Baru-baru ini saya membaca buku berjudul “ Sebelum Harimu Bersamanya “ yang ditulis oleh Lya Fahmi. Buku ini merupakan rangkuman yang padat dan bergizi untuk dibaca, terutama oleh masyarakat yang tengah mempersiapkan pernikahan. Alih- alih menyiapkan segenap printilan pernikahan, ada poin penting yang harus Anda tunaikan terlebih dahulu sebelum Anda memutuskan menikah.
Salah satu hal yang perlu disiapkan adalah kualitas diri untuk bersedia melalui pengalaman apapun dalam lembaga pernikahan. Hal penting kedua barulah kualitas calon pasangan kita. Dijelaskan pada buku tersebut bahwa dalam suatu pernikahan ada berbagai kemungkinan yang terjadi. Menikah bukanlah satu-satunya jalan pelarian seseorang untuk keluar dari permasalahan.
“Ahh sudah capek revisian terus, nikah ajalah.“
“Nikah enak kayaknya, makan ada yang nemenin, kemana – mana ada yang nganterin.”
Sekilas pemikiran – pemikiran tersebut memang terbukti menyenangkan. Dan hal itupun saya akui benar – benar menyenangkan. Namun, itu hanya satu per sekian dari kehidupan dalam suatu pernikahan. Ada banyak isu yang tersaji di dalam pernikahan. Mulai dari persoalan yang menyenangkan hingga konflik yang mungkin menyebalkan untuk kita terima. Semuanya telah ditulis oleh Lya Fahmi dengan sangat gamblang.
Marriage Mentality
Makna suatu pernikahan pada setiap kacamata orang berbeda-beda. Ada yang memaknai pernikahan agar menghalalkan kita pada pasangan kita, atau pernikahan benar – benar untuk menyempurnakan separuh agama. Kesemuanya itu tidaklah salah, terbukti itu menjadi salah satunya yang terjadi dalam mengarungi kapal rumah tangga. Lalu apa makna yang paling ideal dalam sebuah pernikahan ?
Menikah memang merupakan sebuah ibadah. Sama dengan ibadah yang lain, menikah juga harus memiliki tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut seseorang haruslah memiliki bekal persiapan, visi dan misi. Visi dan misi itu harus ditempuh dengan penuh tanggung jawab. Saat seseorang dapat menyadari akan sebuah tanggung jawab dan perubahan status yang besar dalam sebuah pernikahan, saat itulah dia memiliki kesiapan mental dalam suatu pernikahan.
Kualitas Diri yang Harus Diperbaiki
Belakangan isu quarter life crisis yang membebani anak muda menjadi sebuah tren. Quarter life crisis merupakan kondisi seorang anak muda yang bingung dan cemas dalam menjalani kehidupannya kedepan. Alih – alih ini menjadi perasaan yang menyebalkan, jika diselami lebih lanjut, quarter life crisis dapat menjadi ajang untuk berkenalan dengan diri lebih baik lagi.
Sebelum Anda hidup dengan pasangan Anda, Anda harus kenal dengan diri sendiri dulu. Konsep kenal disini bermaksud memahami diri agar bisa menguasai dan berdamai pada apa yang terjadi dalam diri kita. Bagian ini pula menjadi bentuk latihan untuk mengasah kemampuan mengendalikan emosi dengan baik. Jika Anda sudah merasa terampil, besar kemungkinan Anda akan dimudahkan dalam meregulasi emosi saat berkonflik dalam sebuah pernikahan. Konflik dalam pernikahan bukanlah persoalan yang harus dihindari. Ini menjadi bagian proses belajar kita dalam memahami dan merespon kondisi pernikahan dengan baik.
Komunikasi dengan Pasangan
Tahapan komunikasi dengan pasangan sebaiknya dimulai dari sebelum menjalani sebuah pernikahan. Komunikasi yang tuntas dan berkualitas menjadi parameter untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Dalam urusan harapan, berbagi peran, bahkan memiliki anak juga harus diperbincangkan terlebih dahulu. Hal tersebut sudah menjadi nas, bahwa manusia setidaknya merencanakan terlebih dahulu, takdir Tuhan yang lebih tahu.
Komunikasi dengan pasangan yang hangat tidak boleh hanya terjadi pada saat sebelum pernikahan. Akan tetapi dalam menjalani kehidupan rumah tangga ini wajib dilangsungkan terus dengan komunikasi dua arah. Komunikasi menjadi nilai dan kunci utama dalam keharmonisan berkeluarga. Komunikasi yang terus terang, insyaAllah menjadi titik pembuka jalan suatu permasalahan. Maka dengan ini, komunikasi tidak boleh disepelekan.
Berbagi Peran dengan Pasangan itu Indah
Ditengah isu patriarki yang menerpa, menjadi suami dan istri saling berbagi peran itu memang indah. Tak selamanya suami memerankan perannya menjadi seorang pencari nafkah, atau istri wajib mengurusi pekerjaan domestik sepenuhnya. Tak terbayang, jika salah satu jatuh sakit, lantas bagaimana penyelesaiannya ?
Berbagi peran antar pasangan menjadi pilihan yang menyenangkan. Agar rumah tangga bisa berjalan dengan baik, maka ada prinsip atau aturan yang harus diperbincangkan oleh setiap pasangan. Hal itu termasuk pula dalam pengasuhan anak. Ingat, semua bisa terkelola dengan komunikasi yang erat untuk mencapai keharmonisan dan stabilitas dalam berumah tangga.
Bagi Anda yang hendak menikah, persiapkanlah diri dengan usaha yang terbaik. Mungkin poin – poin di atas, yang termaktub dalam buku “Sebelum Harimu Bersamanya” bisa menjadi acuan dalam menyiapkan sebuah pernikahan. Sadarilah, pernikahan bukanlah sebuah pelarian permasalahan. Namun pernikahan merupakan pintu gerbang dari segala kemungkinan, entah penderitaan, kebahagiaan yang terjadi secara bergantian.





