Jogjakeren.com – November 1936, adanya laporan penemuan arca gajah oleh warga setempat di sebelah selatan Dusun Gebang, Yogyakarta membuat Dinas Purbakala memberikan titik perhatiannya. Setelah penyelidikan, arca tersebut merupakan arca Ganesha yang begitu indah dan tentunya tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari sebuah bangunan. Tanpa pernah diduga, langkah kecil ini kemudian mewujudkan kembali sebuah candi kecil yang diperkirakan lebih tua dari candi-candi besar lainnya. Kendati kecil, begitu besar keistimewaan-keistimewaan yang ada padanya.
Candi Gebang terletak di Dusun Gebang, Padukuhan Jetis, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh karena itu, toponimi Dusun Gebang pun melekat pada candi ini. Dusun yang diperkirakan telah ada sejak awal abad ke-18 ini dulunya banyak ditumbuhi pohon gebang. Pohon gebang yang merupakan media tulis pada zamannya, menjadi petunjuk bahwa wilayah Dusun Gebang dan sekitarnya ini dulunya adalah sebuah tempat pusat ilmu pengetahuan yang maju.
Candi Gebang tergolong sebagai candi tua yang ditandai dengan minimnya relief yang ditemukan pada badan candi dan dipercaya sebagai salah satu candi Siwa tertua di Mataram Kuno. Candi ini didirikan pada masa Mataram Kuno oleh Maha Raja Sri Sanjaya (abad 7–10). Sayangnya, bencana alam besar berupa letusan Gunung Merapi pada 928 M menghancurkan kejayaan Mataram Kuno dan sekaligus mengubur peradabannya, tak terkecuali Candi Gebang.
Walaupun Dinas Purbakala memulai penyelidikan terhadap Candi Gebang pada tahun 1936, warga setempat percaya bahwa bebatuan (yang menjadi cikal bakal ditemukannya kembali Candi Gebang) telah ditemukan sejak tahun 1817. Beberapa warga setempat yang saat itu belum memahami bahwa bebatuan tersebut adalah bagian dari sebuah candi, banyak membawa pulang potongan bebatuan yang sudah halus. Mereka memanfaatkan bebatuan tersebut untuk mengganjel bagian bawah pintu dalam rumah (yang disebut patangaring dalam bahasa Jawa). Oleh karena itu, bebatuan-bebatuan tersebut akhirnya diminta kembali oleh Dinas Purbakala untuk disusun menjadi Candi Gebang yang seperti sekarang ini.

Kisah Penemuan Candi Gebang Oleh Warga Setempat
Mbah Darmo (73 tahun), warga dan salah satu tetua Dusun Gebang, menceritakan bahwa di tahun 1817 itu, Mbah Hardjo Sedjono (mertua Mbah Darmo) dan dua temannya sedang membajak lahan singkong berukuran satu hektar. Lahan tersebut hendak dibajak dengan harapan singkong yang ditanam akan tumbuh dengan subur walaupun di musim kemarau.
Tidak disangka-sangka, muncul lah bebatuan. Awalnya, tidak terpikir bahwa bebatuan tersebut adalah bagian dari sebuah candi. Namun, saat kemudian muncul arca Ganesha, saat itu lah ketiga orang tersebut sadar bahwa terpendam peninggalan purbakala di tanah mereka. Laporan kepada Bapak Dukuh Jetis, kelurahan, dan seterusnya pun dilakukan. Kemudian, penyusunan dan pemugaran Candi Gebang dipimpin oleh V.R. van Romondt, yang tulisannya mengenai penyusunan kembali Candi Gebang masih bisa kita baca hingga kini (“Bangunan-Bangunan Kuno, Penggalian, dan Pemugaran”, AMERTA 1).
Arsitektur Khas Siwa (Hindu) Melekat Pada Candi Gebang
Candi Gebang merupakan candi Siwa yang diperuntukkan memuja Dewa Siwa. Hal ini dapat dilihat dari arsitektur Candi Gebang yang jelas menunjukkan bahwa candi ini merupakan candi Hindu tempat sembahyang umat Hindu. Secara vertikal, bangunan candi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap candi. Dimulai dari bawah, kaki candi melambangkan Bhurloka, yaitu alam bawah, tempat manusia hidup. Bagian tubuh candi melambangkan Bhuwahloka, dunia tengah yang merupakan dunia para Dewa dan roh suci. Terakhir, atap candi melambangkan Swahloka, yaitu dunia atas atau dunia Tuhan (dunia kesucian dewata).
Konsep candi Siwa ini disebut dengan konsep triloka. Bahkan, Candi Gebang yang menghadap ke arah timur (matahari terbit) menunjukkan pemujaan terhadap Hyang Siwa sebagai Mahadewa. Tak hanya itu, di-lenggah-kan pula lingga dan yoni beserta arca-arca “Keluarga Siwa” yang merupakan aspek ke-Tuhan-an Dewa Siwa. Arca Maha Rsi Agastya diletakkan di sebelah selatan, arca Ganesha di sebelah barat, dan arca Durga di sebelah utara candi.
Bli Putu, tokoh agama Hindu di Wedomartani yang aktif melakukan sembahyang di Candi Gebang, mengungkapkan bahwa seluruh arca tersebut merupakan pengingat dari para leluhur. Umat Hindu bersembahyang dengan memberi penghormatan terhadap ketiga arca tersebut searah jarum jam dari timur candi (arah hadapnya).
Agastya merupakan Maha Rsi yang membawa ajaran Siwaisme dari dataran India ke Nusantara. Maha Rsi Agastya adalah manifestasi sosok Siwa sebagai guru. Tanpa guru, kita tidak akan bisa hidup dengan baik. Ganesha merupakan manifestasi Tuhan yang cerdas. Leluhur berpesan bahwa ketika memuja Tuhan, bersyukurlah pula akan pengetahuan dan teknologi. Dengan adanya pengetahuan, manusia bisa mencipta. Dengan mencipta akan ada kemajuan. Dan bila ada kemajuan, ada kesejahteraan dan kebahagiaan. Tanpa pengetahuan hidup kita akan awidya (a- “tidak”, widya “cerah”).

Terakhir, Dewi Durga atau Dewi Parwati yang dikenal sebagai ibunya alam semesta merupakan aspek feminin dari Siwa. Kita diingatkan bahwa kita tidak berarti apa-apa tanpa seorang ibu yang maha pemurah. Dalam wawancaranya Bli Putu menegaskan, “Leluhur kita begitu luar biasa dalam memahami bagaimana menempatkan candi. Semuanya diletakkan sedemikian rupa oleh para leluhur sehingga tervibrasi kesucian yang luar biasa”.
Bli Putu bersama beberapa umat Hindu lainnya aktif melakukan sembahyang di Candi Gebang tiap hari Kliwon. Bahkan, beberapa di antaranya berdomisili di luar Wedomartani, seperti Kalasan dan Godean. Kecintaan yang sama akan peninggalan para leluhur dan kemauan untuk menjaga kesucian candi membawa mereka rutin melakukan sembahyang bersama.
Selain kekayaan religiositasnya, Candi Gebang tentu juga memiliki kekayaan badaniah. Salah satu cerita yang beredar di warga setempat adalah ditemukannya harta karun berupa kendil kuning bagai tembaga di area candi. Mujimin (64 tahun), penemu harta karun tersebut sekaligus Ketua RW 44 Wedomartani saat ini, menceritakan bahwa saat itu ia bekerja sebagai pegawai kontrakan Dinas Kebersihan Lingkungan Candi yang bertugas di Candi Gebang (1985–1987). Saat sedang berkeliling, ia menemukan sebuah benda seperti kendil. Atas perintah seniornya, dibawalah kendil itu ke kantor Dinas Purbakala.
Berikutnya, ada pula kisah pencurian kepala arca Mahakala. Slamet, warga Gebang yang saat itu bertugas sebagai penjaga candi, menceritakan bahwa Jumat sore (tahun 1979) terjadi pencurian kepala arca Mahakala yang terletak di depan pintu masuk candi utama. Secepatnya, ia melaporkan ke kepala dukuh dan dibawa ke instansi terkait. Dengan berbagai upaya, pencuri berhasil ditemukan dan kepala arca didapatkan kembali. Namun, kepala arca Mahakala tersebut tidak dikembalikan di Candi Gebang, tetapi disimpan di Kantor Dinas Purbakala. Oleh karena itu, dapat kita lihat bahwa arca Mahakala di Candi Gebang tidak memiliki kepala.
Oleh karena seluruh kekayaan-kekayaan Candi Gebang ini, tidak dipungkiri bahwa Ngarso Dalem ke-9 yang saat itu masih berstatus Jaka Kumala-kala pernah mengunjungi Candi Gebang secara langsung. Dan tahun 1980 hingga 1990-an, begitu banyak wisatawan mancanegara yang mengunjungi Candi Gebang naik andong atau becak sambil berkunjung ke rumah-rumah warga setempat.
Demikianlah sekeping histori, stori, dan substansi Candi Gebang yang mampu kami ceritakan berdasarkan cerita masyarakat-masyarakat setempat. Candi Gebang yang hanya berbentuk persegi dengan ukuran 5,25 meter x 5,25 meter ternyata menyimpan begitu banyak histori dan stori. Kecintaan, kemauan, dan rasa kepemilikan akan peninggalan budaya yang luar biasa ini tentunya wajib terus dipupuk, bahkan ditumbuhkan. Marilah kita jaga seluruh rasa tersebut agar Candi Gebang terus memvibrasikan hal-hal positif. (/rls)
Oleh Mahasiswa KKN-PPM UGM 2023 Periode IV
Unit YO-143, Ngemplak, Sleman
Subunit Jetis (Gebang)





