahwa hal tersebut dirinya yang melakukan. Tetapi apabila melakukan kesalahan, hanya sedikit yang mau mengakuinya.

Dalam ilmu psikologi, dikenal istilah defense mechanism, yakni strategi mempertahankan diri yang dilakukan oleh ego untuk lepas dari kecemasan atau dari sesuatu yang tidak mengenakkan.

Read More

Bentuknya ada beberapa macam, yakni rasionalisasi (mempertahankan diri dengan cara mencari-cari alasan yang masuk akal untuk pembenaran), represi (menghindari keadaan yang menyakitkan dengan cara menekannya ke dalam diri sehingga seolah-olah tidak ada masalah), dan proyeksi (strategi mempertahankan diri dengan cara menyalahkan orang lain sebagai penyebab dari permasalahan yang dialami).

Berdasarkan teori diatas, menunjukkan bahwa setiap orang akan berusaha menghindar dari kesalahannya sendiri. Padahal langkah tersebut seharusnya tidak perlu dilakukan, mengingat tindakan kesalaham juga sudah ditulis dalam qodar Allah SWT.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW dalam HR Tirmidzi 2499, Shahih at-Targhib 3139 yang berbunyi : “Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”.

Sebagai umat Islam yang juga termasuk anak turun Nabi Adam AS, otomatis tidak akan terhindar dari kesalahan itu. Memang pada kenyataannya, mengakui kesalahan tidak mudah dan bahkan sebagian merasa malu. Harus diyakini bahwa melakukan kesalahan tidak akan merusak hidup seseorang, asalkan mau memperbaiki keadaan dengan bertanggung jawab.

Alangkah indahnya apabila sikap seperti ini dapat dilakukan oleh setiap manusia yang ada di dunia termasuk Indonesia, mulai dari warga biasa, para tokoh masyarakat dan tokoh agama sampai para pejabat negara. Mereka menjadikan kesalahan sebagai koreksi untuk terus belajar memperbaiki diri sebagai manusia yang berakal budi.

Berani mengakui kesalahan termasuk perbuatan yang mulia, karena dengan mengakui kesalahan berarti menyatakan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang bisa keliru. Karena yang tidak pernah salah hanyalah Allah SWT.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.