jogjakeren.com – Bola bulu tangkis disebut dengan kok atau shuttlecock, sampai saat ini pasti Anda sudah sangat familiar dengan hal tersebut.
Tidak heran, karena istilah shuttlecock itu sering dipakai pada badminton yang merupakan salah satu olahraga terfavorit di Indonesia. Padahal berdasarkan catatan sejarah, shuttlecock bukanlah nama pertama untuk benda yang dimaksud tersebut.

Sejarah Bola Bulu Tangkis Disebut dengan Shuttlecock atau Kok
Pada abad ke-16, permainan bulu tangkis atau badminton sudah ada dan menggunakan shuttlecock sebagai bolanya. Rancangan bola tersebut dipopulerkan pertama kali oleh orang tiongkok dan diberi nama “Ti Jian Zhi”.
Sedangkan di India, bola bulu tangkis diberi nama Poona. Kedua istilah itu cukup populer namun belum menjadi nama resmi untuk bola bulu tangkis.
Barulah pada tahun 1887 ketika permainan bulu tangkis semakin populer, para elit sosial di Inggris mendirikan klub bulu tangkis bernama Bath Badminton Club.
Saat itu juga menandai pembuatan standar pertama peraturan bulu tangkis atau badminton. Termasuk juga penggunaan istilah shuttlecock untuk nama bola dalam permainan itu.
Standar Shuttlecock
Bola ini disebut dengan nama shuttlecock resmi mulai tahun 1887. Pada saat itu juga ditetapkan standar pertama permainan badminton, mulai dari lapangan, aturan permainan, hingga bentuk dan spesifikasi shuttlecock. Shuttlecock bulu tangkis ini memang tidak sesederhana tumpukan bulu yang ditancapkan pada setengahnya.
Baca Juga : Bola Sepakbola Lebih dari Sekedar Alat Permainan
Shuttlecock harus mengikuti standar, spesifikasi, dan karakteristik tertentu. Spesifikasi tersebut antara lain:
- Bulunya harus berjumlah 16 helai
- Bulu harus sama panjang sekitar 6,2 cm sampai dengan 7 cm
- Bulu ditancapkan pada alas berbentuk setengah bola dengan diameter standar 2,5 cm sampai 2,8 cm
- Semua bulu harus menyatu dan terikat dengan kuat serta ujungnya membentuk lingkaran berdiameter antara 5,8 cm sampai 6,8 cm
- Total berat keseluruhan harus sekitar 4,47 gram sampai 5,5 gram
Di Indonesia, bola tersebut disebut dengan kok karena berasal dari penyebutan cock saja tanpa shuttle, tentu saja penggunaan kata serapan tersebut untuk mempersingkat pengucapan. Saat ini, istilah kok sudah masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring sebagai sebuah lema.





