Jogjakeren.com – Menurut tokoh filsafat terkenal, Plato yang mendefinisikan filsafat adalah pengetahuan yang berminat untuk mencapai pada kebenaran asli. Dalam pewayangan, Lakon Petruk pun diam-diam berfilsafat.
Petruk menggunakan konsep “yen wedi aja wani-wani, yen wani aja wedi-wedi“. Artinya, jika merasa takut jangan mencoba berbuat, jika berani kenapa takut. Perbuatan Petruk selalu dilandasi atas filosofi itu, demi aman-aman saja dalam berkiprah, mewarnai perilaku sehari-hari, terlebih dalam memimpin.
Dalam segala lakon di pewayangan, Petruk selalu hadir penuh keyakinan diri. Dia ikut membela kebenaran dan menegakkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan Petruk dia wujudkan dalam memperingatkan para satria jika hendak menyimpang dari garis kehidupan.
Menurut Endraswara dalam buku Petruk Dadi Ratu, lakon-lakon wayang seperti Petruk amat kaya nilai filosofinya. Ajaran-ajaran Petruk memang khas Jawa, sekaligus memuat kebijaksanaan eksistensi manusia. Adapun filsafat Petruk itu dapat ditemukan di tiga lapisan.
Tiga Lapisan Filsafat Petruk:
- Dalam ajaran-ajaran atau wejangan eksplisit,
- Dalam karakter dan kelakuan masing-masing sosok,
- Dalam keyakinan atau pandangan-pandangan yang mendasari dua unsur itu.
Yang perlu kalian ketahui seksama adalah keyakinan-keyakinan Petruk dalam bergerak. Misalnya dia memegang teguh konteks “becik ketitik ala ketara“. Artinya, orang yang tindakannya emas akan kelihatan bagusnya. Sebaliknya, jika tindakan itu seperti kotoran kerbau (tlethong) maka akan terlihat juga keburukannya.
Di jagat wayang Petruk tidak ada pengampunan dan rekonsiliasi serta darah ditumpahkan tanpa ragu-ragu. Lewat perjalanan Petruk memangku jabatan, banyak pertanyaan tentang makna hidup. Tentang apa hidup, tentang kekuatan mana untuk tetap hidup, tentang baik dan jahat, tentang benar dan salah.
Tetapi, tidak seluruh filsafat wayang itu luhur. Bandingkan waktu Petruk Dadi Ratu, ada dalang yang mengomentari: Katone kaya ksatriya, ambune kaya wedhus. Maksudnya jelas terkait dengan tokoh Petruk yang begitu dikagumi dan dicintai, salah kalau berani menjadi raja. Dia Punakawan makanya amat terhormat, tetapi abdi berani menjadi raja dan berani mau menjadi ksatria itu ridiculous (tidak masuk akal). Abdi harus tetap di tempatnya.
Ajarannya jelas bahwa ksatria iya ksatria, abdi iya abdi, masing-masing terhormat, tetapi jangan sampai abdi berani masuk ke kelas-kelas atas. Yang menarik bahwa sampai saat ini, politik dinasti itu masih ada sehingga yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin.
Jika dihubungkan dengan lakon Petruk Dadi Ratu, Petruk adalah sosok yang berani, tidak sekedar menjadi abdi. Jika abdi dilarang menjadi raja, kapan ada keadilan dan kesetaraan. Meski begitu, Petruk selalu menanamkan dalam hati untuk tetap lurus, yang berusaha untuk memayu hayuning bawana. Dia mencoba menciptakan kehidupan yang baik dan harmonis.
Bagi Petruk, “Kawula Iku Tanpa Wates, Ratu Kuwi Anane Mung Winates” maknanya rakyat itu tanpa batas, sedangkan raja itu ada secara terbatas. Artinya, hubungan antara rakyat dan pemimpin itu saling mempengaruhi, pemimpin tidak ada tanpa adanya rakyat. Ini juga sejalan dengan gagasan negara sekarang, negara dianggap tidak ada kalau tidak ada rakyatnya.
Di sini Petruk mengingatkan adanya pembatasan kekuasaan kepada pemimpin, ini seperti adanya konstitusi dalam negara demokrasi. Raja atau pemimpin juga harus mendapatkan pengakuan dari rakyatnya (kawula) dan sebisanya menciptakan suasana harmonis yakni sinergi antara rakyat (kawula) dan pemimpin (ratu) sebagai “Sabaya Mati Sabaya Mukti”.






Filosofi yang bagus