Sleman, Jogjakeren.com – Film pendek berjudul “Retry” menceritakan seorang anak yang acuh dengan lingkungan, digambarkan dengan senang bermain game, terus-terusan menggunakan plastik sekali pakai dan tidak setuju mengadakan acara less waste dengan mengatakan “ngerepotin pake gituan, ngga penting” dll. Di posisi yang kesal itu, dia tertidur kemudian terbangun di masa depam dimana bencana sampah plastik sudah meraja lela.
Orang-orang sudah makan dan minum sampah plastik, gunung sampah dan dia sangat menyesal keadaannya sudah terlambat. Tiba tiba dia tersadar kembali di masa lalu. Akhirnya sadar bahwa hidup ini tidak seperti main game yang ketika gagal bisa mengulang dari awal. Sejak itu dia peduli dengan sampah untuk mencegah bencana atau kerusakan lingkungan terjadi.
“Dalam menyikapi lingkungan tidak seperti dunia game yang ketika gagal bisa mengulang dari awal. Namun dalam menjaga lingkungan di sekitar kita, kesempatan kita hanya sekali. Ketika bumi sudah rusak karena penggunaan sampah yang sembarangan, maka akan sangat sulit mengembalikan keadaan lingkungan seperti semula. Maka mulailah menjaga lingkungan dari sekarang, sebelum bumi terlanjur rusak. Dimulai dari diri kita,” kata Muhammad Hasan Fatahuddin Noor salah satu penggagas film Retry.
Alumni Teknik Fisika bidang Instrumentasi dan Kontrol serta Energi Baru dan Terbarukan Universitas Gadjah Mada ini bersama dua orang timnya yakni Ajeng Ayu Wulaningtyas dan Farihin Salman Al Farizi yang keduanya masih berstatus mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga angkatan 2021 mengikuti kompetisi Redefining Solutions on Plastic Pollution Towards Integrated Policy and Knowledge atau yang disingkat RESIK Competition 2024. “Pembuatan film ini melibatkan teman-teman yang berbeda kampus dan kesibukan maka perlu benar-benar manajemen waktu untuk merencanakan mulai dari perencanaan, take video, ambil suara, dan proses mengeditnya. Kami juga belum ekspert jadi masih banyak kekurangan, kamera yang kami gunakan pun kami pinjam. Alhamdulillah total orang yang terlibat dalam film 6 orang, dibantu bapak ibu yang bersedia menyediakan tempat untuk pengambilan film,” jelasnya.

Pria asal Balikpapan, Kalimantan Timur ini mengungkapkan keikutsertaannya dalam kompetisi RESIK Competition 2024 karena tema yang diangkat sangat menarik, tema-tema yang diangkat meminta peserta untuk menggali ide kreatif berbagai cara penanganan plastik entah dari cara mengurangi timbulan sampah plastik, pengolahan lebih lanjut bahkan mikroplastik untuk edukasi masyarakat. “Kebetulan Jogja juga sedang marak masalah sampah, jadi ingin sekalian menyampaikan pesan yang harapannya bisa mengedukasi dan menjadi aksi nyata awal kami ngurangin sampah (mulai dari diri kami),” ungkapnya.
Hasan yang juga generasi muda LDII ini berpesan bahwa bumi yang kita tinggali ini cuma satu, ketika gagal menjaga lingkungan maka kita tidak bisa mengulang keadaan dan tidak ada bumi yang lain lagi, “Cegah kerusakan lingkungan dari diri kita sebelum terlanjur lingkungan menjadi rusak. Mari sadar sebelum semuanya terlambat,” pesannya yang sedang tugas mubaligh di PAC LDII Sendangtirto, Berbah, Sleman.
RESIK Competition merupakan bagian dari Kampanye ‘Resik’ yang diluncurkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Dietplastik Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI), Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), dan didukung oleh Kedutaan Besar Kanada di Indonesia. RESIK Competition memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya dalam hal penanganan sampah laut.





