Eksistensi Geplak Bantul, Kuliner Warisan Budaya Takbenda Nasional

Geplak Bantul
Geplak Bantul (Foto: viva.co.id)

Jogjakeren – Salah satu makanan khas dari Bantul, Yogyakarta yaitu geplak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda di Indonesia. Penetapan ini dilakukan pada tanggal 1 Januari 2010 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Makanan manis ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Berbahan dasar dari kelapa parut dan gula membuat geplak disukai masyarakat khususnya Bantul dari dulu sampai sekarang.

Seiring perkembangan zaman, berbagai variasi geplak dimunculkan seperti terdapat rasa vanila, durian, stroberi, nangka, coklat, dan sebagainya. Makanan khas ini telah menjadi buah tangan yang wajib dibeli oleh wisatawan ketika berkunjung ke Bantul.

Read More

Popularitas geplak nampaknya belum menunjukkan titik jemu. Di jalan Malioboro, yang terkenal sebagai pusat wisata Yogyakarta, masih sering dijumpai kuliner berwarna-warni ini. Dilansir dari IDN Times (2020), geplak termasuk dalam 10 oleh-oleh khas Yogyakarta paling enak. Tak disangka, makanan yang menjadi andalan masyarakat pada saat masa paceklik di zaman kolonialisme Belanda ini justru ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda di Indonesia. Eksistensi geplak pun semakin meningkat.

Pada zaman penjajahan Belanda, terdapat enam pabrik gula di Kabupaten Bantul. Sebagian wilayah di Bantul pada saat itu memang kebanyakan ditanami tanaman tebu. Selain itu, wilayah yang berada di tepi pesisir selatan Jawa ini juga sebagai penghasil kelapa sehingga produksi gula dan kelapa melimpah. Adanya bahan baku berupa gula dan kelapa melahirkan makanan yang disebut geplak. Dari zaman kolonialisme hingga sekarang popularitas geplak tidak pernah redup.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *