Duka Mendalam Tragedi Kanjuruhan, Anggota DPR: Jangan Sampai Terulang

Kanjuruhan
Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang (Foto: kompas.com)

Jogjakeren.com – Duka mendalam dialami bangsa Indonesia usai tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur yang menewaskan 130 orang termasuk dua aparat kepolisian. Perlu pembenahan dalam olahraga sepak bola, termasuk karakter semua yang terlibat dalam olahraga tersebut.

Hal itu disampaikan Anggota DPR RI Singgih Januratmoko, menanggapi tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia, “Kami ungkapkan duka yang mendalam bagi korban dan keluarganya atas kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Musibah ini menjadi hikmah untuk perbaikan di masa mendatang,” ungkap Singgih.

Ia mengatakan, sepak bola haruslah tetap menjadi hiburan. Bukan palagan yang menampilkan kekerasan, apalagi kuburan. Menurutnya, sportivitas memiliki aspek profesionalitas, yang di dalamnya terdapat karakter amanah dan kejujuran. Sebagai pemain, ia akan amanah dengan perintah pelatih dan kaptennya. Dengan kejujurannya, pemain tidak bisa disuap agar timnya kalah.

Bacaan Lainnya

Sportivitas bukan hanya harus dimiliki oleh para pemain sepak bola, tapi semua unsur yang terlibat di dalamnya. Termasuk suporter jangan sampai tersulut emosi, “Kecintaan kita terhadap tim dan pemain, jangan menjadikan titik panas emosi. Ini hanya permainan yang harus ada kalah dan menang,” ungkapnya.

Menurutnya, jangan sampai kala pemain menang, para suporter memuja, “Sementara saat kalah, dihujat. Bahkan diserang. Ini semua menjadikan sepak bola menjadi tidak masuk akal dan akan terus bermasalah,” ujarnya.

Bila karakter sportivitas dijunjung tinggi, dapat melahirkan kerukunan, bahkan persatuan antarsuporter dan antartim, “Suasana kondusif ini dapat memajukan sepak bola nasional. Bahkan dengan sportivitas itu, bisa menghilangkan praktik suap atau kecurangan dalam dunia sepak bola,” paparnya.

Singgih mengingatkan, emosi berupa amarah bisa berakibat negatif, “Sesuatu yang berlebihan selalu membawa hal yang kurang baik. Fanatik itu boleh, tapi jangan sampai berlebihan, sehingga mendewakan tim dan pemain,” tuturnya.

Menurutnya, pemujaan yang berlebihan itu juga memunculkan sikap permusuhan dan kekerasan antarsuporter, “Sehingga mereka yang beragama pun lupa, saling melukai dan saling menyerang,” kata Singgih.

Ia berharap, tragedi di Stadion Kanjuruhan itu tidak terjadi di masa depan. Ia meminta, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai induk olahraga sepak bola membenahi berbagai masalah, mulai dari prosedur pengaman hingga membina para suporter. Dengan demikian, sepak bola tetap menjadi kebanggaan rakyat Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *